Manusia, Serigala Bertabur Gula

15.32



Manusia menganggap dirinya makhluk paling beradab, paling berilmu, dan paling bisa memahami dunia dibanding makhluk lain. Tapi di balik "pemanis-pemanis" tersebut, pada dasarnya toh kita tetap hewan buas. Seperti yang dikatakan oleh Plautus, dalam buku berjudul Asinaria, bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya;homo homini lupus.

Bahkan Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris pernah berpendapat bahwa kekerasan merupakan state of nature dari manusia, kondisi alaminya. Memang sudah dari sananya manusia cenderung bersifat anarkis. Maka tak mengherankan, bahwa meskipun hukum sudah berlaku, manusia tetap melakukan kekerasan. Contoh nyatanya adalah beberapa kasus yang sedang marak dibahas di Indonesia: dugaan pemukulan Masinton Pasaribu, salah seorang anggota DPR Fraksi PDI-P kepada Dita, asisten pribadinya, dugaan pelecehan seksual Indra Bekti kepsda dua pemuda, dan juga pembunuhan Mirna

Ada ribuan norma yang mengajarkan manusia untuk merasa simpatik, terutama kepada sesamanya. Memupuk simpati diharapkan dapat membuat manusia seperti berkaca saat berinteraksi dengan sesamanya, dan merasakan rasa yang sama dengan yang dialami sesamanya.
Nyatanya, perasaan simpatik ini hanya bekerja di beberapa momen saja. Mungkin kita merasa sedih melihat orang dibunuh. Tertabrak kereta. Dan lain sebagainya, karena ada sisi diri kita yang membayangkan bagaimana apabila kita, yang sama-sama manusia ini, berada di posisinya. Pasti rasanya akan sangat sakit.

Tapi dalam kesempatan lain, biasanya saat kita dikuasai rasa marah, atau sangat menginginkan sesuatu, kita lupa bahwa kita sama-sama manusia. Kita kemudian berpikir bahwa orang lain adalah bagian yang tidak ada hubungannya dengan kita. Ini manusiawi. Terlebih bila kita merasa terancam.

Hanya saja, beberapa kasus di atas, terlebih dua di antaranya, menimpa figur-figur publik yang terlihat keren di layar kaca (keren di sini bukan penilaian wajah, ya). Tentunya kita masih ingat betul saat Masinton begitu kritis ketika membahas kasus Pelindo, seolah seperti sosok dalam badan pemerintahan yang ditunggu rakyat. Juga Indra Bekti yang begitu ceria, punya kehidupan mewah dan sempurna, dan kawan-kawan yang banyak.

Mendengar kasus yang menimpa mereka (yang jelas sangat fatal), seperti bisa diibaratkan memakan kue putih salju tanpa taburan gula. Hambar, biasa saja, dan ternyata, tak ada bedanya dengan manusia lain.

Wajar sih, kalau manusia membaluri dirinya dengan pencitraan yang semanis Gulaku berbungkus-bungkus. Kita kan, hidup bersama dengan orang lain, dan tidak semua orang mau menerima kita sebagaimana adanya diri kita. Apalagi kalau "keapaadaan" itu merugikan buat orang. Tapi lucu saja menyadari bahwa, semua norma, idealisme, aturan, dan apapun yang dibanggakan manusia itu sebetulnya tak ada bedanya dengan taburan gula di atas kue putih salju: hiasan saja biar yang hambar jadi terasa lebih manis.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Menurut saya itu terjadi karena kita semua memiliki motif. Nice post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kaka, maka dari itu penting buat kita untuk senantiasa memupuk rasa simpatik.. btw terimakasih sudah membaca dan memberi komentar atas postingan ini. :))

      Hapus

Our Shop

Subscribe