Manusia dan Kebutuhan Primer Pengakuan

16.33



Hegel pernah berpendapat, bahwa melalui pengakuan orang lain, manusia bisa menciptakan dirinya sendiri

Setujukah kalian dengan pendapat tersebut? Mungkin di antara kalian, ada yang secara jujur mengakui hal itu. Ya, tidak bisa dipungkiri kalau manusia memang makhluk sosial. Manusia punya keunikan sebagai individu, tetapi tak semua hal yang dia lakukan berdasarkan keinginannya sendiri.

Pengakuan dari orang lain, sering membuat manusia merasa bahwa hidupnya lebih berarti. Walaupun mungkin beberapa yang dia lakukan agar bisa diakui itu, bukan pilihan dia sepenuhnya. Contohnya? Banyak, di sekitar kita. Tidak semua orang nyaman jadi artis. Atau jadi direktur. Mungkin kalau dunia ini dibentangkan, tanpa batas norma, tolok ukur keberhasilan, dan apapun itu, barangkali mereka tidak mau jadi artis atau direktur. Capek, lebih enak tidur. Tapi sayangnya, dunia penuh dengan lipatan dan batas-batas norma, tolok ukur, dan semua yang dibuat oleh perjanjian masyarakat.

Maka, tidak heran kalau budaya pamer merebak di sekitar kita. Apalagi di sosial media. Mudah sekali memamerkan sesuatu tanpa terlihat pamer, mengingat media sosial dianggap seperti ini: rumah gue, mau gue ngepos aoa aja tentang gue, ya lo ga usa protes. Ga terima? Unfollow/unfriend/unshare aja!

Masih ingat kan, sama cerita tentang Banyu Biru Djarot, yang dianggap konyol? Lantaran dia memamerkan surat pengangkatannya (SK) sebagai anggota bidang politik di Badan Intelijen Negara, di akun Path pribadinya. Pribadi sih, dan juga terkunci, tapi gosip tak butuh kunci berupa kata sandi.

Seseorang yang bekerja untuk badan intelijen, di negara manapun itu, harus rela untuk tidak mendapatkan pengakuan. Ya tentu saja. Tidak mungkin bisa menemukan teroris dengan cara terang-terangan, dan tidak mungkin kita menyusup sementara target sudah mengetahui identitas kita. Pekerjaan di sebuah badan intelijen jelas berbeda dengan bekerja sebagai artis, yang harus selalu menampilkan citra dirinya secara terang-terangan. Maka dari itu, untuk menjadi bagian dari badan intelijen, kita harus rela mengesampingkan keinginan untuk diakui. Dan keinginan untuk diakui ini hanyalah satu hal kecil dari sekian hal yang semestinya kita korbankan saat memutuskan untuk bergabung dengan badan inte

Kurang manusiawi? Barangkali, tapi itu pilihan. Lagipula, tidak semua manusia sehaus itu dengan pengakuan. Mungkin juga, ada beberapa manusia yang menganggap, bahwa pengakuan dari dirinya sendiri pun sudah sangat cukup.

Sumber foto: Urban Daddy

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe