Kita Terlalu Terbiasa dengan Kekerasan

10.40


Sudah beberapa hari, ah tidak hari sih, bahkan bulan atau tahun, saya melihat berbagai macam tindak kekerasan dalam berita. Tapi beberapa hari terakhir ini memang agak ekstrim. Misalnya, seorang polisi (diduga mengidap skizofrenia) yang memutilasi kedua anaknya lantaran mengaku mendapat bisikan. Bullying para pesepeda terhadap seseorang yang mengkritik para pesepeda yang katanya membuat macet.  Dan juga seputar kekerasan lain yang mewarnai berita penggusuran Kalijodo.

Dan anehnya, saya dan orang-orang yang saya kenal dapat menikmati berita-berita tersebut sembari duduk tenang di kursi, glongsoran di lantai dan menyantap makanan. Lalu berkomentar santai, seperti layaknya menonton Crime Series Investigation. Entah karena rasa simpati manusia pada orang yang tak dikenalnya cenderung kecil, atau memang karena berita kriminal sudah jadi santapan sehari-hari.

Sebetulnya bukan salah media, apabila terus menyorot berita-berita kriminal. Karena memang berita kriminal heboh akan mencuri perhatian. Contohnya ya, kasus mutilasi tadi. Lagipula, dalam media biasanya ada pos-pos tertentu, termasuk pos yang mengurusi berita kriminal. Jadi bukannya ingin menjadikan itu konsumsi.

Tapi mungkin, kita jadi terbiasa karena kekerasan sudah banyak terjadi di mana-mana. Jadi satu pembunuhan di hari ini sama saja dengan pembunuhan-pembunuhan lain. Sama dengan pernikahan, kita nampaknya biasa saja kan mendengar acara pernikahan? Entah harus disayangkan atau bagaimana, tetapi inilah yang terjadi.

Sekitar abad ke-18, filsuf Jean-Jacques Rousseau mempelopori sebuah paham yang dinamakan naturalisme. Dalam naturalisme, dikatakan bahwa seorang anak sebenarnya memiliki pembawaan yang baik. Orang dewasalah yang membuatnya jahat. Dan kejahatan itu disebabkan lantaran anak dijauhkan dari alam, dan dikekang sebagai manusia.

Memang, sebagai orangtua, kita ingin yang terbaik untuk anak. Namun mengekangnya dalam berbagai hal, seperti tidak mengizinkannya untuk mencoba hal-hal positif karena takut anak sakit, takut luka, dan sebagainya, justru membuat nilai dirinya sebagai makhluk hidup terepresi. Apalagi menjauhkannya dari alam, menganggap kalau aktivitas alam tak lebih penting ketimbang pendidikan di dalam kelas. Contohnya begini saja. Kalian sendiri, pasti akan merasa lebih tenang saat duduk di tempat yang masih alami dan penuh pepohonan, ketimbang duduk di dalam cengkraman gedung tinggi.

Mengapa? Karena mau bagaimanapun majunya pemikiran manusia, dia tetap makhluk hidup, yang punya ikatan kuat dengan makhluk hidup lain. Dengan alam. Dengan pepohonan. Dengan lansekap bumi lain yang natural.

Kekerasan bersumber dari perasaan tertekan yang menjelma menjadi perasaan bingung dan marah. Kita semua tahu bahwa perasaan marah adalah sebuah hal yang negatif. Tapi mau tak mau harus kita terima bahwa perasaan itu bisa timbul. Hanya kadarnya yang semestinya dikurangi, agar tak berujung pada kekerasan.

Memang sih, adanya kebaikan dan kejahatan di dunia ini membuat hidup menjadi seimbang. Tetapi ketika kita sudah begitu terbiasa dengan kekerasan, bahkan menjadikannya sebagai fenomena keseharian yang wajar terjadi, betulkah tak ada yang salah dengan kita?

You Might Also Like

2 komentar

  1. Setuju dengan artikelnya, kebanyakan anak jaman sekarang dikekang mulu, gaboleh ini itulah padahal si anak juga pengen kaya anak-anak lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget Mas. Banyak orangtua yang melarang anak untuk beraktivitas di luar, dekat dengan alam, takut kalau anaknya sakit. Padahal penting bgt memperkenalkan anak dgn alam sejak dini, biar rasa empatinya terasah.

      Hapus

Our Shop

Subscribe