Kita Punya Hak Untuk Tidak Dibanding-bandingkan

07:26



Jadi, di dunia ini, secara manusiawi, ada banyak hal yang membuat saya marah. Beberapa tidak berhubungan langsung dengan saya, tetapi kebanyakan ada hubungannya. Salah satunya adalah perbandingan. Iya, perbandingan.


Memang benar kalau ada yang bilang bahwa hidup adalah kompetisi. Tidak hanya dalam karir, tapi juga cinta, bahkan dalam memperebutkan tiket konser pun juga kompetisi. Dan wajar kalau dalam kompetisi hidup ini, ada yang lebih baik daripada kita. Baik secara fisik, otak, maupun sikap. Kelebihan orang berbeda-beda.

Tapi yang membuat saya geram adalah, ketika orang mulai membanding-bandingkan kelebihan satu dan lainnya. Misalnya nih, seperti yang pernah saya, dan mungkin jutaan perempuan lain alami. Di depan mata, seseorang berkata kepada kita bahwa "Eh si ini mah lebih cantik kali daripada lo. Cie cie ada saingan nih lo di sekolah ini". Entah apa tujuannya. Mungkin sekadar bercanda. Tetapi, bercanda juga ada batasnya.

Memang sih, gurauan semacam itu tidak mengungkit-ngukit kekurangan kita, dan tidak menjurus ke SARA. Namun ya, tidak bijak saja. Secara waras sebetulnya kita tahu kalau banyak orang yang lebih baik dari kita. Tapi, membandingkan secara langsung, di depan mata, rasanya seperti mengintimidasi.

Sebetulnya sih, dalam kehidupan sosial, manusia tidak selalu menjadi subyek. Saat bertemu dengan orang lain, ada dua relasi lain yang kemungkinan akan dia hadapi: saling menjadi subyek (intersubyektivitas) dan menjadi obyek. Dalam kasus di atas, orang yang dibandingkan menjadi obyek. Dia menjadi obyek penilaian seseorang. Seolah, orang tersebut kemudian membuat dirinya menjadi tak leluasa untuk memiliki pendapat tentang dirinya. Kekuasaan simbolik, setidaknya dalam rentang waktu di mana si pembanding secara frontal membandingkan dia dengan orang lain. Dia tidak berdaya untuk merasa nyaman, merasa percaya diri.

Dosakah? Entah. Kejam? Ya, secara mental. Perbandingan dapat memunculkan rasa benci seseorang terhadap orang lain, yang dirasa lebih baik daripada dirinya. Efeknya mungkin tak terasa, jika orang tersebut bukan pendendam, dan bukan orang yang sensitif. Tapi bila dia pendendam? Bila dia mudah sakit hati? Oh, bisa jadi, dia akan terkena penyakit "ibu tiri putri salju". Hanya bedanya, Ibu tiri Putri Salju memaksa cermin untuk menanyakan pendapatnya. Sementara itu, dalam konteks ini, orang yang dibandingkan bahkan tidak menanyakan pendapat orang tentang perbandingan kualitas dirinya dengan orang lain. Dan begitu kejam, orang yang kemudian membandingkan tanpa izin dari yang bersangkutan.

Maka, jangan kemudian mengutuk bila ada orang yang memiliki rasa iri dengki, akibat hal tersebut. Dan jangan kemudian menyalahkan, apabila dirinya menjadi "Ibu tiri Putri Salju". Jadi, mungkin bila kamu tidak punya hal yang lebih baik untuk dikatakan, berhentilah menjadi cermin milik ibu tiri putri salju.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe