Joey Alexander dan Berita Tentang Kegagalan

19:43


Sudah lihat gambar viral tentang Joey Alexander, pianis cilik Indonesia yang mendapatkan nominasi Grammy ini?

Iya, gagal. Sebuah media besar di Indonesia menuliskan bahwa Joey gagal mendapatkan piala Grammy.


Berita itu sebetulnya tidak salah. Joey Alexander memang gagal mendapatkan Grammy. Tetapi kegagalannya itu sama sekali tidak memalukan. Justru membanggakan, lantaran di usianya yang baru menginjak  12 tahun, dia telah dinominasikan pada kategori Best Improved Jazz Composition dalam Grammy Award 2016.

Meskipun sebenarnya, saat kita membuka link berita tersebut, kita akan menemukan kalimat bahwa Joey tetaplah membanggakan, dan bisa meraih ini-itu, tetapi tetap saja, orang akan cenderung berfokus pada judul dan apa yang disebar di media sosial. Penggunaan kata gagal, akan membuat masyarakat yang membaca cenderung menganggap bahwa anak ini gagal. Bahwa orang Indonesia gagal lagi.

Realitanya? Tergantung dari sisi mana kita melihat.


Sosiolog Peter L. Berger, dalam bukunya yang berjudul Invitation to Sociology, mengatakan hal ini: Social reality turns out to have many layers of meaning. The discovery of each new layer changes the perception of a whole. Realitas osial punya banyak lapisan, dan dalam setiap temuan akan lapisan, akan mengubah persepsi secara luas. Kendati berbagai media massa mengatakan bahwa apa yang mereka sajikan adalah realitas, tapi sebetulnya realitas itu adalah konstruksi sosial. Dalam hal ini, konstruksi sosial yang dibuat oleh jurnalis media massa.

Setiap jurnalis mungkin akan berkata bahwa mereka netral, obyektif, dan juga "cover both side". Tapi tak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang subyektif. Dia memiliki pendapat dan paham sendiri di dalam otaknya, yang mau tak mau akan mempengaruhinya saat menilai suatu kenyataan. Apalagi bila dia bekerja dalam media tertentu. Tidak ada pula media yang netral. Semuanya dipenuhi unsur kepentingan. Yang paling sederhana ya, kepentingan bisnis. Ingin medianya dibaca dan dilihat banyak orang.

Begitupun dalam konteks berita Joey Alexander. Jurnalis dengan media bernuansa optimistis, akan menulis berita bahwa Joey berhasil. Tapi bila media tempatnya bekerja, setidaknya atasannya, menginginkan berita bernuansa negatif, dia akan menuliskan sisi negatif dari suatu fakta. Mungkin bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menarik minat orang membaca suatu berita. Karena berita buruk cenderung lebih menarik.

Hanya saja, menggunakan kata berkonotasi negatif dalam sebuah prestasi, rasanya seperti merendahkan saja. Tapi business is business. Bisnis tidak mengenal kejadian inspiratif. Kecuali bila itu menguntungkan bisnisnya sendiri. Mungkin, kalau pemilik medianya memenangkan Academy Awards, atau Nobel, tidak akan ada kata "gagal"

Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe