Jakarta Is For Holiday Not For Everyday

11.59



Waktu kecil dulu, saya ingat betul. Banyak kawan-kawan saya yang begitu girangnya dulu saat diajak berlibur di Jakarta, membayangkan bisa melihat gedung-gedung tinggi, main di Dufan, dan pergi ke tempat-tempat hiburan yang asyik. Apalagi saat momen Pekan Raya Jakarta.

Lalu, banyak teman saya yang membayangkan kalau hidup di Jakarta, pastilah keren dan enak. Dekat dengan Monas, Istana Negara, dan banyak artis tinggal di sana. Keren sekali, kan? Lagipula, semua hal ada di Jakarta.






Pendapat "semua hal ada di Jakarta" ini kemudian dibawa hingga dewasa (termasuk saya sih, sebetulnya), dan membuat kami ingin sekali pindah ke Jakarta. Harus pindah ke Jakarta kalau mau punya segalanya. Di daerah tidak akan maju-maju. Ya di satu sisi mungkin benar. Kita semestinya merasakan pindah untuk bisa mengenal potensi diri, dan menghargai kepulangan. Tapi pada beberapa orang, dan itu termasuk saya, ada titik di mana kemuakkan itu muncul.

Muak melihat kemacetan. Muak dengan segala absurditas. Muak dengan waktu yang habis di jalan. Muak dengan hidup yang terlalu terencana. Muak dengan pilihan yang terbatas. Muak dengan tekanan yang terlalu besar.








Iya, Jakarta memang indah. Tapi untuk berlibur, bukan untuk tinggal selamanya. Kecuali kalau kamu sangat kaya.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe