Coklat, Mitos Valentine

19:41



Apa yang terpikir di benakmu saat mendengar kata Valentine? Cinta? Bunga? Atau cokelat?


Kebanyakan orang pasti akan membayangkan cokelat saat mendengar kata Valentine. Jelas, karena biasanya sih, saat Valentine, kita memberikan coklat pada orang yang kita sayangi. Bahkan di minimarket-minimarket terdekat pun berjejeran berbagai bentuk coklat berhias pita, dengan ragam ukuran, mulai dari yang normal hingga yang jumbo.

Tapi kenapa harus coklat? Ini ada hubungannya dengan tradisi.

Sebuah tradisi, yang dilakukan oleh masyarakat secara massal, lama kelamaan akan berkembang menjadi konotasi. Konotasi ini bukan semacam "ringan tangan konotasi dari orang yang suka memukul". Bukan. Konotasi, menurut Roland Barthes, filsuf strukturalis asal Prancis, adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti. Sederhananya, konotasi adalah tentang nuansa dari sebuah hal yang memuat subyektifitas.

Makna konotasi berada dalam tataran parole, bersifat temporer, hanya dapat dipahami oleh individu atau sekelompok orang saja, tidak lugas, memiliki konteks tertentu, memicu reaksi tertentu dari pendengar, dan sifatnya tidak absolut.Perkembangan konotasi yang semakin mantap akan menjadi mitos. Mitos, menurut Barthes, merupakan sebuah pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan.

Contohnya ya, seperti coklat yang identik dengan Valentine. Kalau bicara Valentine, semua toko pasti menyediakan coklat. Bukan biskuit. Bukan lemper. Atau minuman soda. Hal ini sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari penemuan teknik pembuatan coklat oleh Richard Cadburry, dan produksi coklat bergambar Cupid yang pada akhirnya membuat orang mulai memberikan coklat sebagai hadiah Valentine.

Tapi terlepas dari sejarah tersebut, coklat sudah menjadi mitos bagi Valentine. Dan dalam hal ini, mitos sudah masuk ke dalam ranah semiologi, dan berkaitan denhan penanda (coklat), petanda (Valentine/hari kasih sayang), dan tanda (coklat sebagai kado tanda cinta Valentine)

Hanya saja, mungkin suatu saat kalau ada gebrakan besar, semacam nasi goreng yang mentahbiskan dirinya sebagai kado Valentine, dan diikuti secara massal, bisa saja mitos coklat sebagai simbol Valentine akan berganti dengan nasi goreng.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe