Brand Awareness Untuk Manusia

17.59



Kalian termasuk dalam bagian "masyarakat-yang-kagum-sama-idealisme-suatu-grup-atau-tokoh"? Selamat, karena artinya kalian telah masuk ke dalam rayuan sebuah brand.

Iya, jangan kira brand hanya berhubungan dengan produk dalam bentuk benda mati, seperti msialnya makanan, alat kecantikan, mobil, dsb. Kita, ataupun perkumpulan yang kita bentuk pun bisa menjadi sebuah brand.

Contohnya seperti ini: seorang penyanyi yang terus menerus menyerukan semangat anti-korupsi. Tak hanya lewat lagu, tetapi juga lewat perkataannya. Ya memang, kita semua tahu kalau korupsi adalah hal yang negatif. Namun kalau seorang selebriti terus menerus menyerukan semangat anti korupsi, alih-alih bersuara secara jujur, bukankah itu lebih kepada self-branding? Karena sekadar cantik/tampan, pintar akting dan bernyanyi, tak bisa membuatnya terlihat unik dan berbeda.
Slank, salah satu grup band yang menyuarakan anti-korupsi

Kevin Lane Keller, seorang profesor dan pakar brand management yang terkenal dengan pemikiran yang bertajuk Consumer-Based Brand Equity, mengatakan bahwa kekuatan suatu brand terletak pada apa yang berada pada pikiran pelanggan. Untuk mengambil tempat dalam pikiran pelanggan itulah, ada beberapa langkah yang menurut Keller harus dilakukan, seperti yang tertera dalam piramida berikut ini:

Dan kita anggap penyanyi-anti korupsi tersebut sebagai contoh produk kita, sehingga konsepnya akan seperti ini:
1. Who are you? Penyanyi yang menyuarakan gerakan anti korupsi
2. What are you? Penyanyi yang tidak hanya memikirkan hedonisme dan kesenangan, tetapi juga rakyat kecil
3. What about you? Respon masyarakat akan berbagai macam, tetapi respon yang diharapkan adalah supaya masyarakat berpikir bahwa penyanyi tersebut adalah penyanyi yang unik dan berbeda, serta dekat dengan masyarakat
4. What about you and me? Masyarakat tidak suka dengan praktek korupsi dan orang kaya yang semena-mena, maka dari itu, penyanyi ini sepaham dengan masyarakat, mau membantu menanggulangi korupsi dengan cara bernyanyi.

Lihat, kan? Sebetulnya sama saja dengan produk lain. Hanya bedanya, penyanyi ini hidup. Begitu pula dengan idola-idola lain yang kalian anggap begini dan begitu. Selebgram yang concern terhadap budaya daerah. Atau sutradara film yang menyuarakan kebencian terhadap pemerintahan otoriter. Serta lain sebagainya.

Sebetulnya, tidak semua dari mereka bermaksud untuk melakukan branding untuk melanggengkan namanya di tengah masyarakat. Ada pula yang sebetulnya memang memiliki idealisme seperti yang ditampakkan kepada masyarakat. Tapi ya, kembali lagi pada salah satu kebutuhan dasar manusia: pengakuan. Semua orang butuh pengakuan, apalagi selebriti.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe