Asyiknya Bergosip di Tempat Kerja?

18:02



Kalian sudah bekerja? Sudah tahu juga bukan, kalau kantor bukan sekadar tempat untuk bekerja, tetapi juga tempat untuk bersosialisasi dan menjalin pertemanan. Dalam proses sosialisasi itu, tentunya gosip juga ada.

Terlebih pada kantor-kantor di mana beban kerja dan target tidak tinggi (biasanya sih di kantor-kantor pemerintahan). Pekerjanya pun akan memiliki banyak waktu luang untuk melakukan berbagai hal di luar pekerjaan, termasuk mengobrol. Obrolan tidak selalu berkisar pada hal-hal yang baik. Seringkali orang lain menjadi bahan obrolan. Mungkin masih lebih baik kalau obrolan tersebut berkisar pada performa seseorang saat di kantor. Namun bagaimana jika menyangkutpautkan masalah pribadi seperti keluarga?

Banyak yang bilang bahwa gosip adalah fakta yang tertunda. Namun filsuf asal Jerman Martin Heidegger mengatakan bahwa gosip adalah "superficial way of learning information about others" -cara yang palsu untuk mencari informasi perihal orang lain. Pasalnya, saat bergosip, kita mengabaikan fakta-fakta positif, dan menekankan pada fakta-fakta yang negatif. Selain itu, kita pun cenderung tidak kritis saat menerima informasi buruk kala bergosip. Kita akan menelannya bulan-bulat sebagai fakta yang tertunda.

Kembali kepada masalah bergosip di kantor. Yang namanya gosip, memang tidak bisa dibatasi apapun, termasuk kontrak kerja. Tetapi alangkah dangkal dan bodohnya orang-orang yang kemudian menghubung-hubungkan antara performa kerja seseorang dengan gosip buruk tentang dirinya. Bahkan tak mempedulikan performa kerjanya yang baik, hanya karena banyak gosip buruk tentang orang yang bersangkutan, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan kantor. Ini berbahaya, karena gosip dapat berkembang menjadi intrik untuk menjatuhkan karir seseorang. Walaupun memang sih, secara manusiawi, senang sekali kan, menemukan fakta bahwa rekan kerja kita yang hebat misalnya, ternyata punya kekurangan? Bukannya (kebanyakan) manusia memang suka melihat keburukan orang, karena keburukan tersebut membuat kita terlihat lebih baik?

Selain itu, gosip juga menurunkan profesionalisme kerja. Saya punya cerita, tentang seorang teman yang bertengkar dengan rekan kerjanya. Rekan kerjanya kemudian membuka gosip-gosip yang pernah dia utarakan kepada rekan kerja lain, plus bumbu gosip (lagi) tentang teman tersebut. Hasilnya, rekan kerjanya yang lain sangat marah, dan mengumbar keburukan si teman saya ini ke semua orang. Juga tidak mau berurusan lagi dengan teman saya, dalam urusan pekerjaan sekalipun. Iya sih, sakit hati ya sakit hati. Tapi kontrak kerja tetap harus dipatuhi, dong? Teman saya pun sebetulnya juga salah di awal, karena kurang menjaga ucapannya. "Mantan" rekan kerjanya itupun juga salah, karena sengaja menyebarkan keributan.

Sekali lagi, gosip memang sebuah hal yang cenderung negatif. Namun gosip di kantor, jauh lebih berbahaya ketimbang bergosip di kampus atau sekolahan. Saat di kampus dan sekolah, kita bertanggung jawab kepada diri sendiri (dan kepada orangtua yang membayari kita kuliah). Sementara itu, saat di kantor, kita juga turut bertanggung jawab terhadap perusahaan, yang membayar kita. Kalau kita menghabiskan waktu lebih dari separuh jam kerja untuk bergosip, lalu untuk apa kita bekerja? Bukannya akan lebih baik kalau kita resign saja, lalu jadi tetangga rese yang mengomentari segala macam masalah pribadi orang lain?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe