Who to Know: Jean-Paul Sartre

22.03



L'homme est condamné à être libre (Manusia dikutuk untuk menjadi bebas)

Ya, kebebasan adalah kutukan. Setidaknya menurut Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis yang hidup pada era Perang Dunia I dan II, dan sempat menolak Nobel Sastra yang diberikan kepadanya pada tahun 1964.

Bagi Sartre, hanya manusia satu-satunya makhluk yang dikutuk menjadi bebas, lantaran manusia memiliki kesadaran. Berbeda dengan benda-benda mati, manusia mampu merefleksikan hal-hal di sekitarnya, dan memiliki kemampuan untuk berimajinasi. Dan Sartre menggunakan dua konsep ini untuk membedakan manusia dan benda mati: être-pour-soi (mengada untuk dirinya), dan être -en soi(mengada dalam dirinya).

Pengada “être-pour-soi” merupakan subyek, karena ia memiliki kesadaran atas dirinya sendiri. Namun, ia juga merupakan obyek, dan yang menjadi obyek adalah dirinya yang ia sadari tersebut. Jadi, di dalam konsep “être-pour-soi”, ada sebuah bentuk keduaan. Menurut Sartre, pengada dalam keadaan être-pour-soi ini ialah manusia. Manusia, ketika ia sadar akan suatu hal, berarti ia “meniadakan” (néantiser) hal tersebut. Hal ini juga berlaku apabila ia menyadari tentang dirinya sendiri. Ketika ia meniadakan dirinya sendiri, yang tersisa adalah kesadaran itu sendiri, dan dengan kesadaran tersebut, justru ia ada.

Pengada dalam keadaan être-pour-soi ini eksistensinya mendahului esensi. Jadi, dia ada, lalu karena kesadarannya tersebut, ia memiliki kebebasan untuk memilih esensinya. Walaupun kata “kebebasan” memiliki konotasi positif, tetapi Sartre justru menganggap bahwa kebebasan merupakan sebuah kutukan (je suis condamné à être libre), karena kebebasan yang berujung pada kebebasan untuk memilih tersebut membuat ia harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari pilihannya tersebut.

Sementara itu, konsep être-en-soi memiliki makna mengada dalam dirinya. Pengada dalam keadaan ini tidak sadar akan diri, sehingga ia tidak bisa menjadi subyek bagi apapun bahkan bagi dirinya sendiri. Ia penuh dengan dirinya sendiri, masif, tertutup, dan tak memiliki hubungan sadar terhadap hal-hal di sekitarnya, sehingga, ia menjadi gelap bagi dirinya sendiri (Il est opaque à lui-même).

Esensinya hadir sebelum ia bereksistensi, karena ia tak berkesadaran, maka ia tak bisa mencari esensinya sendiri, tak punya kebebasan untuk memilih sendiri esensinya, dan dipandang sebagai sebuah obyek. Keadaan seperti ini dianggap oleh Sartre tak ubahnya seperti benda yang dibuat oleh pabrik, yang esensinya telah ditentukan sebelum ia ada, dan untuk itu, Sartre menganggap, bila kita mengadakan peran Tuhan dalam eksistensi manusia, maka, apa bedanya manusia dengan barang buatan pabrik yang keadaannya adalah être-en-soi?

Keadaan eksistensial lain yang digagas oleh Jean-Paul Sartre adalah être-pour-autrui. Keadaan ini adalah keadaan di mana pengada tersebut ada untuk orang lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia, sebagai individu yang bebas dan memiliki andil atas dirinya sendiri akan bertemu dan berinteraksi dengan orang lain (orang lain ini juga merupakan bentuk kefaktaan yang membatasi kebebasan manusia). Dalam interaksinya dengan orang lain, manusia akan memiliki hubungan subyek-obyek, atau hubungan subyek-subyek (intersubyektifitas).

Hubungan subyek-obyek akan terjadi pada seseorang yang menjadikan seseorang sebagai obyek, misalnya, meletakkan orang tersebut dalam dunia pikirannya, menentukan pilihan orang tersebut, sementara orang yang bersangkutan tidak melakukan pemberontakan atas hal tersebut dan membiarkan orang lain mengatur apa yang harus ia pilih (hubungan seperti ini bisa kita temui dalam pernikahan, banyak lelaki yang salah kaprah dalam menerjemahkan sebutan “kepala keluarga” dan menjadikan istrinya sebagai obyek yang ia batasi pilihannya, yang tak diperbolehkan untuk memilih).

Namun, bila masing-masing manusia yang bertemu dalam sebuah interaksi tertentu sama-sama tak membiarkan dirinya menjadi obyek, maka, mereka akan masuk dalam sebuah hubungan yang bernama intersubyektifitas (subyek-subyek).

Pemikiran Sartre penuh dengan eksistensialisme, paham tentang eksistensi, terutama yang berkaitan dengan kemanusiaan. Pemikiran ini, sebetulnya tak bisa lepas dari keadaan di mana Sartre hidup: jaman perang. Pada masa perang yang suram, banyak orang yang tentunya berpikir tentang makna hidup, tentang siapakah diri mereka, dan untuk apa mereka berada di dunia ini? Untuk Tuhan kah? Bagi Sartre jelas bukan, karena Sartre pernah berkata, ada ataupun tiada Tuhan, tak akan mengubah apa-apa. Sekali lagi, bagi Sartre, hidup barangkali adalah untuk menunaikan kutukan bernama kebebasan. Dan karena eksistensi manusia mendahului esensi, maka makna hidup dari tiap manusia pun pasti berbeda-beda.

Sumber foto: Flavorwire

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe