Who To Know: Ibnu Rusyd (Averroes)

18:50


Ilmu pengetahuan selalu berseberangan dengan ilmu agama. Begitu yang diyakini oleh banyak orang. Dan tidak hanya "orang biasa". Tapi juga para ilmuwan hingga pemuka agama.

Namun, berbeda denyan Ibnu Rusyd, seorang pemikir muslim yang berasal dari Cordova, Andalusia, dan lahir pada tahun 126 M (oleh orang Eropa dikenal sebagai Averroes). Menurutnya, ilmu pengetahuan dapat berdampingan dengan agama. Sebuah hal yang mungkin tidak disetujui oleh banyak agamawan, filsuf, dan juga ilmuwan.

Agar keduanya dapat berdampingan, manusia semestinya berfilsafat. Ya, betul, berfilsafat. Padahal stereotip mengatakan bahwa berfilsafat akan menjauhkan manusia dari keyakinan pada Tuhan. Namun menurut Ibn Rusyd, hal tersebut terjadi karena kesalahan dalam proses berfilsafat.

Dengan berfilsafat, manusia semakin memahami makhluk hidup lain, tidak hanya menilai dari kacamata hitam putih saja. Memahami bahwa makhluk hidup terdiri atas berbagai karakteristik, yang membuat hidup ini menjadi lebih seimbang. Pemahaman tentang keseimbangan tersebut akan membawa manusia lebih memahami esensi Tuhan.

Hal ini, menurut Ibnu Rusyd, tak terlepas dari firman Tuhan perihal pentingnya menggunakan nalar untuk memahami kejadian di muka bumi ini. Manusia haruslah menggunakan akalnya untuk memahami segala hal di dunia, dan dengan cara itulah dirinya akan menemukan Tuhan. Karena Tuhan adalah zat penggerak di alam semesta. Bila ada yang mengaku berfilsafat, tapi justru menjauhkannya dari "Tuhan", maka berarti dia berfilsafat dengan cara yang kurang tepat. Apalagi bila membandingkan sifat Tuhan dengan manusia, karena esensi Tuhan sendiri berbeda dengan manusia, bukan sesuatu yang bisa dimakhlukkan.


Menurut Ibnu Rusyd, ada tiga macam cara manusia dalam memperoleh pengetahuan. Yang pertama adalah lewat metode al-Khatabiyyah (retorika) al-Jadaliyyah (dialektika), dan al-Burhaniyyah (demonstratif). Metode pertama biasa digunakan oleh masyarakat pada umumnya, yang kedua, oleh orang-orang yang lebih berpikir dengan cara dialektik, dan yang ketiga, adalah yang tertinggi, karena tidak semua orang bisa berpikir dengan metode ini. Metode ini khusus digunakan oleh mereka yang mampu berolah rasa.

Atas pemikirannya, Ibnu Rusyd banyak berseberangan dengan beberapa tokoh. Salah satunya filsuf Islam terkenal Al-Ghazali, yang menganggap pemikiran Ibnu Rusyd berseberangan dengan agama. Padahal, Ibnu Rusyd sendiri berusaha untuk menyelaraskan pengetahuan dan agama, karena keduanya tidaklah bersilangan, atau berbeda dimensi. Keduanya hanyalah perihal sudut pandang.

Sayangnya, orang yang juga dikenal sebagai juru tafsir Aristoteles ini banyak dikritik hingga akhir hayatnya, bahkan dianggap sesat. Dan sepeninggalnya, tidak ada lagi filsuf Islam yang memperjuangkan penyelarasan antara ilmu pengetahuan dan agama, seiring dengan beberapa kejadian yang meruntuhkan perkembangan peradaban Islam sebagai tonggak ilmu pengetahuan, seperti hancurnya perpustakaan Bayt Al Hikmah, dan juga beralihnya pandangan dunia pada Eropa di zaman Renaissance.

Sumber:
http://www.zenius.net
http://syafieh.blogspot.co.id
Flickr

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe