Prasangka Dalam Segelas Kopi dan Gaya Hidup

15.23



Membicarakan kopi dan gaya hidup, sebagian besar di antara kita mungkin akan terbayang pada sketsa seseorang yang tengah duduk di sebelah jendela kafe, sementara cuaca sedikit berawan. Uap hangat mengantarkan aroma kopi yang khas, yang terkadang berkonotasi maskulin.

Tapi kopi dan gaya hidup, pada minggu-minggu terakhir ini, justru mengingatkan masyarakat Indonesia (mungkin sebagian, terutama yang doyan menikmati berita), pada kematian. Yang pertama adalah berita kematian seorang perempuan muda bernama Mirna, usai meminum kopi di sebuah kafe di Grand Indonesia, Jakarta. Yang kedua, adalah berita kematian komedian Budi Anduk, diduga karena kanker paru-paru.

Sontak sebagian besar masyarakat mulai paranoid: amankah makan dan minum di kafe? Dapat dipercayalah teman kita? Berbahayakah gaya hidup para artis? Semua langsung berprasangka buruk pada suatu hal tertentu. Padahal, kematian bisa datang dari mana saja.

Tapi banyak orang yang kemudian percaya pada teori tertentu, seperti misalnya "Mirna meninggal karena racun yang dibawa temannya, bekerja sama dengan oknum di kafe" , atau "Budi Anduk meninggal karena gaya hidupnya yang tidak baik sebagai selebriti". Teori-teori tersebut dianggap lebih seru dan sensasional pada sebuah berita. Padahal, kita sebagai penonton hanya tahu hal-hal yang disajikan oleh media. Namun dengan berani kita berprasangka. Di media sosial pula. Membuat orang lain terpengaruh oleh prasangka tersebut.

Prasangka merupakan salah satu bentuk proses berpikir. Tetapi menjadikan kita seolah tidak berpikir, ketika prasangka tersebut diyakini betul-betul. Tan Malaka, seorang tokoh Indonesia asal Sumatra Barat, dalam bukunya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), mengatakan hal semacam ini: Manusia pandai berpikir menurut hukum, yang kita namai hukum berpikir, atau logika. Akan tetapi, monyet cuma berinstinf, bekecerdasan yang diberikan alam padanya. Pendeknya, menurut pengetahuan kita sekarang, perbedaan manusia dengan monyet, ialah yang pertama (manusia) pandai berpikir, dan yang kedua (monyet) tidak. Berkaitan dengan hal tersebut, berprasangka tanpa meneliti lebih lanjut suatu hal, lalu menganggap prasangka itu sebagai kebenaran mutlak, masuk ke golongan pertama, atau kedua? Kita semua pasti bisa menjawab.

Menjadi manusia memang susah-susah gampang. Di satu sisi, kita adalah satu-satunya makhluk di bumi, yang mampu berimajinasi. Di sisi lain, imajinasi tersebut kadang tak sesuai fakta yang ada, dan terkadang menjadi kebohongan (yang biasa disebut dengan julukan HOAX). Sayangnya, banyak manusia yang menikmati HOAX, karena lebih menantang, lebih tidak membosankan, dan lebih misterius. Terutama mereka yang malas untuk berpikir. Seperti yang sekali lagi, pernah dipertanyakan oleh Tan Malaka: Marilah dahulu kita periksa apakah semua manusia adalah hewan yang berpikir?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe