Pernikahan Feby Febiola dan Infotainment yang Maha Tahu

15.33



Sebetulnya, sebagai manusia biasa,  tidak ada  menonton infotainment. Kehidupan pribadi orang yang selama ini kita ketahui sebagai figur yang keren, yang nyaris sempurna, dibedah habis-habisan di infotainment. Secara jujur, sebagai manusia, siapa sih, yang tidak suka lihat kelemahan orang? Meskipun terdengar jahat, tetapi kelemahan orang membuat kita terlihat lebih baik, setidaknya bagi diri kita sendiri. Dan dalam waktu tertentu, hal itu membuat kita lebih percaya diri.

Tapi, lama kelamaan,infotainment mulai berlebihan dalam berspekulasi. Contohnya, dalam pemberitaan tentang pernikahan Franky Sihombing dan Feby Febiola. Pernikahan tersebut tidak dihadiri oleh anak Franky, Petra Sihombing (tidak perlu dijelaskan siapa Petra Sihombing, everybody already knew). Menurut Franky, Petra berhalangan hadir karena ada acara. Tetapi, media memberikan wacana bahwa Petra tidak hadir karena belum menyetujui pernikahan tersebut -sebuah hal yang jelas belum dikonfirmasi kepada Petra, karena dia menolak untuk berbicara-

Infotainment memang bentuk jurnalisme yang penuh dengan spekulasi. Tetapi, menurut saya, dalam kasus Petra, ini sudah berlebihan. Saya tahu betul perasaan seorang anak yang orangtuanya bercerai. Belum habis dia menelan kepahitan tersebut, dia harus kembali menghadapi judgement dari masyarakat. Okelah, Petra Sihombing memang selebriti. Tapi jelas dia bukan tipikal selebriti yang gemar mengumbar masalah pribadinya.

Keputusan berbagai media untuk membuat judul yang memuat ketidaksetujuan Petra Sihombing, jelas tidak etis. So what, kalau Petra tidak setuju? Kalaupun dia setuju, para infotainment itu pun akan kembali pada hipotesa awal: Petra pura-pura sibuk, padahal sebetulnya dia muak melihat sosok ibu tirinya. Jadi, mau Petra jungkir balik menjelaskan alasannya, atau memberikan bukti kalau dia ada acara saat pernikahan Bapaknya, itu tidak berarti bagi media. Infotainment akan terus menggali rasa tidak suka Petra. Mereka akan terus berspekulasi dan menghubungkan segala hal yang dilakukan Petra, terkait ketidaksetujuan itu.

Padahal, mungkin Petra setuju. Tapi hanya tidak mudah menerima kehadiran orang baru dalam hidupnya (terlebih selama ini dia tinggal bersama Ibu kandungnya). Atau mungkin, tidak setuju, tapi tak ambil peduli. Atau juga begini: dia jengah datang ke pernikahan Ayahnya, karena malas dengan kehadiran awak media. Atau apapun. Yang jelas, kalau pernikahan tersebut tetap berjalan, berarti Petra tak pernah bermaksud buruk, bukan?

Tapi infotainment memang gemar bermaksud buruk, terutama dalam berita rumah tangga orang.

Sumber foto: beranda.co.id

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe