Pernikahan dan Dua Benih Lelaki

22:42



Jadi ada cerita tentang seorang artis, yang belum lama ini tenggelam tetapi muncul kembali ke permukaan. Artis tersebut baru saja menggugat cerai suaminya, alasannya karena mahar tidak sesuai dan lelakinya tidak serius dengan masa depan. Pro-kontra di kalangan masyarakat pun terjadi. Ada yang bilang kalau artis tersebut memang materialistis. Tapi ada pula yang membela, dan berkata kalau wajar bila artis punya gaya hidup yang mahal, dan lelaki itu tidak siap untuk menikah dan menafkahi.

Sebetulnya, dalam kasus ini saya melihat adanya miskonsepsi dari masyarakat. Banyak yang bilang kalau semua perempuan pasti materialistis, jadi jangan menikah kalau belum siap. Saya bukannya meniadakan peran materi dalam pernikahan. Materi itu penting sekali. Jelas saya tidak akan bisa membayar cicilan rumah hanya dengan kasih sayang. Tapi ada perbedaan pula antara "lelaki pemalas" dan "lelaki yang sedang berusaha untuk mapan". Walaupun memang sih, di mata masyarakat, dua-duanya belum mapan.

Menikahi lelaki pemalas, ibarat membeli benih tanaman yang tidak akan tumbuh dengan baik. Saat ini dan seterusnya dia akan begitu. Lain halnya dengan lelaki yang sedang berusaha untuk mapan. Saat ini, mungkin dia belum bisa memberikan hasil yang banyak kepada pasangannya.Tapi di masa depan, dengan "perawatan" yang baik, seperti kasih sayang dan juga semangat, dia akan bisa memberikan kenyamanan. Akan bisa, bukan berarti pasti bisa. Namun seperti salah satu lirik lagu idol group kesayangan di Indonesia (ya, betul, idol group franchise Jepang itu), usaha keras tidak akan mengkhianati. Segagal-gagalnya orang yang berusaha untuk mapan, hidupnya tidak akan sengsara seperti orang yang pemalas. Namun ya, pasangannya juga tidak boleh memandangnya sebelah mata.

Dalam kasus selebriti tersebut, sebetulnya saya tidak tahu, suaminya masuk ke golongan yang mana. Tetapi alangkah tidak bijaknya bila kita berkomentar, "Makanya kalau belum mapan, jangan menikah". Pernikahan itu bukan soal mapan atau tidak. Tetapi perkara apakah kedua belah pihak bisa tumbuh bersama menuju arah yang lebih baik. Ya bukan berarti lantas mengandalkan niat saja. Usaha besar pun diperlukan. Tidak heran kalau banyak pernikahan yang sempat goncang di usia awal. Karena ibarat seorang anak, yang sedang tumbuh dewasa, dia harus mengalami fase menangis, jatuh, dan kesal bukan, saat belajar?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe