Penyanyi yang Cantik Atau Bersuara Merdu?

12:41


Warna bintang (ala-ala) Korea mulai pudar di Indonesia, digantikan oleh beberapa penyanyi solo wanita, salah satunya Isyana Sarasvati. Secara pribadi, saya bersyukur. Pasalnya, musik (ala-ala) Korea itu mengganggu, membuat telinga saya gatal, dan terkadang membuat saya ingin mengunyah televisi saking gemasnya (musik K-Pop aslinya sih, masih bagus. Tapi plagiatnya, betul-betul polusi panca indera)

Tapi yang menyedihkan adalah ketika para penyanyi solo wanita tersebut lebih terkenal akan kecantikannya, ketimbang suara atau karya mereka (tentu saja, kalau masyarakat kita berorientasi pada karya, mungkin penyanyi semacam Frau sudah menjadi diva dari kemarin).  Kita lebih mengenal komentar semacam cantiknya Raissa, manisnya Isyana, ketimbang komentar yang berfokus pada lagu dan teknik vokal mereka. Padahal, mereka adalah penyanyi. Dan tidak perlu dijabarkan apa definisi dari penyanyi.

Tak sekadar pujian cantik, kata sifat "sempurna" pun seringkali disematkan pada mereka. Membuat banyak lelaki menjadikan mereka tolok ukur dalam mencari pasangan (bahkan ada, loh, yang meminta pasangannya untuk menjadi seperti mereka). Karena mereka dianggap sempurna, dianggap sebagai sesuatu yang indah.

Keindahan sebetulnya adalah hal yang subyektif. Namun menurut George Santayana dalam buku The Sense of Beauty: Being the Outline of Aesthetic theory, keindahan adalah sesuatu yang nikmat menurut panca indera. Ya tak sekadar soal wajah. Suara juga. Tapi tidak sama dengan sempurna.

Dalam billboard dan juga video klip, mereka mungkin indah. Tapi belum tentu indah bila mengenal lebih dalam. Manusia merupakan makhluk yang sulit untuk ditebak. Orang yang dianggap baik pun, akan ada saatnya bertindak tidak baik. Begitupun sebaliknya. Orang yang kelihatan cantik pun, ada kalanya tak terlihat cantik. Orang yang sempurna, menyimpan beberapa hal buruk yang mungkin tidak kita ketahui. Entah sifatnya, entah pemikirannya, entah kebiasaannya. Menyematkan kata sempurna pada seorang manusia, berarti menjadi naif dan meniadakan logika.

Dan yang lebih naif, tentu saja barisan para penggemar yang gemar memperdebatkan perkara "cantik siapa" dan "lebih sempurna siapa". Sebagai penggemar yang juga mengaku penggemar musik, amat sangat bodoh, dan tidak berpikiran panjang saat membawa kriteria individu pada perdebatan dalam kaitannya dengan profesi mereka sebagai penyanyi. Mengapa tidak memperdebatkan teknik vokal? Atau lirik dan irama lagu? Cara bermusik? Mengapa harus wajah? Harus fesyen? Latar belakang pendidikan dan keluarga? Well, sebetulnya Raisa dan Isyana ini dianggap sebagai rival dalam hal bermusik, atau dalam kontes kecantikan dengan kriteria 3B dan segenap kriteria lain yang lebih cocok diperlombakan pada bidadari?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe