Lagi-Lagi LGBT?

14:28



Banyak orang yang bilang begini: susah hidup di Indonesia, ngebela LGBT dianggap liberal.

Sebelumnya, saya sudah pernah membahas perihal LGBT di sini. Tapi saat ini saya bahas lagi, karena di Universitas Indonesia sedang ramai selebaran tentang grup melela.org, yang menjadi konsultas LGBT. Dan saya sendiri tidak peduli dengan keberadaan mereka, selama mereka tidak mengganggu saya.Meskipun kalau untuk saya pribadi, saya tidak akan mengijinkan anak saya, bapak ibu saya, dan pasangan saya untuk menjadi LGBT.

Alasan mengapa saya tidak mengijinkan sudah jelas. Saya punya prinsip dan memaksa prinsip itu untuk dituruti oleh orang terdekat. Mungkin terdengar kolot, tapi itu wajar. Dan mengapa saya memiliki prinsip tersebut, saya punya alasan tersendiri. Yakni, alam semesta.

Seperti yang pernah saya bilang, saya percaya alam ini punya hukum yang sudah seharusnya tidak dilanggar terlalu jauh agar tidak hilang keseimbangannya. Dilanggar sedikit, boleh lah. Berbeda sedikit, menyimpang sedikit, tidak masalah. Tapi kalau dalam jumlah amat besar?

Begini, maksudnya. Sudah jelas penis harus masuk ke vagina. Ovum bertemu sperma. Benangsari dengan putik. Bukan masalah karena kita ditaktdirkan untuk berkembang biak, bukan itu. Tapi jelas bila benangsari bertemu benangsari dalam jumlah yang besar, tentunya akan ada kekacauan. Kapan bunga-bunga tumbuh? Begitulah.

Mungkin juga, saya akan dihujat bila mengatakan bahwa LGBT menular. Tapi memang hampir semua hal di dunia ini menular. Tak hanya LGBT. Agama ekstrim pun mudah menular, contohlah ISIS dan para relawannya. Saya pernah punya seorang teman. Sebut saja namanya BX. BX dulunya lelaki yang suka perempuan. Masuk kuliah, dia bertemu teman yang suka lelaki, menjadi teman dekat karena mereka punya obrolan yang sama. Si teman dekat ini rupanya tergabung dalam grup gay yang terselubung. Lama-lama, BX menjadi biseks. Sekarang sih, dia katanya sudah tidak suka dengan lelaki, karena sudah bertemu dengan perempuan yang bisa mengembalikannya seperti dulu.

Memang sih, Jean Paul Sartre, filsuf Prancis yang terkenal dengan eksistensialisme-nya pernah bilang kalau manusia punya kebebasan untuk memilih yang dia inginkan. Tapi kebebasan juga terbatas kefaktaan. Salah satunya ya, kita tidak bisa memilih lahir sebagai lelaki, atau perempuan. Dan kemudian juga, kefaktaan terbatas oleh kehadiran orang lain. Yakin, kalau orang lain nyaman berdampingan dengan LGBT? Banyak yang tidak, sih. Terutama Indonesia. Ya jangan dianggap kolot, karena sudah dari jaman terbentuknya, negara ini menganut prinsip Ketuhanan yang Maha Esa. Meskipun juga menganut prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Artinya?

Artinya, kamu bebas jadi apa saja. Tapi tidak bebas untuk secara terang-terangan mempengaruhi orang lain untuk melawan prinsip Tuhan yang Maha Esa, yang terkandung dalam agama. Jadi mungkin begini: kamu boleh jadi LGBT. Terserah juga kalau kamu mau tidur sekamar sama pacar kamu. Mau sewa hotel di mana saja. Boleh, bebas. Tapi kamu tidak boleh menuntut negara untuk melegalkan pernikahanmu, atau memaksa orang untuk menjadi seperti kamu, dan menyetujui prinsipmu. Win win solution, kan?

Karena mau bagaimana lagi, saat berhadapan dengan orang lain, dengan masyarakat, kita harus kompromi. Karena kita bukan lagi subyek tunggal. Kita berada dalam relasi intersubyektifitas: sama-sama menjadi subyek.

Sumber Foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe