Kuliah, Protes, dan Kekuasaan

15:03



Siapa yang tidak mau berkuasa? Hampir semua orang mau berkuasa, dengan konteks yang berbeda-beda tentunya. Kekuasaan membuat kita mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang kita inginkan. Kekuasaan membuat kita bisa masuk ke dalam eksistensi orang tersebut. Membuat kita menjadi subyek atas diri orang lain.

Kekuasaan tak mesti berkaitan dengan raja, presiden, atau elemen pemerintahan lain. Menurut Michel Foucault, seorang filsuf asal Prancis, kekuasaan berarti sesuatu yang mendisiplinkan, yang membuat seseorang "tunduk". Kekuasaan erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan.

Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih tinggi, dapat menguasai seseorang dengan ilmu pengetahuan rendah. Contohnya, relasi antara dosen dengan mahasiswa.  Seperti cerita drop out salah satu mahasiswa di UNJ minggu ini, usai mengkritik rektornya (kabarnya surat drop out tersebut dicabut kembali lantaran pihak mahasiswa tersebut telah meminta maaf).

Berdasarkan kamus filsafat, pengetahuan memiliki makna sebagai berikut: 1. Pengakuan tentang sesuatu, 2. Keakraban atau pengenalan sesuatu dari pengalaman aktual, 3. Persepsi yang jelas tentang apa yang dipandang sebagai fakta, kebenaran atau kewajiban, 4. Informasi dan/atau pelajaran yang disimpan, 5. Hal-hal yang disimpan dalam kesadaran seperti kepercayaan, ide-ide, bangunan konsep, pernyataan, pendapat untuk dijustifikasi dengan cara tertentu dan dengan demikian dianggap benar. Maka, rektor bisa dibilang memiliki lebih banyak pengetahuan daripada mahasiswanya, dalam bidang akademis tertentu, dan dilihat dari gelar. Untuk itu, tak heran kalau rektor bisa mengeluarkan surat apapun terkait mahasiswanya, terlebih bila mahasiswa tersebut disinyalir melakukan kesalahan.

Dan rektor pun dapat membuat mahasiswa tersebut mencabut segala protesnya, agar dapat berkuliah kembali. Begitu kuat pengaruh pengetahuan dalam kekuasaan ini.

Protes, berjalankah?
Vox populi vox dei. Itulah peribahasa yang biasa didengungkan dalam demonstrasi dan pemilihan umum. Suara rakyat dalam jumlah besar menentukan sebuah kekuasaan.

Lalu di manakah suara rakyat dalam hal ini?

Oknum mahasiswa UNJ ini melakukan sejumlah protes, termasuk dalam media sosial, dan didukung oleh banyak orang. Maka bisa dibilang suaranya menjadi suara rakyat. Tapi tidak akan efektif ketika suara itu hanya sekadar suara saja. Mungkin memang betul, ada masalah yang bersumber dari rektor tersebut. Tapi apakah ada bukti atau tidak, itu yang kemudian menjadi masalah. Banyak mahasiswa yang memprotes kekuasaan di lembaga pendidikan tanpa memiliki bukti kuat. Juga banyak yang melebih-lebihkan. Dalam kasus ini, saya tidak tahu mana yang benar. Tetapi secara nekat bersuara untuk meruntuhkan kekuasaan, sebetulnya bukan hal yang tepat, dalam konteks si mahasiswa UNJ, yang bahkan selesai berkuliah S1 pun belum. Terlalu nekat dan gegabah, meskipun bila yang dia suarakan adalah kebenaran

Semua lembaga pendidikan punya masalah. Saya dan kawan-kawan saya pun sempat memiliki masalah. Tapi meskipun kami benar, kami berada di bawah kekuasaan. Dan secara realistis, bukannya oportunis, kami butuh ilmu dan gelar, sehingga penggunaan kekuasaan yang salah pun mesti kami telan bulat-bulat, ditahan selama kurun waktu tertentu.

Pengecut? Mungkin, bagi sebagian orang. Tapi ada kalanya kita harus tahu kapan sebaiknya kita diam, kapan mesti bersuara. Terlebih menghadapi kekuasaan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe