Kekasih Hati

12.40




Kan kukenang, senja indah waktu bulan purnama..


Ada beberapa hal yang mungkin akan saya tulis saat harus mengenangmu. Tidak lagi tentang cinta, itu sudah sangat biasa dan mungkin kita akan bosan mendengarnya. Jadi, saya tulis saja mungkin tentang senja.
Saya tahu, senja hanyalah sebagian nuansa alam yang hadir karena rotasi bumi. Bukankah itu tidak istimewa? Tapi saya suka meletakkan beberapa peristiwa pada tempat dan waktu tertentu. Mungkin termasuk tentang kamu. Tentang kita yang pulang ke rumah masing-masing saat senja sudah tiba. Lambaian tangan di balik pagar. Senja itu, yang sewarna oranye matang. Seperti kue wortel yang seringkali disajikan oleh Ibumu.

Mungkin benar yang dikatakan Jacques Lacan, kalau manusia selalu punya lubang di dalam hatinya. Lubang yang bisa diisi dengan apa saja. Termasuk cerita tentang kita. Saya tahu, cepat atau lambat, kita tidak akan bersama. Tapi saya tidak menyangka kalau hal tersebut terjadi lebih cepat daripada yang saya duga. Tahun-tahun berlalu dan senja demi senja berganti. Kamu bertambah dewasa. Pun saya. Bila bagi saya senja selalu memiliki makna yang sama, mungkin tidak bagimu.

Mungkin untukmu yang telah beranjak dewasa, senja dan sepaket warnanya hanya sekadar fenomena alam yang banal. Mungkin tidak ada nilai rasa di sana, bagimu. Mungkin juga tidak ada lagi, atau tidak pernah ada memang, rasa bagi saya. Mungkin hanya rasa saya saja yang terlalu banyak tumpah ruah, hingga saya salah artikan sebagai rasamu juga. Rasa yang tumbuh saat kita bersekolah bersama, menghabiskan waktu bersama usai bel pulang berbunyi, bermain sepeda, mengejar angin, menyibak rumput, putri malu, menamai pohon dan menerka aktivitas manusia. Mungkin bagimu, rangkaian itu hanya sekadar penghabis waktu di masa kanak.
Hingga pada suatu senja, yang warnanya masih serupa kue wortel ibumu, saya sadar, sewarna muram. Meski masih selalu saya konotasikan denganmu. Tapi tak lagi sama, keindahannya.




You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe