Hubungan Cinta Atas Nama Kesamaan

21:11



Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya membicarakan tentang seseorang yang menikah usai melakukan ta'aruf dalam waktu singkat. Kami berdua kemudian berkomentar bahwa sangat sulit, menikahi seseorang tanpa proses pacaran, setidaknya mengobrol secara intens dalam kurun waktu tertentu, menyelami isi hati masing-masing. Bukankah itu riskan, menikahi seseorang yang asing? Lagipula, salam ta'aruf, bisa saja seseorang berbohong mengenai dirinya.

Tapi teman saya yang lain berkata, kalau ta'aruf works, at least for some people. Dan kuncinya adalah kesamaan. Dalam prinsip, tentunya, dan bukan sekadar kesamaan dalam hal semacam film favorit, tempat liburan favorit, dan sebagainya.

Mungkin, kurang lebih begini: orang yang ta'aruf, saling meyakini satu sama lain bahwa kedua pihak jujur, dan kalaupun ada kekurangan, toh manusia memang tak ada yang sempurna, sehingga dapat meminimalisir hal-hal semacam 'kamu kok berubah nggak kayak dulu lagi'. Sementara itu, bagi mereka yang berpacaran, mereka butuh menyelami isi pikiran satu sama lain dalam kurun waktu tertentu, secara intens, dalam serangkaian percakapan yang privat.

Lalu, mana yang benar? Semuanya benar. Karena manusia memiliki definisi yang berbeda perihal kecocokan dan pernikahan. Jadi, tidak bisa kita mempertanyakan "emang bisa, taaruf, nikah sama orang yang nggak kita kenal?", dan begitu pula sebaliknya. Semua kembali pada prinsip. Toh, esensi pernikahan yang sebenarnya adalah menyatukan berbagai perbedaan dalam satu wadah prinsip yang sama, kan?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe