Dunia yang Berisik di  ‘Conversation: Endless Acts in Human History’

22:51



Mungkin kita semua tahu cerita tentang proklamasi kemerdekaan. Atau Pemilihan Miss Universe. Atau juga kemenangan seorang presiden dalam pemilu. Semua itu adalah cerita yang mendapatkan perhatian khalayak ramai dan disorot oleh berbagai media. Tetapi tidak semua orang tahu cerita tentang seorang anak, di suatu tempat, yang baru saja belajar berjalan. Tidak semua orang peduli tentang cerita seorang remaja yang sukses dalam resital piano pertamanya. Mengapa tidak tahu? Karena kepentingan peristiwa tersebut dianggap tak sebesar peristiwa yang melibatkan banyak orang terkenal, dan dalam acara yang besar. Dan juga mungkin dianggap tidak istimewa.



Tapi istimewa ataupun tidak, besar ataupun tidak, cerita tetaplah cerita. Dia tetaplah ada. It exists in this whole world. Itulah yang sepertinya ingin ditunjukkan oleh Entang Wiharso, seniman asal Indonesia, dan Sally Smart, yang berasal dari Australia, dalam pameran berjudul 'Conversation: Endless Acts in Human History' yang dibuka pada Hari Kamis, 14 Januari 2016 di Galeri Nasional Jakarta.





Kalau kita lihat selintas, pameran tersebut hanyalah sekadar rangkaian patung-patung tentang apa saja, bermacam budaya mulai dari Jawa, Cina, Latin, hingga Belanda. Juga kartu-kartu yang berisi banyak sketsa, mulai dari anak bermain hingga Gempa Jogja. Biasa saja, sekilas seperti karya seni yang berisik. Yang banyak omong, begitulah.



Tapi di situlah esensinya.


Bumi ini diisi oleh banyak orang. Banyak orang yang kemudian membentuk berbagai bahasa. Berbagai budaya. Menjadi cerita. Yang banyak, yang ribut, berkumpul dari waktu ke waktu. Waktu mencatat mereka menjadi sejarah. Ada yang lebih menonjol, ada yang terabaikan. Tapi semuanya ada. Terlupakan maupun diingat, semuanya tetap ada, dan punya nilai penting masing-masing. Ada yang penting bagi seluruh umat, ada yang penting hanya untuk sebagian masyarakat. Ada pula yang penting bagi seorang individu saja.





Semuanya tergantung persepsi kita. Karena pada dasarnya, kita sedang berada pada sebuah lahan maha luas bernama waktu, di mana di dalamnya tertampung ribuan cerita bak potongan lego besar kecil, sederhana rumit, dan tangan kita lah yang kemudian memilih: mana yang akan kita ambil? Mana yang akan kita ingat baik-baik?
Apabila Anda melewatkan pembukaan pameran tersebut, Anda masih dapat melihatnya hingga 1 Februari 2016, tentunya masih di Galeri Nasional.

Foto: Zulfikar Aristianto || @aristian97

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe