Bom, Ketakutan yang Menyebar, dan Hilangnya Rasa Skeptis

17:58



Apa yang lebih mudah menyebar ketimbang aroma parfum dan penyakit? Ketakutan. Seperti pesan berantai tentang ancaman bom yang beredar usai ledakkan bom di depan Sarinah Thamrin, Jakarta. Banyak kemudian menyusul pesan berantai yang mengatakan bahwa akan ada bom susulan di beberapa titik di Jakarta.

Dalam cengkeraman kerakutan, wajar bagi banyak orang untuk percaya. Termasuk bagi mereka yang kritis. Rasa panik membuat orang tidak lagi menggunakan logika. Tidak lagi mudah meragukan hal-hal yang semestinya diragukan. Tidak lagi menggunakan akal, begitu mungkin yang akan dikatakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf Prancis pada masa humanisme, yang terkenal dengan kata-kata Je pense donc je suis (aku berpikir, maka aku ada).

Manusia memiliki indra dan juga otak. Tapi banyak di antara mereka yang kemudian mempercayai hal-hal yang tidak ditangkap oleh indera mereka sendiri, dan mengolahnya di dalam otak mereka untuk kemudian dianggap sebagai sebuah fakta. Ini berbahaya. Inilah kadang yang kemudian mengantarkan kita pada prasangka buruk, yang berimbas pada banyak hal negatif. Dalam kasus bom ini, jelas.mebuat masyarakat panik, pekerjaan terganggu, stabilitas terganggu. Rasa panik akan mengacaukan banyak hal.

Untuk itu, kita haruslah memiliki rasa skeptis. Bukan untuk menjadi pribadi yang tidak peduli dan tidak memiliki empati. Tetapi rasa skeptis akan membuat kita tidak mudah disusupi oleh berbagai hal yang belum terbukti sebagai fakta. Rasa skeptis akan membuat kita terus menerus mempertanyakan sesuatu, apalagi yang belum bisa dibuktikan dengan indra kita. Rasa skeptis akan menghindarkan kita dari berbagai kebohongan maupun propaganda.

Lagipula, kini kita hidup di lingkungan dan era yang membuat orang menjadi peduli akan segala hal dengan mudahnya, tanpa saringan. Terlebih gempuran informasi di sosial media. Semua orang bisa memberitakan. Semua orang bisa bercerita tentang apa saja, bisa menjadi apapun tanpa perlu lisensi. Dan semua orang bisa dengan mudah mempercayai apapun. Kepercayaan biasanya berkonotasi positif. Banyak orang yang bilang bahwa kita harus berpikir positif (positive thinking) terhadap segala hal. Tapi pikiran positif terkadang membuat kita lunak dan melupakan keragu-raguan. Menjauhkan kita dari tindakan yang seharusnya kita miliki untuk seutuhnya menjadi manusia: berpikir.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe