Banggakah Kamu Memiliki Profesi yang Paling Berpengetahuan?

11:15



Banyak orang yang bangga dengan profesinya, termasuk saya. Tetapi sepertinya tidak ada yang lebih bangga ketimbang beberapa teman saya.

Beberapa teman ini, bekerja sebagai jurnalis. Jurnalis itu memang pekerjaan yang cukup hebat (dan tentunya cukup berat, di beberapa media). Maka dari itu saya tidak heran sih, kalau mereka begitu bangga dengan profesi mereka. Tapi ada titik di mana mereka tidak sekadar bangga, tapi cenderung memuja. Memuja profesi mereka sendiri.

Kok tahu kalau memuja? Jelas. Beberapa kali, di media sosial, saya melihat pernyataan yang begitu frontal, tentang hebatnya menjadi jurnalis. Misalnya nih, ada jurnalis yang pernah menulis status semacam "kalo ga ada kita, emang lo tau permasalahan di Indonesia", atau "Lo semua cuma duduk di rumah, kita yang menantang maut ngeliput bom". Ada juga yang saking bangganya, sampai berulang kali memotret kartu persnya. Ya, kartu pers. Tidak mengapa kalau cuma sekali sih. Tapi berkali-kali dan disertai nuansa tulisan yang pongah. Seolah seperti mau bilang "Gue punya akses ke mana-mana. Lo?"

Mungkin kalau jurnalis dibilang punya pengetahuan lebih dibanding orang dengan profesi lain (dalam hal wawasan terkini), ya tidak salah. Itu kan, pekerjaan mereka. Lalu kenapa kalau mereka punya pengetahuan? Kan itu sesuatu yang abstrak, bukan seperti uang yang bentuknya riil dan jelas?

Tapi pengetahuan itu, punya kekuatan yang besar, lho. Michel Foucault, filsuf Prancis yang memusatkan pemikirannya pada masalah sosial dan sejarah, mengatakan bahwa pengetahuan dapat menjadi alat bagi kekuasaan. Iya, kekuasaan. Seperti yang pernah dibahas di sini, kekuasaan tidak hanya berada di tangan presiden, atau raja. Menurut Foucault, kekuasaan menyebar di mana-mana. Dan kekuasaan juga bersumber dari pengetahuan.

Misalnya, relasi antara dokter dan pasien. Dokter punya pengetahuan yang lebih banyak terkait penyakit yang diderita oleh pasien, sehingga dalam proses konsultasi, dokterlah yang lebih berkuasa. Atau dalam relasi antara dosen dan mahasiswa, di mana dosen, dengan pengetahuan yang lebih dalam bidang tertentu, memiliki kekuasaan terhadap para mahasiswa -mulai dari kekuasaan untuk mengerjakan tugas hingga memarahi-

Dalam beberapa kesempatan, jurnalis sebetulnya juga memiliki kekuasaan ini. Ya, kekuasaan untuk memberitahukan sesuatu yang masyarakat lain tak tahu. Ini sebetulnya positif. Dan menjadi menyebalkan saat kekuasaan ini dimanfaatkan untuk menekan orang, untuk tidak bermacam-macam kepadanya, mengingat perannya sebagai pihak yang dapat menyuarakan apa saja kepada masyarakat. Contoh nyatanya, ya, ketika jurnalis menggunakan identitasnya untuk menghindari tilang, atau untuk masuk ke sebuah acara , di luar liputan tentunya.

Kekuasaan itu pun menjelma menjadi alat untuk memperbesar rasa pongah. Rasa bahwa dirinyalah yang paling berpengetahuan, paling berpengalaman, dan paling militan. Iya, militan. Lalu kemudian memandang rendah dan lembek terhadap profesi lain.

Foto: pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe