Alan Rickman, dan Hiperrealitas Kematiannya

20.45



Pemeran Profesor Severus Snape, Alan Rickman, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 14 Januari 2016 di usia ke-69 tahun. Profesor Snape, tentunya adalah tokoh yang tak akan dilupakan oleh seluruh penggemar Harry Potter, lantaran ia merupakan seorang unsung hero, yang rela mengorbankan banyak hal, bahkan reputasinya, untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan Lord Voldemort.

Profesor Snape sendiri jelas telah meninggal lebih dulu ketimbang pemerannya, Alan Rickman. Dan sebagus apapun Rickman memerankan Snape, dia tetaplah Alan Rickman, seorang aktor berbakat, dan bukanlah Severus Snape, penyihir jebolan Slytherin yang mencintai Lily Potter sepenuh hati. Sebetulnya pula, tidak salah kalau masyarakat mengenangnya lewat karakter tersebut.

Hanya saja, dalam beberapa bagian, ada masyarakat yang berhalusinasi secara berlebihan. Alih-alih mengucapkan duka cita atas meninggalnya seorang aktor kawakan, sebagian besar masyarakat seolah-olah mengucapkan selamat tinggal pada Severus Snape. Lewat quotes dan meme yang sarat akan aktingnya saat berada di sekolah sihir Hogwarts.

Masyarakat tahu, Harry Potter tidak nyata. Tetapi masyarakat senang terjebak dalam fantasi tersebut. Pada sebuah hiperrealitas, di mana fantasi-fantasi seolah menjadi nyata, menempati posisi lebih tinggi ketimbang kenyataan, dan meruntuhkan kenyataan tersebut. Sebuah fenomena sosial yang diutarakan oleh Jean Baudillard, filsuf asal Prancis yang pemikirannya banyak.digunakan pada studi-studi kultural

Jean Baudillard juga menggagas dua konsep dalam hiperrealitas tersebut: simulasi dan simulacra. Simulasi adalah ketika representasi/gambaran dari sebuah hal, justru dianggap lebih nyata ketimbang hal itu sendiri. Dalam kasus Snape-Rickman, masyarakat menganggap bahwa yang meninggal dunia adalah Snape. Seorang penyihir, bukan manusia biasa, yang dapat mengalami sakit, yang merupakan seorang aktor dan tidak hanya memerankan Severus Snape saja. Tenggelamlah kemudian manusia dalam simulakra, dalam manipulasi kenyataan tersebut, dalam sebuah dunia yang menyatakan bahwa Severus Snape dan serangkaian tokoh Harry Potter lain adalah makhluk-makhluk nyata.

Pertanyaannya adalah: meskipun dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan, mengapa manusia tetap memilih untuk hidup dalam fantasi?

Mungkin jawabannya hanya satu: hampir semua manusia ingin lari dari dunia nyata yang dianggap kaku, membosankan, dan terlalu terstruktur. Manusia menganggap bahwa dunia-dunia fantasi yang dibuat oleh manusia lain adalah ruang-ruang yang lebih menyenangkan dan lebih hidup. Lebih manusiawi juga. Dalam kasus Severus Snape, mungkin banyak manusia yang berpikir seperti ini: jaman sekarang, mana ada manusia yang rela mengorbankan segalanya dan berpura-pura jahat untuk tujuan yang mulia? Dan untuk perempuan mungkin begini: mana ada lelaki yang bisa mencintai seorang wanita seindah Severus Snape?

Akuilah kalau sesungguhnya, seberapa jauh pun kita tumbuh, ada jiwa kanak yang masih tersimpan dalam diri kita.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe