Absurditas Dalam Distrik Bisnis

21.33



Sewaktu kecil dulu, saya amat suka pergi ke daerah Sudirman, saat berlibur di Jakarta. Saya membayangkan diri saya berada di salah satu lantai teratas gedung perkantoran di Jakarta, bekerja dari pagi hingga senja. Dengan mengenakan blazer warna gelap dan high-heels. Kelihatannya keren dan menyenangkan.

Beberapa belas tahun setelahnya, impian tersebut akhirnya terwujud. Namun, kebahagiaan itu tidak seperti yang saya bayangkan. Bekerja di gedung perkantoran yang tinggi di daerah Jakarta Pusat, rupanya membuat saya terkena depresi berat. Mungkin memang bukan gedungnya yang membuat saya tertekan. Tetapi jenis pekerjaannya.

Entah sudah dibuktikan atau belum dalam sebuah penelitian, saya merasa bahwa semakin mewah ruang kantor yang disewa oleh sebuah perusahaan, maka semakin berat pula tuntutan pekerjaannya. Dua kali saya bekerja untuk perusahaan asing, dan dua-duanya tidak bertahan lama. Saya didera sakit kemudian. Padahal kantor mereka bagus. Terletak di gedung perkantoran di wilayah strategis di Jakarta Pusat dan Selatan. Kalau ke depan, akan disambut oleh pusat perbelanjaan dan hiburan yang mewah. Tapi rupanya, bukan itu yang saya inginkan.

Selain ditekan, saya pun merasa terjebak dalam rutinitas yang entah ke mana ujungnya dan apa esensinya bagi saya sendiri. Orang lain bisa bilang bahwa gaji besar dapat menghibur. Tetapi tidak bagi saya. Bukannya tak butuh uang. Tapi antara kebahagiaan dan materi yang didapatkan tak sepadan. Ketika liburan pun, saya merasa resah karena tahu bahwa pada Hari Senin hingga Jumat, saya akan mengulang rutinitas yang sama. Tiada ujungnya.

Ini hampir tidak ada ubahnya dengan mitos Sisyphus, seorang tokoh Mitologi Yunani yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu ke puncak gunung, menurunkannya ke kaki gunung, lalu mendorongnya kembali, karena dianggap angkuh oleh para dewa. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa apa yang dilakukan Sisyphus adalah hal yang sangat memuakkan, sia-sia. Tapi tidakkah kita berpikir bahwa kita pun juga melakukan hal yang serupa, hanya dalam bentuk yang berbeda?



Seperti itu juga yang saya rasakan selama bekerja di salah satu distrik bisnis Jakarta. Betapa mengerikan saat saya bisa menebak apa yang kemudian akan saya lakukan keesokan hari. Apa yang akan saya pikirkan keesokan hari. Bukan karena saya memiliki indra keenam. Tetapi karena saya sudah paham dengan rutinitas itu.

Dan saya pun menyadari bahwa saya terjebak dalam sesuatu yang bernama absurditas, seperti pemikiran Albert Camus, filsuf Prancis, dalam bukunya yang berjudul La Mythe de Sisyphe (Mitos Sisifus -bercerita tentang dongeng Sisifus dan pemikirannya tentang absurditas hidup) Bukan hanya secara fisik. Tapi juga pikiran. Pikiran saya hanya terbatas pada apa yang harus saya kerjakan, dan bukan apa yang ingin saya kerjakan. Dan saya mengulangnya setiap hari, tidak tahu kapan akan berhenti. Saya merasa asing dengan diri saya sendiri

Albert Camus pernah bilang, kalau absurditas tersebut hanya bisa dimaknai hanya dengan perjuangan (se révolter). Tapi bagaimana bila saat itu, saya tidak mau berjuang lagi? Rasa perjuangan saya saat itu sudah hilang karena saya tidak punya minat lagi untuk bekerja di sana. Minat saya tertelan oleh gedung-gedung perkantoran yang tinggi, besar, menjulang. Pun juga rasa saya sebagai manusia. Mungkin manusia lain pun demikian, seperti yang saya lihat selama ini.

And that was the point when i decided to quit. Bukan untuk menyerah pada absurditas. Tapi saya ingin mencari bentuk absurditas lain yang memang ingin dan pantas saya perjuangkan.

Toh pada dasarnya, hidup memang hanya tentang tumbuh dan mengulang.

You Might Also Like

4 komentar

  1. saya mengalami ini mba, tapi saya tidak mau bicara dengan siapapun karena khawatir dikira stress oleh orang lain. jadi aktivitas yang saya lakukan saat ini ialah mencoba menghargai hidup dan lebih semangat.

    BalasHapus
  2. Betul mas, bahagia itu masalah pilihan. Kalau kita masih merasa kuat ngejalanin sesuatu, kita boleh meneruskan hal tersebut, tapi kalau udah nggak kuat, kita harus berani ambil keputusan yang bikin kita bahagia, tapi juga secara bijak. Karena hidup yg cuma sekali ini sayang banget kalau dibikin susah..

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. setuju dandelion dengan perkataanmu,prinsip aku adalah aku seorang yang kuat dan aku bahagia dengan apa yang sedang ku alami. perjuanganku saat ini ialah untuk terus hidup dengan absurditas, dimana aku tumbuh diantara mereka dan terus mengulang lalu belajar tiada henti dan akan aku tinggalkan something values to society hingga kutemukan ujung dalam perjalanan hidupku (kematian). aku akan meninggalkan sejarah untuk diriku sendiri dan keluargaku serta masyarakat bukan untuk dikenang namun untuk menemukan kebahagian yang hakiki hingga aku tenang saat aku menghembuskan nafas terakhir

    BalasHapus

Our Shop

Subscribe