Who to Know: Karl Jasper

19.47

Manusia lebih dari sekadar yang ia pikirkan tentang dirinya - Karl Jasper
Apa itu filsafat? Apakah itu adalah ilmu pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan barusan akan mengantarkan kita pada salah satu sosok pemikir dari Jerman: Karl Jasper.

Karl Jasper, yang lahir di Jerman Utara, mempelajari tiga hal dalam hidupnya: hukum, kedokteran, dan juga filsafat. Penuh dengan ilmu pengetahuan? Tentu saja. Jasper lahir pada abad ke-20, di mana ilmu pengetahuan adalah segala-galanya, dan sangat gencar dipelajari. Orang-orang tak.sekadar haus, tetapi juga memuja ilmu pengetahuan.

Saking dipujanya ilmu pengetahuan ini, manusia-manusia pun hanya dianggap sebagai "objek" dari ilmu pengetahuan yang sama, yang tidak unik. Manusia, ya manusia, begitu menurut masyarakat pada zaman itu. Ibaratnya, sama dengan kalau sekarang, kita menganggap semua harimau sama, misalnya, karena ilmu biologi telah memberikan pengetahuan tentang karakteristik khusus dari harimau.

Inilah yang tidak disetujui oleh Karl Jasper. Menurut Jasper, setiap manusia unik dan meniliki cara berfilsafatnya masing-masing. Ilmu pengetahuan, menurut Jasper, memiliki keterbatasan dalam memahami keberadaan dan segala hal yang ada di dalam pikiran manusia, karena sifatnya yang empiris. Cara berfilsafat manusia, kesadaran akan dirinya dan apa yang ada di dalam pikirannya inilah, yang akan membawa manusia pada eksistensi. Dalam bukunya yang berjudul On My Philosophy, yang diterbitkan pada tahun 1941, Jasper mengatakan bahwa hanya sebagai individulah seorang manusia dapat berfilsafat dan menemukan eksistensinya.

Meski terkesan individual, tetapi Jasper juga menekankan pentingnya komunikasi dengan orang lain. Pemikiran seorang manusia, haruslah diteruskan kepada orang lain, untuk bisa disepakati sebagai sebuah kebenaran. Sebuah pemikiran yang tidak disetujui oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran, hanya akan menjadi sebuah bentuk "usaha untuk berpikir".


Selain kepada masyarakat, ada satu hal yang ditekankan oleh Jasper, yang kemudian membedakannya dengan beberapa filsuf lain, seperti Nietzche misalnya. Bila Nietzche berpendapat bahwa keberadaan Tuhan dalam berfilsafat akan menghilangkan kebebasan manusia, maka Jasper berpikir sebaliknya. Eksistensi sejati didapatkan melalui transendensi. Transendensi ini memiliki makna pengarahan diri pada yang Illahi. Yang Illahi ini tak sekadar Tuhan saja, tetapi apa saja yang berhubungan dengan Tuhan, segala hal yang ada dalam semesta ini. Dengan menghayati Illahi, manusia pun dianggap dapat menghayati kebenaran. Maka Jasper pun menolak beberapa pemikiran yang menyangkal keberadaan Illahi, salah satunya nihilisme (semua tidak ada, pun juga Tuhan).

Jadi, menurut Jasper, untuk membentuk eksistensi sejati, maka selain berkomunikasi dengan masyarakat, manusia pun selayaknya menghayati Illahi, kekuatan besar di dunia ini. Pemikiran ini cukup unik, mengingat banyak filsuf yang kemudian meniadakan konsep illahi. Selain itu, filsafat Karl Jasper pun dianggap filsafat yang humanis, yang memandang manusia secara utuh dan bukan sekadar objek semata.

Sumber foto: Mobileword

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe