Refleksi Akhir Tahun

08.39



Hampir semua orang membuat refleksi menjelang pergantian akhir tahun. Dan tak hanya individu, tetapi juga perusahaan dan pihak sekelas kementerian. Menurut saya, ini semacam tradisi. Sama seperti kalau kita melakukan midodareni (tradisi Jawa), sebelum pernikahan, atau melakukan upacara wisuda saat kelulusan. Tidak ada yang salah dari sebuah tradisi. Itu hanyalah salah satu cara manusia untuk mengekspresikan sebuah hal yang dianggap penting, sebuah bentuk kebiasaan manusia yang kemudian diteruskan secara turun-temurun.


Tapi banyak tradisi refleksi yang kemudian menjadi sebuah momen perbaikan untuk tahun ke depan. Dan meskipun manusia tak akan pernah luput dari kesalahan, pasca refleksi, toh keadaan berjalan serupa dengan tahun sebelumnya. Perusahaan dan kementerian tetap memberlakukan peraturan yang sama, kebiasaan yang sama, strategi yang sama, begitu juga dengan individu. Dengan kebiasaan yang sama, target yang tidak pernah tercapai.


Lalu apa fungsi dari refleksi akhir tahun? Mungkin bagi beberapa pihak, itu sekadar tradisi. Mengikuti trend. Sama seperti pakaian.


Sekali lagi, tradisi bukan hal yang salah. Tapi dalam beberapa hal, itu akan menjadi sebuah hal yang omong kosong. Contohnya ya, refleksi akhir tahun ini. 


Apa esensi refleksi akhir tahun apabila hal tersebut hanya bentuk keikutsertaan individu atau kelompok untuk meramaikan tradisi akhir tahun? Apa esensi refleksi akhir tahun bila itu hanya sekadar media untuk mencatat kesalahan kita selama setahun ke belakang? Hal-hal semacam inilah yang kemudian jadi mencoreng makna dari “tradisi” , menjadi sebuah hal yang dicibir dan dianggap kolot.



Barangkali, sudah tiba saatnya bagi kita untuk berhenti menunda.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe