Lelaki dan Komitmen

20.50



Seseorang pernah bertanya pada saya: katanya dia sayang, tapi nggak pernah tuh bicara nikah

Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya untuk mendengar hal semacam ini. Bahkan dalam kisah fiksi pun, sering saya lihat fenomena kakak-minta-kawin seperti ini. Dan biasanya, pelakunya adalah perempuan.

Para perempuan selalu heran mengapa kebanyakan lelaki mudah untuk mencintai, tetapi sulit berkomitmen. Hampir sama dengan masalah hubungan seks yang kemarin baru saja saya bahas. Entahlah, pria menganggap komitmen sebagai akhir dari kebebasan. Baik kebebasan finansial, karir, maupun cinta. Pernikahan memberikan sebuah tanggung jawab besar pada pria, yang menakutkan baginya.

Bukan berarti perempuan tak punya tanggung jawab dalam pernikahan. Perempuan pun memiliki tanggung jawab besar. Terlebih dengan kehadiran anak. Tetapi, dalam pernikahan, perempuan merasa lebih terlindungi. Ada sebuah tempat berteduh yang mereka anggap nyaman, seperti rumah. Ada sebuah kepastian yang membuat mereka tenang. Pada dasarnya, inilah yang membedakan perempuan dan lelaki. Kebanyakan lelaki cenderung bersifat petualang (makanya tak mengherankan kalau banyak lelaki suka main game, it drives his adrenalin). Sementara itu, kebanyakan perempuan suka dengan hal-hal yang pasti dan terencana.

I don't want to give you any advice about how to make him bends on his knees and make you his wife. Tapi hampir tidak ada pernikahan bahagia yang didasari paksaan. If he doesn't want you, then leave him. Or if you want to make him really wants you, be a game. Jangan pernah memohon untuk dinikahi, karena lelaki bisa sekena hati dan menganggap kalian begitu ketergantungan padanya. Tetapi sungguh, tak ada jalan terbaik selain menikah dengan lelaki yang ingin menikah dengan kalian, dan bukannya menikahi lelaki yang terpaksa menikahi Anda karena gerah dengan rengekan "Kapan kamu melamar aku?"

Sumber foto: POP SUGAR

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe