Ketika Bercinta, Kita Tidak Benar-Benar Sedang Bercinta

09:10




Aku harap kita tidak pernah benar-benar bertemu wajah. Atau lebih jauh, aku harap kakiku tidak pernah lelah.

Aku tidak pernah bilang kalau aku membencimu. Tetapi benci dan cinta hanyalah perasaan dasar. Ia kemudian tumbuh menjalar, ke mana-mana, berkembang semakin besar dan rumit. Seperti kalau kamu dulu menanam kecambah di waktu taman kanak-kanak (kamu menyenangkan sejak kanak hingga sekarang. Maka dari itu aku mencintaimu begitu dalam).

Aku selalu ingin berada di dekatmu. Aku juga selalu ingin bercinta denganmu. Hanya saja ketika bercinta, kita tidak pernah benar-benar bercinta. Bukannya apa. Kita berdua sama-sama punya celah. Siapa yang akan masuk ke sana, selain jemariku dan jemarimu?

Kita berdua dapat menerima keadaan itu. Tetapi bila semua atap rumah terbuka, bila isi hati bisa tumpah ruah dan umur tinggal sebentar, masihkan kita berdua dapat mengaku bahwa tanpa benar-benar bercinta, kita bisa saling mencinta? Aku masih ingat raut wajah jijik Ibuku saat melihat pengakuan dua orang lelaki, selebriti, di televisi, bahwa mereka berdua sepasang kekasih.

Aku tahu cinta kita salah tempat. Tapi hatiku tak mau pindah tempat. Tidaklah indah kepindahan itu, katanya. Di antara deretan manusia yang kutemui, kamulah yang selalu ingin kumiliki. Kabarmu adalah candu. Sekali tak kuteguk, ingin matilah aku. Dan aku lebih baik mati sekejap ketimbang punya perasaan ingin mati. Kamu tahu? Rasanya sangat menyakitkan. Seperti kalau kamu terbaring di tempat tidur, dengan perut sebah, sementara itu di luar senja dan hanya ada rintik hujan. Begitu luas perasaan kosong tergelar di dalam hati.
***

Belum lama kita menyewa sebuah tempat tinggal. Satu kamar berisi kamar mandi, tempat tidur, dan televisi berlangganan. Tidak jauh dari tengah kota. Ibuku gembira karena aku berbagi tempat, berbagi biaya. Jadilah pengeluaranku tak begitu banyak. Lagipula, Ibuku mempercayaimu sebagai kawan dekatku. Padahal Ibu tak tahu kalau hampir setiap malam, kita bercinta.

Kita bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kampusmu. Aku sudah lulus setahun lebih dulu. Sedangkan kamu masih berkutat dengan skripsi dan bahasa-bahasa program yang tak kupahami. Waktu itu siang terik. Aku memesan segelas lemon tea dan sepiring kentang goreng, menunggu saudaraku yang adalah adik tingkatmu. Sementara itu jam makan siang membuat kafe menjadi ramai, hampir tak ada tempat duduk. Kecuali mungkin sebuah kursi di hadapanku.

Lalu kamu datang. Membawa komputer jinjing bergambar Charmender, Pokemon naga yang mengeluarkan api. Juga sebuah tas yang, usai mencintaimu, baru kutahu bahwa namanya adalah Longchamp Cuir (aku menyamakan tas tersebut dengan dompet ibu-ibu, kamu bilang harganya sesuai dengan kesenangan yang kamu dapatkan). Padaku kamu bertanya apakah tempat duduk di hadapanku kosong, dan aku menjawab ada. Itu hampir sama seperti ketika kamu bertanya, adakah ruang yang kosong di hatiku? Ada, begitu luas, dan ternyaya hanya untukmu.

Awalnya kita tak saling bincang. Aku hanya beberapa kali melihat ke arahmu, semacam keingintahuan kepada orang asing. Tapi aku belum jatuh cinta padamu. Sementara itu waktu bergulir, siang panas kering, dan teh lemonku semakin hambar saja. 

Aku lupa kapan jatuh cinta padamu. Tanggal lima belas? Atau lima hari setelahnya? Tapi aku ingat apa yang kamu pesan saat itu. Kamu memesan segelas wedang hangat. Ini matahari begitu giat menerpa. Tapi kamu berpanas bahkan hingga tubuhmu. Bagiku kelihatannya bodoh. Lalu memancing pertanyaan

"Panas gini, minum teh anget"

"Lah, ada larangan kalau panas nggak boleh minum teh anget?"

"Manusia cenderung mempertanyakan hal-hal yang aneh, kan? Sepertinya aku nggak perlu deh jelasin sisi mananya yang aneh. Kamu kan uda semester akhir", aku menyebutkan jurusan dan kampusmu yang unggul, "Kamu pasti tahu anehnya di mana, kecuali kalau kamu merasa hari ini sejuk. Tapi dahimu berkeringat dan itu artinya kamu kepanasan."

Selang beberapa waktu kamu terdiam. Lalu berderai tawamu. Manis sekali. Deretan gigimu rapi, berjajar semacam itu. As i look into a cho-cho train. Pada tawamu aku jatuh cinta berkali-kali.

Begitu saja lantas kita bertukar kata. Kamu banyak membahas tentang tugas akhirmu, bahasa-bahasa pemograman yang tak kupahami. Tentang apa, ya? Perancangan sistem inferensi? Aku tak tahu apa itu, Cho-cho train. Di kampusku dulu, aku belajar tentang komunikasi media. Framing. Kujelaskan selintas kamu pun akan langsung paham. Untungnya, dalam cinta, kita satu bahasa. Begitukah? Ada hasrat yang terpendam, lama, yang dapat kita bicarakan jujur satu sama lain.

***

It is your turn, cho-cho train
No, it is yours, lemon tea.

Hari ini kita memutuskan memasak. Sebelum bercinta yang tidak saling bercinta. Memasak Norwegian Salmon. Lezat sekali, tapi agak mahal. Beruntung ini tanggal 30. Aku dan kamu baru saja terima gaji. Jujur, bersamamu, banyak pengeluaran yang bisa dipangkas. Aku menggunakan alat make-up yang sama denganmu. Juga bertukar baju dan tas. Terkadang aku membawa tas Longchamp kesenanganmu lalu kamu akan meledekku "Bagaimana? Katamu harganya terlalu mahal? Kesenangan dan gaya itu, priceless, kan?"

Kalau sudah begitu aku ingin sekali memelukmu dari belakang. Lalu mengeja setiap lekuk tubuhmu. Seperti belajar angka dan huruf-huruf di Sekolah Dasar. Padaku kamu pernah bertanya, "Naya, kantormu isinya perempuan semua. Matamu nggak akan berhenti bermain, ya?"

Terkadang aku kesal dengan pola pikirmu. Begini, sayang. Aku jatuh cinta padamu, perempuan yang cantik. Tapi tidak berarti aku jatuh cinta pada semua perempuan di dunia. Aku tahu pertanyaanmu hanya sebatas perasaan takut kehilangan. Tapi tentunya kamu belajar logika selama bertahun-tahun di kampusmu. Dan kamu tahu betul bagaimana logika saat mencintai seseorang. Cinta selalu punya logika, Nina.

Kalau sudah begitu kita akan bertengkar. Tidak hebat. Hanya seperti hujan kancil, kamu tahu itu. Kita sudah hampir satu setengah tahun bersama. Kita memutuskan untuk bersama satu hari setelah kamu wisuda dan dilemparkan ke sebuah danau di kampusmu sebagai salah satu tradisi. Dan satu setengah tahun cukup untuk saling menyelami hati tanpa alat nafas apapun.

Tapi pertengkaran adalah hal terbaik untuk mengobarkan api nafsu kita. Terlebih malah hujan. Udara sejuk segar. Apa yang akan kita lakukan? Kamu bilang kamu belum lama membeli mainan baru. Bentuknya lucu, tabung, seperti, kamu tahu, sebuah benda yang tak kita berdua miliki.

Lalu di malam hujan itu, kita bercinta. Tapi tak pernah benar-benar bercinta.

***

Nina, kita tak pernah mempermasalahkan saat bercinta kita yang tak pernah benar-benar bercinta. 

Belakangan ini, kamu sibuk. Aku harus tahu itu. Matamu semakin cepat lelah. Berkutat dengan bahasa yang tak lagi sekadar C++. Aku tak paham bahasamu, tak mengapa. Aku tak bisa bincang apa-apa ketika bersama rekan-rekan kerjamu, kecuali yang umum. Tapi aku mulai tak paham ketika kamu suka pulang larut. Lalu akhir minggu ke rumah orangtua. Tak mengapa, sekali lagi. Tapi mengapa, Na?

Mengapa tak ada lagi tawa yang menunjukkan deretan gigimu yang seperti rangkaian kereta kanak itu?

Aku ingin bertanya. Tapi terlanjur kubilang padamu kalau cinta selayaknya memberi ruang untuk bernapas. Lagipula, kamu tengah meniti masa depanmu. Kita tak bisa bayar kamar, alat bantu, makan, dan apapun itu dengan cinta. Hanya saja sisi keperempuananku yang cemas, yang penuh dengan emosi bergejolak kadang timbul seperti uap panas pada ketel air yang biasa kau panaskan tiap pagi. Sering aku mencoba untuk mengintaimu. Mencari jejak sesuatu yang tak kuketahui lewat barang-barangmu. Semacam laptop, mungkin. Tapi aku hanya bisa membajak hatimu, bukan kata kuncimu. Aku menuliskan tanggal lahirmu, tanggal wisudamu, nama belakangmu, kombinasi keduanya, namaku, tanggal kita bertemu, kafe tempatmu meminum wedang, nama hamstermu di masa kecil, tapi semuanya nihil. Bagaimana? Aku rasa bahkan hatimu sudah mulai tak terbajak. Lalu begitulah kita terjarak.

Dan pada malam akhir-akhir ini, begitulah kiranya sikapmu sedingin angin malam. Gigil aku perlahan. Pada langit-langit putih sunyi, dengan semburat lampu tidur, kuputar kembali beberapa sketsa kita yang indah.

***

Aku pikir kita hidup di kota besar yang maklum dengan perempuan-perempuan karir yang menunda pernikahan. Atau tidak menikah sama sekali. Lagipula belum saja usia kita dua puluh lima. Apa yang kamu risaukan? Apa yang kamu cari?

Kamu pernah berkata padaku kalau cinta tak perlu pernikahan. "Kalau sudah pakai perjanjian, namanya bukan cinta". Beruntung aku mencintaimu dan punya keinginan seksual yang sama denganmu, juga kepercayaan kalau cinta itu membebaskan. Maka dari itu, tak perlu cinta kita diabadikan dalam bukti berupa buku hijau dan dua pas foto. Tak perlu pula kita menuntut model pernikahan lain selain pria dan wanita. Yang penting kita selalu punya ruang bersama, begitu kan?

Tapi pada suatu waktu, ketika aku mulai tak tahan dan kamu semakin sulit untuk kueja, kamu memberiku sebuah, pernyataan yang bertanya, mungkin? Berkata kepadamu tentang Ibumu yang sakit, tentang usia dan persembunyian, "Sempurnakah cinta kalau harus bersembunyi, tidak berkompromi?"

Aku tahu kamu benci pada Ayahmu. Lalu sama sepertiku, kamu membenci lelaki. Kamu pikir tak perlu banyak urusan pada makhluk yang darahnya hanya bisa bekerja di dua tempat saja, otak dan kelamin. Tapi kamu cinta pada Ibumu. 

Belum lama Ibumu melakukan pemeriksaan. MRI. Aku menyayangi segala hal yang kamu sayangi, termasuk Ibumu. Hanya saja aku ingin memilikimu, sayang.

"Ibumu nggak minta kamu menikah, kan?"
"Secara langsung, enggak"
"Dia nggak pernah meminta, kan? Nggak pernah, kan?"
"Secara langsung tidak, sayang."
"Kalau begitu, nggak usah menikah. Beres urusan. Toh kamu masih punya adik, dan kakak. Mereka bisa menikah. Tidak ada paksaan dalam menikah."
Kamu memilin ujung bajumu. Aku benci hal itu dilakukan pada waktu yang tak tepat
"Kita masih bisa bersama. Tak ada yang curiga. Tak ada yang melarang"
"Bagaimana caramu membahagiakan seseorang yang selama ini selalu berusaha membahagiakanmu"
"Dengan, dengan membuatnya bahagia? Melakukan apa dia mau?"
Kamu menjentikkan jari, "That's the point"
"Tapi Ibumu nggak pernah meminta untuk menikah, kan? Permintaan adalah sesuatu yang menunjukkan keinginan"
"Sayang, kita berdua tahu kalau baik kamu dan aku bisa baca orang."

***

Aku tidak tahu apakah dengan cintaku yang besar, tumpah ruah ke mana saja, aku bisa membencimu. Tapi semuanya adalah perasaan dasar yang tak perlu lagi dibahas. Perasaan kita salah tempat, bagaimanapun bentuknya.

Kamu bilang padaku. Ini tak akan menyakitkan. Kamu akan sibuk di media tempatmu bekerja dan semuanya akan perlahan, Naya. "Seperti kalau kamu diet. Kurangi porsi makan perlahan saja. Nanti lama-lama terbiasa". Begitu kau analogikan hubungan ini, yang kucibir di luar dan juga di dalam hati. Memang begitu. Kamu mengurangi intensitas berbicara. Kamu pulang larut malam. Kita tak pernah bercinta yang tak seperti bercinta. Alat-alat ajaib kita, entah kau letakkan di mana. Mungkin kau buang di tempat sampah. Ada pada suatu malam, hujan deras. Kita berpelukan erat sekali. Kalau kupinjam kata-kata Chairil Anwar, rasa tak sanggup kau kulepaskan. Tapi kita tak bercinta. Kamu menolak. Kamu hanya ingin meminjam rasa aman, dariku. Aku membencimu. Aku ingin menendang semua barang yang kamu miliki mulai dari buku berbahasa elektronik itu hingga semua Longchamp yang bentuknya tak ada bedanya. Tapi aku tak ingin kamu pergi. Aku tak ingin kamu hilang. Aku tak mau kamu tersesat di tempat yang tak kamu ketahui. Aku paham segala fobiamu. Aku paham segala ketidaksukaanmu pada dunia luar. Aku bisa menjadi rumahmu. 

Namun kamu memutuskan untuk pergi. Melaju tiba-tiba seperti kereta.

***

Aku selalu menunggumu dengan sabar. Kuharap akan lekas datang kembali seperti kalau aku menunggu kereta listrik. Ini sudah hampir dua tahun, dua tahun terburuk dalam sejarah kehidupanku.

Kamu memutuskan untuk pergi dengan dalih pindah tugas. Bukan dalih, sebetulnya. Tapi semacam ada konspirasi saja antara alam, kamu, dan perusahaanmu. Untuk menjauhkanmu dari aku. Aku mencengkeram tubuhmu seperti dulu, seperti biasa saat kita akan mulai bercinta yang tak seperti bercinta. Hingga tengkukmu air mataku mengalir. Kupinta padamu, Nina. Nina, menikahlah dengan lelaki. Bahagiakan Ibumu. Tapi aku mohon, selalu pulanglah kepadamu. Bilang pada suamimu, kamu main ke tempat Naya. Aku mohon, Nina. Segala hal selalu ada solusinya. Aku mohon jangan pergi.

Tapi kamu adalah orang yang selalu ingin menyelesaikan sesuatu dengan sempurna. Tinggalah aku kemudian dengan segala rasa malu yang ebrceceran seperti halnya kenangan kita dalam bentuk album foto tiket menonton struk Longchamp kertas koran petunjuk penggunaan alat seksual dan segala hal yang sempat kita miliki bersama. Kamu pergi tiga minggu kemudian.

Mataku senantiasa mengintaimu ke manapun kamu berada. Kupikir juga kamu sengaja meninggalkan jejak agar aku tahu. Kamu belum menikah. Karirmu semakin meningkat saja. Tapi kulihat beberapa waktu terakhir ini ada lelaki yang sedang dekat denganmu. Tak bisa kubandingkan denganku lebih baik siapa. Ini terlalu rumit. Cinta kita bukan cinta yang banyak orang kenal, Nina. Cinta kita penuh. Hanya saat bercinta, kita tak pernah benar-benar bercinta. Mungkin itu juga yang sebetulnya tak kamu suka. Kamu selalu ingin sempurna dalam banyak hal.

"Nina, kalau saya operasi kelamin, atau lahir kembali jadi lelaki, mau nggak kamu sama saya? Aku mencintaimu bukan karena masalah orientasi saja. Aku mencintaimu karena kamu adalah sepaket hal yang, yang membuatku selalu ingin pulang saja. Tawamu dan segala bahasamu yang tak kupahami. Aku rindu"

Aku melihat lagi deretan gigi yang seperti cho-cho train itu, dalam sebuah fotomu di jejaring sosial bersama Ibumu yang kini semakin renta dan kurus. Kamu bahagia. Mungkin itu cukup. Cukup bila memang pada kenyataannya tak bisa aku memilikimu.

Dengan lekas, kuhapus segala deretan huruf tersebut. Mungkin tak perlu cinta yang tak bisa bercinta, disebut sebagai cinta yang seutuhnya.

"Nina, Ibu sehat, kan? Kangen deh"




You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe