Kecantikan yang Latah

07.20



Apakah kecantikan yang latah masih dapat disebut kecantikan?

Membahas kecantikan memang tak akan ada habisnya. Pasalnya, definisi apapun dari kamus apapun tak akan bisa membuat kita paham betul apa makna sebetulnya dari kecantikan. Bahkan ada kecenderungan bahwa pemahaman akan kecantikan ini bersifat subyektif.

Seperti kecantikan wajah misalnya.Standar kecantikan selalu berubah-ubah dari satu masa ke masa yang lain: mulai dari jaman romawi, Twiggy, hingga modern. Standar apik dari bagian wajah pun berubah-ubah. Ambilah contoh alis. Beberapa waktu yang lalu, saat demam korea tengah merebak di Indonesia, alis yang melengkung tipis sangat disukai. Tetapi saat Cara Delevigne muncul, mulailah tren alis tebal merebak di tengah masyarakat. Berbondong-bondonglah masyarakat pergi ke klinik atau salon terdekat untuk melakukan sulam alis: serupa dengan tato alis sebetulnya, tetapi (katanya) menggunakan tinta temporer herbal, dan hampir menyamai alis betulan.

Maka, jangan heran kalau setiap kali melihat selebriti wanita di televisi, kita hampir selalu menemui kesamaan pada bagian atas mata mereka. Karena mereka mengikuti tren yang sama, di klinik yang sama pula. Ya. Ada sebuah klinik sulam alis tersohor yang menjadi langganan para artis, dan hampir setiap hari, di akun jejaring sosialnya, klinik tersebut mengunggah berbagai kata-kata mutiara tentang alis. Yang membuat kita, terutama yang awam berpikir: jangan-jangan, memang benar kalau selama ini alisku jelek? Jangan-jangan memang benar, kalau beauty comes from eyebrows?

Jacques Maritain, seorang filsuf asal Prancis yang memfokuskan pikirannya pada seni, pernah berkata bahwa ada dua jenis kecantikan: kecantikan transendental, bahwa semua hal yang ada (exist) memiliki kecantikan. "Semua hal ada sebagaimana ia ada, dan kecantikan itu pun ada sebagaimana ia ada". Kecantikan sifatnya absolut, selama sebuah hal ada.

Kemudian yang kedua, kecantikan yang bersifat estetik. Kecantikan ini adalah kecantikan yang bergantung pada selera kita, yang kita terima lewat panca indera kita kemudian kita simpulkan sendiri. Untuk itu, bila dipandang dari kecantikan estetik, tidak semua hal cantik, karena sifatnya yang subyektif.

Inilah yang kemudian menimbulkan adanya pendapat tentang cantik dan tidak cantik (jelek). Semuanya bersifat subyektif. Subyektifitas ini pun seringkali dipengaruhi oleh orang lain. Sebuah hal yang sangat tenar seringkali dipercayai sebagai sesuatu yang benar dan mempengaruhi pendapat kita sendiri. Termasuk tentang masalah alis. Pada dasarnya tidak semua wajah cocok dengan alis tebal. Tetapi promosi viral tentang alis tebal sebagai standar kecantikan masa kini, berikut contoh-contoh selebriti terkenal beralis tebal, membuat kita tersugesti bahwa alis tebal adalah alis terbaik.

Dan entah sampai kapan tren ini akan berlangsung. Bisa saja tahun depan, alis yang tipis kembali jadi tolok ukur alis yang cantik. Atau alis yang melengkung sempurna seperti busur. Dan berbondong-bondong, sejumlah masyarakat komunal pun akan kembali menjadi pengikut dari tren yang sebetulnya hanya diproduksi oleh beberapa pihak saja.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe