Badut Maya

12.30



Aku membuat kebahagiaan orang dari penderitaanku sendiri.



Ibuku selalu bilang, membuat orang tersenyum akan membahagiakanmu. Dulu kupikir begitu. Tak kusangka dari setiap kebahagiaan yang kuberikan kepada orang lain, ada hal yang harus kukorbankan.



Sejak lama, aku dikenal sebagai badut dunia maya. Aku punya ruang di dunia itu, tempat orang masuk dan mentertawai segala hal di sana. Pelepas penat, begitu katanya. Kawan-kawanku bilang hidupku pasti bahagia. "Kalau kamu bisa membuat orang lain bahagia, pastilah kamu adalah konglomerat kebahagiaan".



Tapi mereka tidak tahu, kalau hidupku berkebalikan dari mereka. Dengan kebalikan yang berkonotasi buruk, setidaknya bagiku. Ketika orang lain bekerja untuk membuat mereka tertawa lebih keras daripada orang lain, aku bekerja untuk membuat orang lain tertawa lebih keras daripada aku. Ini artinya, ada jutaan perasaan yang harus kuberikan, dan walau Ibuku juga sempat berkata bahwa tak akan habis apapun dibagi. Uang, sandang, pangan, barangkali. Perasaan, yang muncul dari ribuan syaraf otakmu, akan habis bila dibagi terus menerus.

***

Hari ini Jakarta hujan. Agak badai namun kamarku hangat. Dan aku harus mengunggah sesuatu. Mereka menunggu.

Apa yang akan aku katakan? Mbak Naira, atasanku dalam proyek ini pernah bilang, unggah lelucon yang mereka suka. Bukan yang kita suka. Meski kita tahu yang mereka suka adalah hal-hal yang melecehkan otak cerdas kita.



"Akui saja, kita hidup di sini. Di antara ribuan orang yang tidak tahu apa itu dark comedy. Kamu tahu, kan?"

Aku tahu apa itu dark comedy. Sama sekali tidak lucu. Yang membuatnya jadi komedi adalah ketika hal-hal yang tidak sepanrasnya dilakukan, mengerikan, menjijikkan, menjadi situasi yang dalam film itu dianggap kocak dan bodoh. Kurang lebih seperti itu yang kupahami. Tapi komedi yang kubagikan dalam proyek ini adalah komedi semacam ini: Jakarta hujan deres. Yang udah nikah, peluk pasangannya. Yang LDR, teleponan sambil pakai selimut. Yang jomblo, peluk guling, pura-puranya pacar. Atau yang semacam ini: di mana-mana pelukan. Itu adek-adekan apa cabe-cabean?



Lucu? Aku ingin meludahi diriku sendiri setiap membuat hal semacam itu.



Dulu, aku pikir pekerjaanku adalah pekerjaan yang termudah di dunia, dengan tingkat depresi yang rendah. Bagaimana tidak? Aku membuat hal-hal yang bagian otak terbodohku saja tak perlu melalui proses berpikir untuk melakukan hal tersebut. Tapi lama kelamaan aku merasa ada sisi diriku yang terbohongi, yang tergerus kebahagiaannya seperti sepatu yang aus. Mereka, pergi ke ruang maya kami untuk melepas segala pikiran.



Sementara itu, aku pergi ke ruang itu dengan segala pikiran yang membuat otak terbodohku semakin terasah saja.

Tapi aku punya tenggat waktu. Selalu, setiap hari. Kadang aku berpikir, pemerkosaan pikirankah ini? Mengapa aku tidak bisa menulis sesuatu yang indah, yang agung. Mungkin aku berpikir maka aku ada-nya Rene Descartes. Atau "Ketika Albert Camus main Let's Get Rich, dia akan berkata kalau kita terjebak dalam absurditas"

Hanya saja, atasanku bilang kalau 90 persen penduduk di sini akan menganggap kalau situs kita sedang diperbaiki, saat melihat humor semacam itu. Selera humor siapakah yang mesti diperbaiki? Aku atau mereka?

***



Dua hari kemudian, aku menjadi pembicara di sebuah, seminarkah? Tepatnya pertemuan tentang anak muda kreatif yang menggunakan dunia maya sebagai lahan untuk berkreatifitas. Hadir denganku beberapa orang yang dianggap sebagai pelaku komedi bicara, stand-up comedy. Pesertanya tentu adalah mereka yang menikmati konten-kontenku selama ini.



Kupasang topengku selama lebih dari dua jam di kala itu. Mulai dari mengucapkan humor tentang “perbedaan pacar bekas dan koran bekas” hingga humor tentang sulam alis. Topeng ini menyesakkan. Aku tak bisa bernapas. Ditambah, aku pun harus mendengarkan ribuan gurauan dari rekan-rekanku itu, yang terus menerus dilontarkan seperti semburan air yang aromanya anyir.



Ini belum ditambah dengan para peserta, yang usai acara, mengerubungiku untuk meminta foto bersama dan juga meminta tanda tangan. Baiklah, aku termasuk salah satu yang tenar di dunia maya. Tapi itu bukan karena diriku sendiri. Dan aku tidak menyukai mereka, tidak seperti apa yang biasanya kukatakan. Aku tidak suka dengan anak-anak yang terlalu sibuk menghias tubuhnya hingga lupa dengan otaknya sendiri. Aku tidak suka dengan remaja komunal yang seleranya secara utuh dipengaruhi orang lain dan sebetulnya tidak tahu apa yang dia inginkan. Aku juga tidak suka perkara mantan-kekasih-gebetan yang selalu jadi masalah besar di otak mereka, seolah tidak ada masalah kehidupan lain yang lebih penting daripada itu.



***

Lalu siapakah yang paling bersalah?



Banyak orang yang beranggapan bahwa di balik sebuah karya yang bodoh dan kurang mendidik, ada sekumpulan orang-orang bodoh yang tidak tahu malu. Tapi mereka tidak tahu. Kalau di balik itu semua, ada orang-orang pintar yang tengah memperkosa otaknya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa orang-orang yang kami tuju hanyalah komoditas dan bukan orang-orang yang sepikiran dengan kami.



Ada beberapa saat di mana aku merasa bersalah. Tapi bukankah semestinya hidup haruslah realistis dan tidak semua wajah asli kita digemari banyak orang? Namun topeng yang dipakai terlalu lama membuat pengap. Manusia pun butuh bereksistensi dengan cara yang dia inginkan. Mengada untuk dirinya. Mempunyai pilihan.

Inilah pilihan aku di masa lalu, yang pada akhirnya kusesali di masa depan. Aku bahkan tidak tahu manakah yang paling nyata dari aku? Aku di masa lalu, dengan segala pilihan yang kuambil, ataukah aku saat ini, dengan semua penyesalan?

Lalu di tengah keramaian otak, sebuah pesan singkat muncul, berbunyi, mengganggu.

Yang edisi tahun baru, udah?

*

Atasanku memintaku untuk membuat konten cerita tahun baru. Padaku dia berkata, tahun baru adalah momen yang tepat untuk menceritakan banyak hal. Banyak tipe manusia di tahun baru, kamu pasti tahu itu.

Aku tahu betul macam apa yang dimaksud. Yang terlalu lama sendiri, yang bersama kekasih, dan status lain dalam menghadapi pergantian tahun, bukan? Aku ingin berteriak ke seluruh dunia bahwa itu adalah hal yang banal. Tapi kupikir mereka yang membaca akan bertanya, apa itu banal? Semacam alas tidur, oh tidak, sayang, itu bantal! Dan aku mentertawai diriku sendiri karenanya.

Kulewati setiap sudut kota dan kulihat pedagang-pedagang kaki lima jajakan terompet tahun baru. Warnanya masi sama seperti saat aku kanak dulu. Merah biru emas metalik. Seperti rangkaian permata. Kalau tidak salah, ketika aku kecil dulu tahun baru lekat dengan keluarga dan kawan-kawan. Bukan dengan konotasi semacam "kamu tahun baru nggak sama pacar"?

Tapi itu yang harus kutulis malam ini.

*

Beberapa menit yang lalu isi perutku tumpah ruah. Aku ingin menumpahkan seluruh isi kepalaku, tapi tak bisa. Padahal aku muak. Aku muak dengan segala kosa kata anak muda yang terlalu tak punya otak. Aku rindu Nietzche. Karl Jasper. Cixous. Nama-nama asing yang tak mereka mengerti, tetapi kupelajari waktu berkuliah dulu.

Aku merasa kalau setiap manusia punya definisi kebahagiaan masing-masing. Dan setiap manusia punya kebebasan untuk memilih apa yang dia inginkan. Faktisitas? Kefaktaan itu tidak ada dalam kontrakku. Aku bisa keluar kapan saja. Yang membatasi selama ini hanyalah masalah moral. Tapi persetan dengan moral hazard. Moral adalah batas yang membuat kebebasan manusia terjepit dan terkotak-kotakkan, persis bentuknya seperti panekuk durian.

Kubuka komputer jinjingku dan kutulis sebuah hal di sana:

Pada suatu hari, Albert Camus membeli terompet. Waktu itu tanggal 31 Desember. Pastilah Albert Camus membeli terompet untuk merayakan tahun baru. Tapi Albert Camus membeli terompet untuk kemudian ditiupkan tepat di sebelah telinga anak alay, hingga dia hampir tuli. Lalu anak alay tersebut pergi ke polisi. Menuntut Albert Camus. Albert Camus diinterogasi, dan dia bilang dia tidak kenal dengan anak itu. Lalu mengapa Bapak meniup terompet? Camus menjawab, karena hari hampir hujan dan tiba-tiba dia merasa ingin meniup terompet saja.

Sebelumnya, Camus membeli terompet dari Bertrand Russel. Tapi Bertrand Russel menjual terompet hanya sampai adzan dzuhur. Waktu di mana Camus membuat masalah dengan anak alay. Setelah itu, dia merasa bahagia karena walaupun tidak mendapat keuntungan sebanyak penjual terompet lain, setidaknya dia mendapatkan kebahagiaan dari konflik bodoh itu. Karena kewajiban bekerja adalah perampas kebahagiaan manusia.

Nilai moral: Jangan jadi anak alay. Selain tidak bermakna, kamu akan jadi gampang marah. Ini tahun baru dan pikiranmu masih membosankan, sebatas kalau terompet hanya bisa ditiup ke atas, bersama kekasih, dan kamu merasa bangga karena bisa membayar tukang terompet dengan harga belasan ribu saja.



Aku menekan tombol enter. Semua siap diunggah. Lalu aku tidur lelap. Di luar sana semburat kembang api, pesta raya, terompet bergema. Apakah Albert Camus, filsuf kesayanganku, menjadi salah satunya?

Lalu keesokan paginya, aku mendengar denting-denting pesan. Aku tahu dari siapa. Aku tahu makian apa yang akan ditujukan padaku. Rayan, who the hell are Camus and Russel and what the fuck did you write? Are you nut?

Tapi aku hanya ingin tidur hingga petang. Menikmati eksistensi yang sepenuhnya jadi pilihanku, setidaknya pada saat ini.


Sumber foto: iHoror

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe