Antara Fanatisme, Terorisme, dan Rasa

16:21



Orang bilang, satu-satunya hal yang membuat kita menjadi manusia yang sebenar-benarnya adalah logika. Ada benarnya memang, logika membuat kita semakin menjadi manusia. Tetapi ada hal lain yang membuat kita dapat disebut manusia. Hal itu bernama rasa.

Rasa itu maknanya bisa berbagai macam. Saya sendiri memaknai rasa sebagai refleksi pikiran atas diri kita secara fisik. Semakin dalam refleksi tersebut, maka kita semakin mengenali diri kita. Semakin pula kita memiliki rasa.
Dalam filsafat Jawa, rasa sendiri hampir selalu dibahas. Karena bagi orang Jawa, rasa adalah hal yang terpenting untuk menjadi manusia. Tanpa rasa, manusia hanyalah seonggok daging saja. Untuk itu, filsafat Jawa mementingkan perlunya olah rasa. Agar kita dapat menjaga rasa yang ada di dalam diri kita. Dengan rasa itulah, kita dapat memahami hakikat diri kita. Dan dengan memahami hakikat diri, kita pun akan paham dengan hakikat orang lain dan juga hal-hal lain di semesta ini. Karena dalam filsafat Jawa, dikenal pula istilah Jagad Cilik dan Jagad Gedhe. Jagad Cilik ada di dalam diri kita. Sementara itu, Jagad Gedhe adalah alam semesta raya. Mengelola dan memahami Jagad Cilik, berarti mampu memahami Jagad Gedhe, karena keduanya saling berhubungan.

Agama pun sebetulnya adalah masalah rasa. Sulit rasanya untuk menyembah Tuhan dan beragama tanpa rasa. Karena tanpa rasa, kitab-kitab hanya akan seperti buku-buku cerita semata. Perlu adanya rasa, untuk dapat memahami makna dari setiap ajaran agama yang kita anut, dan memahami isi dari kitab-kitab. Ini yang tidak dimiliki oleh manusia yang fanatik dan mereka yang melakukan tindak teroris, terutama dengan landasan agama.

Sudah sering dikatakan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan. Tetapi mereka dengan sadar ataupun tidak, sekadar mengutip beberapa ayat tanpa memahami maknanya. Padahal, untuk memahami sebuah karya sastra saja, butuh analisis yang mendalam dan tak dapat diartikan begitu saja. Terlebih kitab suci. Tak pernah ada agama yang memiliki makna kebencian.

Hanya saja, banyak di antara kita yang malas menggunakan rasa. Ataupun tidak tahu cara menggunakan rasa itu, karena sudah terlanjur terbuai dengan emosi negatif. Padahal, dengan keberadaan rasa, tidak sulit rasanya untuk bertoleransi dan mengerti orang lain dengan cara yang bijak. Memahami bahwa hidup bukanlah sekadar menang kalah, salah ataupun benar. Lagipula, kalau ternyata kita yang benar, lalu apa?

Hidup adalah sebuah perjalanan. Untuk itu, hidup dengan ambisi besar untuk mencapai kemenangand an kebenaran mutlak, adalah hal yang sia-sia. Sampai mati kita tak akan mendapatkan kemenangan dan kebenaran yang mutlak. Kemenangan dan kebenaran hanyalah dua hal yang dibuat oleh para manusia untuk menjadikan hidup seolah memiliki tujuan. Padahal, hidup yang terlalu fokus pada sebuah tujuan, tanpa menikmati setiap sudut dari hidup itu sendiri, justru malah membuat kita menjadi tak punya tujuan. SIa-sia. Termasuk para fanatik dan teroris yang bertujuan untuk memenangkan Tuhan mereka. Tuhan mana, yang memaknai kemenangan dengan kehancuran orang lain yang tak sepaham dengan kehadiranNya? Tidak ada sepertinya.

Lalu, kemenangan siapa yang sebetulnya mereka perjuangkan? Kemenangan dari perasaan egois mereka. Dan ketika perasaan egois itu menang, seketika, matilah pula semua rasa.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe