Tragedi Paris dan Simplifikasi Manusia

21.59



Hari Jumat kemarin, kengerian mencekam kota Paris. Lebih dari seratus orang mati karena tembakan beruntun, sedangkan yang lainnya disandera di beberapa tempat umum, seperti Stade de France, dalam pertandingan Prancis lawan Jerman, serta kafe-kafe di tengah kota. What happens to la ville lumière?

Media kemudian memberitakan bahwa serangan ini ada hubungannya dengan ISIS. Sebagian lagi menuduh teroris di balik agama tertentu, dan menimbulkan berbagai perdebatan. Lagi-lagi keyakinan menjadi dalang bagi terorisme semacam ini?

Namun sebetulnya, bila ditilik lebih dalam lagi, keyakinan hanyalah "tameng" yang digunakan untuk berbagai serangan dan terorisme. Ada hal lain yang sebetulnya menjadi alasan mengapa sekelompok orang melakukan penyerangan terhadap ratusan orang tak bersalah.

Yang pertama, balas dendam. Alasannya, tentu saja keyakinan. Sudah jadi rahasia umum kalau Amerika Serikat dan sekutu punya andil dalam jatuhnya berbagai negara di Timur Tengah. Dan Prancis adalah salah satu sekutu Amerika Serikat. Maka dari itu, Prancis pun dianggap tak simpatik dengan berbagai kerusuhan di negara-negara Timur Tengah. Kalau sudah begini, masalah ada pada harga diri dan tentunya, ideologi.

Yang kedua, masalah imigran. Permasalahan ini memang sudah bukan hal yang baru di Prancis. Prancis, sebagai terre d'accueil, menjadi sasaran para imigran berbagai negara tetangganya, seperti Spanyol, Hungaria, Italia, dan yang terbesar, Afrika Utara. Imigran Afrika Utara memiliki keyakinan dan budaya yang berbeda dengan La France de souche, atau orang-orang yang dianggap sebagai orang asli Prancis. Untuk itu, tak heran kalau sering terjadi pertengkaran hingga muncul isu rasisme dan ketidaksaman hak, kalau sudah membahas imigran asal Timur Tengah. Masih ingat bukan, dengan kasus Charlie Hebdo? Masyarakat Prancis memang terbiasa dengan kritik, bahkan kritik sarkas yang menyinggung SARA. Jelas berbeda dengan budaya para imigran.

Yang ketiga, kembali pada ISIS. ISIS ini sendiri tak jelas sebetulnya tujuannya. Ada yang bilang ISIS adalah bentuk teroris baru yang mengatasnamakan agama. Ada pula yang bilang ISIS didirikan secara terselubung oleh Amerika Serikat. Apapun faktanya, yang jelas tujuan ISIS jelas bukan membela agama. Tidak ada agama yang mengajarkan hal keji semacam itu. ISIS sendiri merupakan sebuah organisasi, yang dengan tujuan tertentu, ingin melanggengkan golongannya sendiri, dengan mengorbankan nyawa ribuan orang.

Manusia memang makhluk cerdas sekaligus berpikiran sempit. Di satu sisi, kita membuat berbagai inovasi dalam kehidupan. Namun di sisi lain, begitu mudahnya kita menyederhanakan sesuatu. Semisal, kita membenci pemerintah Amerika Serikat, adalah hal yang bodoh bukan, untuk menyerang penduduk Amerika Serikat yang tak punya salah? Ini sama saja dengan ketika kita membenci seseorang, lalu kita menyalahkan tetangganya yang rumahnya berjarak beberapa puluh meter. Ini bodoh. Bahkan komputer saja dapat membedakan dua obyek yang tak sama. Mengapa kita tidak? Mengapa mudah bagi kita untuk menjadi rasis dan menyamaratakan semua orang?

Sumber foto: travelling buzz

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe