Seksualitas, Kue Cubit, dan Sambal

22:31



Belum lama ini beredar kabar tentang desahan pilot di kokpit pesawat Lion Air, serta penawaran pramugari untuk memuaskan hasrat seksual seorang penumpang, masih di maskapai yang sama. Kepentingan berita itu jelas tidak sebanding dengan berita kecelakaan atau hilangnya pesawat. Bahkan mungkin tak sepantasnya menjadi trending topic meski bersumber dari surat protes seorang penumpang yang merasa terganggu.


Tapi begitulah, berita itu kini gencar beredar karena muatan seksualnya.

Seksualitas adalah hal yang tabu. Tapi, cerita yang berkaitan dengan seksualitas menarik banyak orang dan tak akan usai untuk dibicarakan. Misalnya saja, aib yang berkaitan dengan seksualitas.

Semua manusia pernah melakukan kesalahan. Tetapi bila kesalahan itu bersifat seksual, seperti skandal seks misalnya, seberapa seriusnya manusia itu bertaubat, masyarakat akan melihatnya sebagai pribadi yang memalukan, yang dosanya tak dapat dihapus seberapapun ia memperbaiki dirinya. Seksualitas ini seolah jadi ditempatkan pada tempat yang unik: dia dibenci, dianggap rendah, hina, tetapi tak terlupakan, dan selalu menarik perhatian.

Hal ini sebetulnya tidak terlepas dari ajaran bahwa seksualitas adalah hal yang tabu. Bahkan, pendidikan seks sejak dini pun masih menjadi sesuatu yang asing. Seolah segala hal yang berhubungan dengan kelamin adalah hal yang menjijikkan, tidak pantas diperbincangkan. Hal ini yang kemudian menekan hasrat manusia akan seksualitas itu sendiri. Padahal, segala hal yang direpresi, suatu saat dapat meledak.

Seperti misalnya, Anda penasaran bagaimana sih, rasa kue cubit? Tetapi Anda dilarang memakan kue cubit. Sejak saat itu, Anda akan selalu penasaran pada rasa kue cubit. Dan ketika Anda memiliki kesempatan untuk menikmati kue cubit, maka Anda pun akan kalap.

Pun sebetulnya, seksualitas pun tak baik bila diumbar terlalu banyak, karena dapat mematikan hasrat itu sendiri. Tetapi, juga jangan direpresi terlalu dalam. Seksualitas ini sendiri sebetulnya sama dengan proses kehidupan manusia yang lain: bagaimana cara manusia berinteraksi, bagaimana cara manusia makan, cara manusia menyukai atau membenci manusia lain, dan sebagainya. Maka, ia pun semestinya dibahas dengan cara yang wajar, seperti kita membahas hal lain yang berhubungan dengan aktivitas manusia.

Seksualitas dan Media

Media pun memiliki peran dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap seksualitas. Banyak iklan, berita, film, ataupun pertunjukkan yang menggunakan seksualitas sebagai tameng kebebasan berpendapat dan berkreasi, bahwa seksualitas itu jangan ditutup-tutupi, jangan direpresi. Tapi banyak produk mereka yang justru merendahkan seksualitas itu sendiri. Memang, seksualitas ditunjukkan sedemikian rupa dan tidak ditekan. Namun bukankah lebih buruk apabila seksualitas itu diposisikan sebagai sesuatu yang hina, yang tidak pantas?

Sebagai contoh, iklan atau film komedi yang menggunakan tubuh (kebanyakan wanita) sebagai senjata? Tubuh wanita dianggap sesuatu yang menarik, sayangnya sekadar menarik untuk digunakan sebagai aktivitas seksual, misalnya, menggoda lelaki, untuk mencapai tujuannya, dan ditunjukkan dengan gamblang. Atau hukuman bagi wanita, dengan cara seksual. Atau juga, obyektifikasi tubuh wanita atau malah pria. Tubuh dianggap sebagai obyek yang berada di luar kontrol pemiliknya. Dan dalam berita, pemberitaan tentang seksualitas dengan kalimat yang heboh, hiperbola yang seringkali kurang sesuai dengan EYD.

Semua itu, alih-alih membangunkan hasrat seksual dari tekanan, justru malah membuatnya terbangun dengan kondisi gila dan hiperaktif.

Seksualitas, semestinya ditempatkan dengan cara yang wajar. Bukan sebagai bumbu pedas yang digunakan untuk menarik perhatian orang lain. Bila seksualitas terus diperlakulan sebagai sesuatu yang semacam sambal, yang dianggap membuat sakit perut tapi melezatkan, maka manusia tak akan henti untuk mencarinya, menikmatinya sambil mencaci maki dan mengeluh, dan kemudian mencarinya lagi. Akan seterusnya seperti itu, sampai akhirnya manusia itu menyadari bahwa sudah ada yang tidak beres pada tubuhnya: semacam diare, tapi diare di dalam otak.

Foto: not-brk.tumblr.com

You Might Also Like

2 komentar

  1. memang pendidikan seksualitas perlu diajarkan sejak dini, agar tidak merusak generasi penerus bangsa dgn perbuatan yang tidak senonoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali kak. harus ada pendidikan seksualitas sejak dini sebagai bentuk tindakan preventif. :))

      Delete

Our Shop

Subscribe