Radio Nenek

21.37


Kalau Nenek pulang, aku mau Nenek putarkan lagi lagu-lagu kegemaran Nenek


Sudah sebulan Nenek tinggal di kediamanku, karena paman dan bibiku yang selama ini l bersama Nenek di kampung halaman, dipindahtugaskan ke Manado. Sebetulnya aku suka kalau Nenek tinggal di sini. Rumah jadi lebih ramai dan masakan Nenek lezat sekali.

Tapi ada beberapa hal yang aku tak suka dari Nenek. Salah satunya adalah radio Nenek.

Nenekku suka sekali mendengarkan sebuah radio yang kalau pagi memutarkan gendhing Jawa, siang iklan-iklan, sore menjelang malam lagu-lagu lawas. Kalau boleh jujur aku tak suka dengan lagu lawas. Seperti, siapa misalnya, Ernie Djohan yang menyanyikan Beta dan Ayunda, atau Alfian dengan Senja di Kaimana. Tapi Nenekku suka betul.

Aku rasa, aku tahu alasan Nenekku suka lagu-lagu itu. Mungkin mereka sama seperti Jason Mraz di masa Nenekku. Atau setidaknya, Petra Sihombing. Namun aku tidak suka. Selain karena masalah rentang usia, secara pribadi aku merasa kelam mendengarkan lagu-lagu lawas. Semua itu membuatku seperti terjebak dalam latar suasana yang muram, yang tidak modern, yang sunyi dan tidak membahagiakan.

Tapi saban sore tiba, Nenekku akan selalu memutar radio kesayangannya itu. Dan tibalah sore hariku yang suram, setiap hari, usai aku pulang dari sekolah.

*
Aku tahu Nenek akan mematikan radionya bila aku meminta. Hanya saja, aku merasa tidak enak. Adalah sebuah hal bodoh kalau misalnya aku beralasan "hatiku muram" atau "suasana jadi sendu".

Maka, aku jadi sering pulang agak larut. Aku bermain dahulu ke rumah kawan, atau jalan-jalan bersama mereka, supaya aku tidak perlu lama-lama mendengarkan lagu lawas di sore yang suram. Namun lama-kelamaan, Ibu memarahiku. Katanya aku kebanyakan bermain. Jadilah terpaksa aku pulang serutin biasanya. Soreku lalu jadi kelabu lagi. Apalagi saat ini radio kesayangan Nenek memutarkan lagu keroncong Biarkan Malam Gelap Berlalu. Sendu sekali jadinya nuansa. Dan rasanya sore jadi menyebalkan.
*
Pernah pada suatu waktu, aku sedikit memahami preferensi lagu Nenek.

Aku pernah bertanya mengapa Nenek gemar sekali dengan langgam dan keroncong. Apakah karena Nenek adalah seorang nenek-nenek, ataukah ada alasan lain. Nenekku menjawab kalau keroncong mengingatkannya pada almarhum Kakek. Dulu, Kakek suka sekali menyanyi keroncong di teras bersama kawan-kawannya. Maka dari itu keroncong mencatat kenangan tentang Kakek. Hatiku jadi trenyuh, terharu. Tetapi belakangan tak bisa menghilangkan fakta kalau lagu-lagu kesayangan Nenek sangat suram di telingaku.

Radio Nenek diletakkan di meja ruang keluarga. Suaranya nyaring sampai ke kamarku yang tak jauh dari sana. Apalagi saat ini sorenya berhujan deras. Lalu di sekolah aku baru saja dimarahi guru karena lupa mengumpulkan tugas. Hancur, hancurlah suasana hati yang baik. Sehancur hati penyanyi Keroncong Sapu Tangan yang ditinggalkan kekasihnya. Tentu saja. Bagaimana bisa percaya pada seorang lelaki hanya karena dia meninggalkan selembar sapu tangan sebagai janji untuk menikah? Aku pernah berpacaran dengan seorang lelaki dan dia memberikanku sebuah cincin imitasi sebagai tanda kalau dia mencintaiku dan akan menikahiku (waktu itu setahun lalu, aku kelas 1 SMA). Dan pada akhirnya toh kami putus, cerita berlalu begitu saja.

Nah, beginilah jadinya. Banyak lagu Nenek yang mengingatkanku pada hal-hal yang tidak menyenangkan.

*
Tapi aku selalu mempunyai banyak solusi di kepala.

Belum lama ini, aku melihat sebuah headset bersuara nyaring, dijual di pusat perbelanjaan. Mengingat radio Nenek, sontak aku langsung membelinya dengan uang saku yang tersisa. Tinggal kusambungkan dengan ponsel, kunyalakan lagu-lagu Taylor Swift, Mean, New York, apapun, atau John Legend, yang membuat suasana hatiku jadi baru, jadi muda, dan tidak sedih. Hilanglah lalu suara dari radio Nenek yang menyedihkan aku.

Hanya saja, kebiasaanku ini juga tak disukai Ibuku. Ibuku malah mempertanyakan mengapa setiap pulang sekolah, aku selalu di kamar, bermain ponsel, tidak bersosialisasi di rumah. Tentu saja aku tak mungkin bilang kalau radio Nenek membunuhku perlahan-lahan. Lalu kubawa saja ponsel dan headsetku ke ruang keluarga. Sayup-sayup tetap terdengar suara radio Nenek. Mengganggu sekali.

Mendengarkan dua musik berbeda jaman diputar dalam waktu yang sama, aku jadi semacam mendengarkan musik psychedelic yang memusingkan kepalaku.

Aku kesal sekali. Sungguh aku gemas dan ingin menggigit banyak hal jadinya. Termasuk kabel radio Nenek. Sementara aku duduk cemberut di sudut ruang keluarga, Nenekku seraya menyenandungkan lagu Selendang Merah.

Selendang warna merah, kau berikan dulu, padaku.
Kini akan kupakai, pada hari pertunanganmu.
Ingat di saat itu, selendang merah pengikat hati.
Sebagai tanda mata, sebelum kita berpisah.
Kini kita bertemu, kau bukan milikku lagi.

Aku geram. Mengapa lagu-lagu lawas sering bercerita tentang patah hati? Mengapa pula tokoh-tokohnya begitu lugu, begitu mudah menerima perlakuan kekasihnya yang menyebalkan? Apakah cinta, oleh orang-orang pada masa lalu, diartikan sebagai takdir yang harus ditelan mentah-mentah, betapapun pahitnya? Ini sudah tidak benar. Aku rasanya ingin masuk ke radio dan mengatakan pada siapapun atau apapun elemen yang ada di sana: tokoh fiksi dalam lagu, pencipta, atau penyanyinya. Aku hanya ingin bilang bahwa cinta itu hanya reaksi hormonal. Jadi tak perlu diagung-agungkan semacam itu.

"Nek, memangnya radio ini nggak pernah muter lagu yang riang, ya? Yang anak muda gitu?"
"Wah, misalnya kayak, Bleber-bleber gitu?"
"Hah?"
"Lha yang seneng kamu tonton di tivi... Yang bule rambut pirang.."
"Oh, maksud Nenek Justin Bieber?"
"Ya, ya.. Lagu cah enom berisik banget.."

Aku tahu kalau antara aku dan Nenek, ada jurang perbedaan usia yang sangat jauh. Nenekku lahir pada tahun 1949. Aku lahir tahun 1999. Ada rentang setengah abad. Tak mengherankan bahwa selera kami tak bisa dipertemukan.

Tapi aku harap, kami berdua ada ruang. Misalnya, Nenek memutar radio di kamar saja, jangan di ruang tamu. Namun aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya, sementara aku tahu betul alasan Nenek meletakkan radio di ruang tamu. Ialah karena Nenek bisa mendengarkan radio sambil melakukan banyak hal di sana. Misalnya, mengaduk bahan masakan, atau menonton sinetron serta sinema berisi naga-naga.

Pada suatu waktu, saat sedang lelah betul, aku ingin sekali diam-diam merusakkan radio Nenek. Atau aku ingin sekali ada kerusakan teknis di channel radio kesayangan Nenek itu. Atau bagaimanalah. Yang penting, menjelang ujian nasional ini, aku tak perlu merasa buruk hati karena lagu-lagu lawas dari radio Nenek.
*
Asya, habis pulang sekolah Ibu jemput ya, kita ke rumah sakit
Kenapa, Bu?
Nenek masuk rumah sakit.

Usai membaca pesan dari Ibu, aku terpaku. Segala ramai suara di sekolah mendadak berputar dan membuat telingaku pekak. Aku terkulai lemas. Nasi uduk di hadapanku tak lagi menggugah selera. Ada dua pelajaran yang harus kulewati sebelum bel pulang sekolah.

Di sepanjang jam pelajaran, aku terus menerus menatap layar ponsel, menunggu balasan Ibu. Tapi Ibu tak kunjung membalas. Hatiku tak karuan sekali jadinya. Aku tidak tahu dan tidak peduli terhadap apa yang dikatakan oleh guruku di depan kelas.

Ibuku tak membalas pesan singkatku. Namun saat menjemputku di sekolah dengan sepeda motor, barulah Ibu bilang bahwa maag Nenekku kambuh lagi. Nenekku tiba-tiba muntah hebat.

Segala sketsa di perjalanan tiba-tiba berkabut, kabur begitu tertutup genangan air mata. Pohon-pohon dan gedung-gedung berbayang. Aku takut terjadi suatu hal pada Nenek.
***
Nenekku sadarkan diri. Tetapi wajahnya pucat pasi, terbaring di rumah sakit. Melekat infus di punggung tangannya yang telah berkerut.

Nenekku sudah lama menderita maag. Dan itu bukan penyakit yang main-main walaupun iklan-iklan televisi menggambarkan kalau maag gampang dihilangkan begitu saja dengan Promag. Tapi Nenekku terkadang masih suka makan-makanan pedas. Aku kesal sekali. Mengapa Nenek harus makan-makanan pedas? Atau mengapa Nenek harus terlambat makan?

Kujalin jemariku pada jemari Nenek dengan lembut. Sayup Nenek menatapku lantas tersenyum, kemudian sedikit memejamkan mata. Kutahan jutaan rasa sedih yang ada di dalam dada. Yang lebih muram ketimbang saat mendengarkan lantunan lagu dari radio Nenek.

Mendadak, aku malah rindu lantunan itu. Aku rindu Nenek yang mendendangkannya dengan lembut. Dan aku merasa sangat menyesal telah membenci radio Nenek hanya karena sebuah alasan yang tak berdasar sama sekali. Aku akan menukar apa saja untuk bisa lagi mendengarkan lagu-lagu lawas di radio Nenek. Biarpun itu lagu-lagu yang iramanya tak mengenakkan di hatiku. Tapi aku sadar, akulah yang dangkal, tidak dapat menangkap keindahan dari lagu-lagu sederhana itu.
"Nenek. Kalau Nenek sembuh, aku mau dengar lagi radio Nenek. Apa saja. Berpisah di St. Carolus pun boleh. Biar kayak lagu itu, Nenek cepat pulang dari rumah sakit."

Nenekku tak menjawab. Namun kudengar sayup suara napasnya yang beraturan. Aku berharap Nenek mimpi mendengarkan lagu-lagu lawas.

Foto: juliadavilalampe.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe