Logika Saat Posesif

17.11



Cinta itu terkait dengan perasaan saling memiliki. Adalah sebuah kebohongan bila cinta tidak didasari rasa ingin memiliki, ingin berdekatan dengan yang kita cintai. Tak hanya cinta terhadap lawan jenis, tetapi juga pada orangtua, dan juga benda mati. Dan dalam proses mencintai ada kalanya timbul sebuah sifat yang bernama posesif.

Posesif, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki makna bersifat merasa menjadi pemilik. Tentunya dengan kadar yang berlebihan. Orang dengan sifat posesif yang akut akan menganggap banyak hal sebagai ancaman. Dalam konteks cinta kepada lawan jenis misalnya, seorang perempuan akan merasa kesal dan jengah melihat ada perempuan lain (biasanya dengan kualitas sama atau lebih baik), berinteraksi dengan kekasihnya. Kemudian, dia akan menekan sang kekasih untuk menjauhi perempuan tersebut. Dia juga banyak membatasi kekasih dalam momen-momen di mana sang kekasih banyak bertemu perempuan, yang dianggapnya menarik.

Hal ini sebetulnya wajar. Tetapi menjadi agak mengganggu ketika sifat posesif ini mulai merambah ranah pekerjaan. Dalam kehidupan, kita tidak mungkin bertemu orang yang itu-itu saja. Ada kalanya dalam pekerjaan, kita bertemu dengan orang yang secara fisik biasanya, lebih menarik daripada kekasih kita. Dan tentu, cinta tidak melulu berkisar soal menarik tidak menarik. Tapi seseorang yang posesif menganggap poin menarik itu sebagai ancaman. Walaupun dia tahu bahwa kekasihnya setia, misalnya, dan tidak ada hubungan apapun antara kekasihnya dan lawan jenis lain, tetapi dia hanya merasa gemas. Dia hanya tidak menyukai perasaan tak aman, perasaan gerah, ketika melihat "lawan" yang lebih menarik tersebut.

Sebetulnya, sumber dari sifat posesif adalah rasa kurang percaya diri. Apabila kita percaya diri, tidak akan kita menganggap orang lain, yang berinteraksi dengan kekasih kita dalam konteks wajar, sebagai sebuah ancaman. Dalam sifat posesif itu, ada rasa kalah telak yang kemudian menjelma menjadi perasaan panas, kesal, dan sedih. Lalu kemudian timbul berbagai spekulasi buruk tentang kekasih kita. Terlebih banyak sekali kita mendengar kisah tentang perselingkuhan, dengan alasan fisik semata.

Selain rasa percaya diri, perbedaan persepsi dengan kekasih juga dapat memicu sifat posesif. Memang betul adanya kalau mencari kekasih, sebaiknya yang sepadan. Selain agar komunikasi berjalan lancar, kita pun terhindar dari sifat posesif yang berlebihan. Perbedaan kasta yang jauh dengan kekasih, tak hanya dalam segi paras, tapi juga karir dan kehidupan sosial, membuat rasa posesif itu jadi sering timbul. Kita merasa gerah dengan teman-temannya, karena terlihat jauh lebih baik daripada kita.

Memang susah menghilangkan rasa posesif. Untuk itu, kompromi, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap pasangan, amatlah diperlukan

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe