Jalan Kaki

21.57



Bersamamu, aku ingin berjalan kaki. Memastikan setiap kesempatan tak berlalu begitu cepat.

Kami bertemu dalam sebuah momen yang eksentrik. Barangkali seperti uraian Camera Obscura, French Navy. Lebih jelasnya, dia hadir saat aku sedang berjalan kaki, dan jemariku membuka-buka lembar demi lembar Speak, Memory, karya Vladimir. Matahari sedang bersinar tak begitu terik. Untuk itu, aku mau jalan kaki.

Aku ingin sekali menjelaskan setiap kronologis saat aku dan dia berinteraksi satu sama lain, untuk pertama kali. Seperti saat dia bersebelahan denganku di jalan menuju peron kereta, lalu kulihat sepasang pipinya yang curam dan kacamata tebal di depan matanya yang tajam seperti mata penjahat keji yang senantiasa kugemari. Lantas bertanya dia apakah aku juga menyukai Tamara, salah satu cerita pendek di sana, sama sepertinya. Tetapi tak semua kronologis berarti, kira-kira itu yang kupikir. Walaupun setiap detIk yang aku lewati bersamanya ingin kusulam dan kulekatkan pada setiap dinding kenanganku.

Entahlah, aku seperti anak muda yang menganggap kalau cinta adalah keajaiban. Tetapi di matanya, yang bagi kebanyakan orang kejam dan cadas, kutemukan alam semesta yang ingin kumasuki, selalu. Setidaknya dalam mimpi jelas, lucid dream. Padahal mungkin perasaanku, sekadar ramuan yang tercipta di otak, hanya karena kami berbagi kesenangan dan pemikiran yang serupa. Seperti bila aku mendengarkan Waltz Rusia, dia juga mendengarkan hal yang kurang lebih sama. Bahkan dia tahu tentang The Time of Gypsy lebih daripada aku, dan memutar Talijanska seribu kali lebih banyak ketimbang aku.
*

Waktu berlalu. Aku dan dia masih saling meragu. Tapi cinta kami, ia jelas masih ada di situ.

Kami masih berjalan kaki setiap kali bertemu. Seperti yang pernah ia katakan, jalan kaki bersamamu, dapat kupastikan waktu tak berlalu terburu-buru. Aku menyukainya. Kecanduan aku terhadap setiap nada bicara dan segala hal yang mengalir dalam nada tersebut.

Dulu, kupikir dia hanya seperti mobil sedan yang selintas lewat saja di jalanan raya. Kuingat sekilas, kemudian kulupakan. Tapi dia istimewa. Dia adalah angkutan sekali jalanku, yang kunaiki tanpa bisa membawaku kembali pada waktu lalu, sebelum dia singgah dalam hidupku.

"Kamu mau kembali?"

Beberapa kali dia bertanya begitu, setiap kali aku mengucapkan frasa "seandainya saja". Kalau sudah begitu, suasana jadi sendu. Maafkan aku, aku tak bermaksud begitu. Sungguh di antara ribuan kesempatan yang lalu lalang, kamu salah satu yang ingin kusinggahi dalam waktu lama.

Tapi cinta kita salah waktu. Hadir pada jejak kronologis yang tak tepat. Aku sering bertanya kepadanya, mengapa seorang lelaki dingin sepertimu mau punya waktu bertanya padaku. Apakah sekadar lantaran Speak Memory? Apakah aku tak berarti apa-apa tanpa Vladimir Nabokov? Yang kusuka darinya adalah ketika iya menganggukkan kepala, seraya menjawab, cinta selalu punya alasan. Seperti pelatuk pada tembakan. "Mengapa kamu bertanya begitu? Kamu mau pojokkan aku agar punya alasan untuk pergi?"

Sungguh, tak perlu kupersiapkan ribuan alasan untuk pergi. Cukup satu, dan kamu pasti tahu betul, Daru. Cinta kita tidak tepat waktu. Kamu tahu bahwa meskipun aku benar betul mencintaimu, aku tak mampu bilang kepada suamiku kalau aku punya kekasih baru.
*

Lalu apakah cinta itu, Daru? Apakah cinta adalah semangkuk pembicaraan antara kamu dan aku yang tak habis kelezatannya untuk dimamah? Apakah cinta adalah kesetiaan untuk mencari dan berkorban, seperti Humbert Humbert? Atau cinta sekadar reaksi biologis atas kumpulan beberapa hormon?

"Cinta adalah ketika dua orang bisa berkali-kali menonton Magic In The Moonlight tanpa bosan, meskipun orang lain sudah jengah melihatnya di kali pertama saja"

Begitu katamu pada waktu itu, usai hari hujan di kota bagian Selatan, lelampuan berkaca di genangan, mobil-mobil berbarisan terlihat lewat kaca jendela. Dulu aku meludah setiap mendengar kata-kata semacam itu, picisan dan murahan. Tapi mendengar darimu, aku selalu suka. Aku suka mendengar banyak hal darimu. Termasuk bila itu sebetulnya membosankan.

Pekerjaanmu adalah editor di sebuah media daring. Tetapi dalam berkata-kata secara lisan, kamu tidak mahir untuk menebas dan menyingkat. Untuk banyak orang, hal itu menjengahkan.

Pun aku demikian. Aku tidak pandai bersolek lidah, aku tidak pandai untuk membuat orang tertarik pada apa yang kubicarakan. Maka dari itu, aku memilih tulisan sebagai media terbaik. Sama sepertimu. Kita banyak persamaan. Juga dalam hal perasaan. Tapi tidak dengan waktu yang telah kita lewati.

Aku pernah bertanya kepadamu mengapa tidak mencari perempuan lain. Aku tak tersedia lagi, sayang. Tentu saja itu hanya sebentuk basa-basi. Seperti nelayan yang suka memancing ikan, perempuan suka memancing kata-kata
Dan aku selalu suka ketika kamu, dengan wajah sendu, tertunduk, mata sayu. Berkata bahwa aku selalu mencari, tetapi tak kutemukan yang sepertimu, Ayra.
Sayang, pernahkah kamu bahagia dan bersedih dalam satu waktu yang sama?
*

Ada beberapa dalam kesempatan di minggu kita, berjalan-jalan keliling kota. Kebanyakan jalan kaki. Bila terlalu jauh, seperti misalnya ingin menonton film di pusat-pusat budaya, kita naik kendaraan umum lalu jalan kaki. Bukan karena kita membenci polusi. Tapi waktu terentang lebih lama bila jalan kaki. Sesuatu yang tidak kutemukan dari suamiku yang pragmatis.
Tapi hubungan kita jalan di tempat, meski kita jalan kaki terlampau jauh setiap minggunya.

Berganti saja tanggal begitu cepat bersamamu. Apakah karena cinta berkecepatan setara cahaya maka waktu beberapa bulan menjadi sekejap saja? Apakah karena aku tak lagi melihat jam dinding jam tangan dan jam ponsel ketika bersamamu? Sampai akhirnya tiba saat di mana pertanyaanmu mencurah kembali, tapi kali ini singkat. Sesingkat waktu pertemuan kita bersama Tamara.

"Kamu tidak mau ikut aku?"

Sekilas kudengar aroma pertanyaan itu, serupa pertanyaan Humber Humber pada Lolita untuk terakhir kalinya. Pada akhirnya Lolita memilih Dick dan meninggalkan petualangan bersama Humbert Humbert.

Apakah karena cinta, Daru?

Tapi aku bukan Lolita, bukan Dolores setinggi 150 centi berkaos kaki, dan tanpa keterpaksaan sama sekali aku lewati waktu bersamamu.
*

Aku suka jalan kaki.
-Aku tahu
Bukan jalan di tempat
-Bukannya lelah jalan kaki?
Sampai kapan?

Aku membaca pesan dari perkataannya waktu itu. Kutahu itu tanda selamat jalan, atau pertanyaan kapan hubungan ini bisa jalan seperti kaki kita.

Tapi kusadari cinta kalah dari rangkaian norma, dua buku nikah berstempel Kantor Urusan Agama, seperangkat alat Sholat, dan hubungan dua keluarga. Seberapa besar kita meramu cinta lewat kata dan perbincangan panjang. Perpisahan butuh waktu. Dan itu lebih lama ketimbang pertemuan kita berdua.

"Aku ingin pisah dari dia. Cerai"
"Kapan?"

Ia memberiku suatu pertanyaan yang tak bisa kujawab. Atau tak sekarang bisa kutemukan jawabnya. Aku ingin dia tak pergi. Tapi aku tak dalam posisi yang baik. Aku punya keputusan yang harus kuambil. Tapi kupikir bukanlah saat ini.

Kupinta dia untuk mengulur waktu. Kapan, kapan? Begitulah dia bertanya. Apakah di ruang hatinya sudah ada yang lain? Purwarupa cinta yang lain? Ia menggeleng

"Aku hanya ingin jalan kaki secepatnya"
***

Kabari aku kalau kamu ingin jalan kaki lagi, Daru

Kabari aku kalau kamu bisa jalan kaki sendiri, tanpa peneman, tanpa alas kaki lain. Tapi Ayra, aku tidak janji kalau saat itu aku masih bisa jalan kaki bersamamu lagi. Kamu akan tetap menjadi Ayra yang tidak akan terganti. Satu-satunya segmen hidup yang kusukai. Tapi bukan berarti aku harus selalu menunggu untuk jalan kaki.

Ayra, cinta punya tenggat waktu. Seperti artikel di media daring.

Pada akhirnya, kami berdua masih jalan kaki. Tapi tidak lagi bersama di sudut-sudut kota. Kami berjalan kaki sendiri-sendiri saja. Dia dengan dunianya yang dulu. Aku dengan rutinitasku. Aku masih sering menceritakannya secara monolog dalam hatiku sendiri. Tapi aku rindu bercerita kembali dengan dia. Acap kali kudengar lagu The Hills of Manchuria, aku seperti mendengar lantunan suaranya, pedih, menyayat hati.

Aku selalu menghibur diri dengan kata-kata ini: seorang yang ingin berjalan kaki denganmu tak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun dia harus berjalan kaki tanpa alas kaki sementara kamu masih menggunakan alas kaki. Selelah apapun itu. Tapi aku tahu, bukan aku yang berhak menjadi korban. Aku mencintainya dalam posisi dan waktu yang tak tepat.

Maka dalam beberapa waktu yang lama, kakiku tak berjalan panjang. Aku memutuskan untuk naik kendaraan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe