Guru dan Kekerasan Simbolik

07.49



Di antara banyaknya stereotip tentang guru sebagai profesi mulia, pastilah hampir semua dari kita pernah merasakan hal ini: duduk kaku di depan papan tulis, seraya menyembunyikan keringat dingin dan ketidaktahuan dengan berpura-pura mengamati huruf demi huruf dalam buku teks. Berharap agar guru di hadapan kita tidak memberikan pertanyaan di luar hafalan, yang kemudian berimbas pada rasa malu akibat ketidaktahuan, dan ketakutan akan dianggap bodoh.

Fenomena "guru killer" atau guru galak memang bukan hal yang baru lagi. Bahkan hampir setiap sekolah memiliki ikon guru yang galak dan ditakuti. Sebetulnya, setiap guru memiliki cara mengajar yang berbeda-beda. Tetapi, seberapa efektifkah kemarahan dan tekanan dalam sebuah proses pendidikan?

Kemarahan, perkataan yang menekan, dan "paksaan" dalam menjawab soal yang terjadi pada guru dan murid merupakan salah satu bentuk dari kekerasan simbolik. Mendengar kata kekerasan, pikiran kita akan tertuju pada hal yang mengerikan, yang berhubungan dengan kontak fisik dan menyakiti salah satu pihak secara frontal. Tetapi, makna kekerasan tidak hanya sekadar interaksi fisik yang frontal. Kekerasan pun dapat berupa simbol, seperti yang dirumuskan oleh Pierre Bourdieu, seorang sosiolog asal Prancis yang pemikirannya banyak berkisar pada masalah sosial dan isu politik.

Dalam kehidupan, menurut Bourdieu, setiap manusia memiliki kapital (modal). Kapital ini dapat berupa kapital ekonomi (uang), kapital budaya (pendidikan, latar belakang keluarga), kapital sosial (relasi), dan kapital simbolik (pengakuan positif dari orang lain). Kapital simbolik ini memberikan kekuasaan terbesar, karena kapital ini didapatkan melalui pengakuan publik yang luas.

Kepemilikan kapital simbolik ini memungkinkan adanya kekuasaan dari pihak pemilik kepada orang lain. Ketika si pemilik menunjukkan kekuasaannya, maka orang yang lebih lemah tersebut terpaksa mengubah perilakunya. Dalam konteks guru dan murid, saat guru menekan murid untuk menjawab sebuah soal yang tak diketahui, atau menyudutkan murid saat dia tak bisa menjawab soal dengan kata-kata semacam "kamu nggak belajar ya?" atau "kan kemarin udah diajarin" atau "Kamu kok nggak paham-paham ya" di depan kawan-kawan sekelas, hal tersebut sudah masuk ke dalam ranah kekerasan simbolik.

Menjalani profesi guru memang bukan hal yang mudah. Tetapi butuh kesabaran yang berlipat ganda dalam proses pengajaran. Setiap anak punya kemampuan dan latar belakang yang berbeda, dan tidak bisa menyamakan satu anak dengan anak yang lain, dan menyudutkan salah satu anak hanya karena dia tidak sepintar kawannya. Tekanan sedari dulu dianggap sebagai senjata yang mumpuni untuk memacu anak belajar. Tetapi tekanan juga membuat anak menjadi seorang penghafal dan bukan pembelajar yang baik. Dia terpacu bukan lantaran ingin mendapatkan ilmu, tetapi untuk menghindari rasa malu dan takut di dalam kelas.

Foto: corkboardsconnection.blogspot.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe