Ayam Bakar Madu

21:48



Sudah beberapa hari lewat semenjak suami saya pergi, dan ini hari berlalu tanpa kedatangannya, kembali ke rumah kami. Jauh dalam kesadaran saya, saya telah mampu mereka-reka perihal ia sedang di mana dan bersama siapa, tetapi saya sering berbohong kepada diri saya sendiri. Saya selalu menenangkan hati dan pikiran saya agar sanggup memikul beban berat ini, tetapi bagaimana bisa saling berahasia dengan hati nuranimu?

Saya rasa, bila ada sebuah institusi yang tak mampu memberi jaminan keuntungan lebih dan investasi yang pasti di masa depan, namanya adalah pernikahan. Saya tidak tahu mengapa banyak wanita yang mau bergabung ke dalam institusi ini, termasuk saya, hanya dengan bayaran seperangkat alat sholat dan beberapa barang yang saya pikir bisa saya beli dengan hanya menerima seperduabelas dari pendapatan saya per bulan (di masa lalu), atau dengan janji sehidup semati, ditambah dengan sebuah benda abstrak bernama cinta.

Mungkin memang ada beberapa hal yang tak terlalu bisa dicerna dengan akal sehat manusia, atau mungkin juga pada dasarnya akal sehat dan irrasionalitas hanyalah dua frasa yang dikarang oleh manusia untuk menunjukkan benar salah. Saya tidak tahu. Atau mungkin sudah terlambat bagi saya untuk mencari tahu.
***

Suami saya, dia orang yang cerdas dan pintar membuat perhitungan. Boleh jadi ia tidak bisa membuat pesawat terbang, memberi lapangan kerja kepada para pengangguran, menyelamatkan hutang-hutang Indonesia di World Bank, tetapi suami saya, ia tahu bahwa masyarakat di negeri ini tak membutuhkan putra bangsanya yang bisa membuat pesawat terbang, yang bisa membuat ini dan itu, yang pintar mengatur negaranya, tidak, suami saya tahu bahwa masyarakat negeri ini cukup diberi harapan dan kata-kata mutiara, lalu mereka akan merasa kenyang seolah baru saja menghadiri acara makan besar. Entah bagaimana, negeri ini liberal sekaligus irrasional. Entah bagaimana, segala perkataan suami saya begitu mudah mereka telan bulat-bulat, dan begitu mudahnya bagi mereka untuk mengidolakan suami saya.

Di masa lalu (menurut pengakuan suami saya kepada saya, kepada keluarga besar saya, kepada anak kami satu-satunya, dan kepada seluruh umat di Indonesia), suami saya adalah seorang Atheis. Ayahnya keturunan Tionghoa dan Ibunya orang Manado. Keduanya menuliskan Katolik di Kartu Tanda Penduduk, tetapi dalam keseharian, mereka bahkan tak pernah pergi ke gereja. Bahkan tak pernah pula mereka menyebut Tuhan Allah, Tuhan Bapak dan Yesus Kristus, tak ada pula barang satu pun alkitab di rumah mereka. Jadilah suami saya tak pernah mengenal Tuhan, atau lebih tepatnya, tak mengenal sistem untuk menemukan Tuhan.
Namun (sekali lagi, ini merupakan cerita dari sumber yang sekunder, yakni suami saya), pada suatu waktu, ketika ia telah akil balig dan duduk di Sekolah Menengah Atas, ia merasa gundah. Ia merasa gundah karena di saat ia tak dapat menyandarkan harapan kepada manusia, ia tak tahu lagi harus mencari harapan di tempat mana lagi.

Lalu katanya ia mengalami sebuah kontemplasi yang panjang, lalu ditambah pula dengan cerita pencarian Tuhan hingga ke pelosok kampung dan beberapa rumah bordil serta rumah ibadah, dan katanya, ia menemukan Islam. Ia menemukan Islam sebagai tempat di mana ia bisa bergantung sepenuhnya.

Jadilah ia, suami saya. Seorang lelaki yang mualaf di usia delapan belas tahun, kemudian mengambil jurusan Dakwah di sebuah perguruan tinggi, lalu mengikuti jejak kawannya berdakwah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu masjid ke masjid lain, dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lain yang lebih besar. Ia selalu menerima bayaran sekadarnya, ditambah satu boks kue-kue ringan serta segelas kecil Aqua. Tetapi kata suami saya, ia tidak butuh uang. “Uang hanya berlaku di dunia, di akhirat nanti? Bisakah kamu membangun taman surga dengan bunga deposito?”

Namun manusia adalah sepotong daging yang di dalamnya terdapat sebuah jiwa yang mudah terombang-ambing. Pada suatu waktu, ketika ia tengah memberi siraman rohani di sebuah kelompok pengajian eksekutif-eksekutif muda, seorang lelaki paruh baya tertarik kepadanya, dengan perawakannya, dengan caranya berbicara, dengan kedua matanya yang tajam, dengan dakwah-dakwah yang dibawakannya. Belum lagi ditambah dengan setengah darah Tionghoa yang mengalir di tubuhnya. Lelaki itu memberi suami saya sebuah kartu nama dan sebuah janji untuk bertemu di suatu tempat beberapa hari lagi. Baru suami saya tahu bahwa lelaki itu adalah seseorang dari rumah produksi yang akan membuat sebuah sinetron religi.

“Kontrak tiga puluh dua episode. Sebagai Ustadz Miming, seorang ustadz mualaf yang membantu Boy (tokoh utama), mencari jalan yang benar menuju Allah SWT”. Bayaran yang besar. Namun karena dalam pikiran suami saya masih melekat mimpi tentang Taman Surga, yang membuatnya amat tertarik untuk bergabung adalah pernyataan lelaki tersebut tentang “dakwah kepada seluruh pemirsa di Indonesia”.

Dan di sanalah, negeri ini mengenal lekat sosok suami saya, Ustadz Miming, seorang mualaf berperawakan gagah, dengan segala ketegasan yang dibawanya setiap kali menyebarkan berita tentang jalan lurus kepadaNya. Di sanalah pula, saya, seorang artis muda, yang menjadi bintang tamu dua episode, bertemu dengannya. Awalnya saya pikir tak ada yang istimewa darinya, lagipula kendati saya mengenakan hijab dan selalu bermain dalam sinetron dan film religi, saya tak serelijius itu hingga tertarik untuk menjadi istri seorang ustadz.

Namun ketegasan suami saya, keseriusannya untuk meminta saya kepada orang tua saya (padahal tak pernah ada di antara kami janji untuk saling menjadi kekasih), serta perkataannya yang teduh namun pasti, jua restu yang sangat besar dari keluarga besar saya yang relijius dan sebagai keluarga keturunan daerah di pulau bagian barat Indonesia yang menganut paham ‘Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah’ membuat saya menjadi sangat tertarik kepadanya. Saya tak berani menyebutnya jatuh cinta, sungguh, bagaimana semudah itu menyimpulkan perasaan yang baru jadi kurang dari seminggu?

Lalu tak butuh waktu lama, tanpa perlu berpacaran karena pacaran mengundang laknat, kami menikah. Wartawan dan portal berita selebritis berbondong-bondong mendatangi kami, mencoba mengambil celah untuk merekam gambar prosesi ijab Kabul yang diadakan di rumah saya, tetapi bagi suami saya, infotainment dan portal gosip semacamnya adalah bentuk ghibah, dan baginya memamerkan pesta pernikahan adalah sebuah bentuk riya dan wujud kesombongan diri. Bagaimana bisa, saya tidak menjadi yakin bahwa perasaan saya sudahlah menjadi sebuah perasaan cinta? Seperti yang diharapkan para wanita untuk mencari lelaki yang sanggup menjadi pemimpin mereka, saya rasa, bersama suami saya, harapan semacam itu sudahlah dikabulkan oleh Tuhan. Allah SWT. Ia memang Maha Pemberi Rizki.

Tak beberapa lama setelah kami menikah, saya mulai mundur dari panggung hiburan. Selain karena saran suami saya tentang bahwa sebaiknya istri banyak berada di rumah untuk mengurus keluarga, lagipula semenjak pernikahan kami, tawaran yang datang mengalir kepada suami saya untuk berdakwah di acara-acara Tabligh Akbar dan acara televisi semakin banyak saja. Ibu-Ibu dan wanita muda menyukai suami saya yang berdakwah secara tenang, tegas, dan juga masa lalunya sebagai seorang mualaf. Banyak di antara para wanita muda yang kabarnya mengenakan hijab karena dakwah suami saya mengenai “Janganlah kain kafan menjadi penutup tubuhmu yang pertama sekaligus yang terakhir. Sudah pula tertulis perintah untuk menutup aurat kalian, dalam Surat Al-Ahzab ayat 59.”Syukurlah negeri ini mayoritas beragama Islam, sehingga cerita tentang keberpihakan pada sistem agama ini, tentang penerimaan wahyu bahwa agama ini adalah agama rahmatalillalamin sangatlah disukai oleh masyarakatnya. Masyarakat yang suka dengan dongeng singkat. Masyarakat yang menyukai keseragaman.

Tetapi saya tak peduli. Saya bahagia sekali. Saya rasa waktu itu, terutama ketika saya tengah hamil Laili, anak kami, saya adalah perempuan yang paling bahagia. Rumah tangga saya diberitakan sebagai contoh rumah tangga ideal, sakinah mawaddah, warrahmah. Suami yang tampan, sangat berkecupan dan relijius, istri yang cantik, artis terkenal dan sholehah. Belum lagi tawaran suami saya tentang apakah saya mau membuka restoran, seperti yang selalu saya cita-citakan sejak dulu, bahkan sebelum saya memasuki dunia hiburan. Tanpa pikir panjang lagi, saya menerima tawaran suami saya, sambil setengah mati berterima kasih kepadanya, memeluknya sangat, sangat erat disertai satu dua tetes air mata yang ada di ujung mata saya. Lantas saya merancang konsep apa yang saya inginkan untuk rumah makan saya: sebuah rumah makan khas Indonesia dengan menu utama Ayam Bakar Madu.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe