Ayam Bakar Madu (Bagian Dua)

21.51



Lalu bagaimana saya tak bisa mencintai hidup ini, mencintai suami saya, sekaligus mencintai Tuhan yang saya yakini? Baru tiga bulan semenjak saya membuka rumah makan itu, yang letaknya tak begitu jauh dari rumah saya, tetapi sudah padat nian pengunjung berdatangan ke sana. Saya paham betul kalau nama saya (dan beberapa wartawan itu), turut menjadi faktor-faktor penting mengapa saya bisa memiliki banyak pelanggan, tetapi saya sekali lagi, tak peduli.

Seringkali manusia selalu mencari pertanyaan tentang keburukan yang menimpa dirinya, tetapi tentang kebahagiaan, untuk apa ditanyakan? Belum lagi kelahiran putri pertama kami yang sangat sehat, cantik, mewarisi hidung Bapaknya yang kecil dan runcing, mewarisi mata saya yang bulat dan lentik bulu-bulunya.

Saya tidak tahu bagaimana lagi saya harus mengungkapkan kebahagiaan saya. Semakin giatlah saya melaksanakan Sholat, tak hanya lima waktu, tak hanya pada hari-hari besar, tetapi juga sholat-sholat Sunnah pada sepertiga malam, pada kala di mana matahari belum juga naik sepenggalan, pada pembuka dan penutupnya Sholat Wajib. Kami juga sudah dua kali pergi ke tanah suci untuk melaksanakan Haji dan Umroh, sungguh saya memberikan segala puja dan puji saya kepadaNya, sembari menangis begitu haru di depan Kabbah. Pun di depan Rauddah. Saya sangat mencintaiNya. Bagi saya kala itu Ia sungguh berhati besar, berhati Maha Besar.

Tetapi hidup adalah roda yang berputar ke atas dan ke bawah. Atau bila itu terlalu klise, hidup seperti sebuah ayunan, berayun ke kiri dan kanan untuk menjaga keseimbangan. Atau bila itu terlalu panjang, hidup adalah masalah keseimbangan. Saya rasa pendapat Ibu saya di waktu saya kanak, tentang bahwa kalau berbahagia yang sewajarnya saja, janganlah terlalu melambung, mungkin ada benarnya. “Kalau kamu seharian ketawa ngakak sampai nggak bisa nafas, hati-hati lho, besoknya kamu bisa nangis kejer”, begitu katanya, yang dalam hati saya tertawai sebagai mitos. Tetapi rasanya kali ini saya salah besar. Mungkin tanpa perlu berjalan angkuh di muka bumi, hati saya sudah melompat sangat tinggi hingga meraih batas kesombongan. Mungkin benar kalau Tuhan bisa menjenguk hati kami.

Saya tidak tahu apa kekurangan saya. Saya menarik, saya cukup awet muda, saya selalu ada ketika suami saya membutuhkan, saya mampu memasak dengan baik, saya tak suka meminta macam-macam, saya bisa memberikan anak kepada suami saya, tetapi lelaki adalah kanak-kanak, yang tak pernah puas dengan satu mainan bagus yang dibelikan oleh Bapaknya, yang di hari lalu begitu ia inginkan sampai ke dalam mimpi.

Entah saya terlalu percaya diri atau suami saya telah berubah, pada suatu waktu, ia berkata pada saya bahwa ia ingin membicarakan suatu hal. Saya pikir ini masalah-masalah seperti ijin untuk pergi berdakwah ke kota mana, atau tentang anak kami yang baru masuk Taman Kanak-Kanak, atau saran tentang restoran kecil saya. Tetapi betapa perkataannya seperti sebuah dentuman besar yang tetiba saja datang, yang gelegarnya mampu memporak-porandakan hati saya, yang seolah seperti membikin cair seluruh bagian tubuh saya, mulai dari kulit saya, hingga ke segala daging dan urat nadi, lalu tak tersisa juga rangka tubuh saya, ia meminta izin kepada saya tentang sebuah hal yang bahkan dalam mimpi terburuk saya pun, tak pernah ada. Ia meminta restu kepada saya untuk menikah lagi.
*

Apa yang lantas saya pertanyakan? Segala hal. Tetapi bukan suami saya bila ia pandai bersilat lidah dengan segala macam ayat yang saya rasa diputarbalikkan menjadi versi hatinya sendiri dan bukan versi Illahi, dan betapa bodoh dan awamnya saya yang tak mampu membantahnya, ataukah cinta yang membuat saya demikian. Bagaimana bisa ia berkata bahwa zina adalah seburuk-buruknya perbuatan setelah syirik, fitnah, dan pembunuhan, dan betapa pintar ia memberikan saya gambaran surga bagi para istri yang ikhlas dan rela berkorban. Begitu kejamnya pula ia menggunakan ayat sebagai tameng dari nafsu lelakinya : “Coba kamu buka, surat An-Nisa ayat ketiga: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Entah saya yang awam atau suami saya yang kurang ajar, tetapi saya rasa, dalam memahami sebuah ayat kita harus memahami konteksnya, memahami ayat-ayat yang tertulis sebelum dan sesudahnya, dan bahwa Al-Quran tak bisa langsung ditelan bulat-bulat dengan penelaahan yang mentah. Bukankah kalau saya tidak salah, Allah pernah berfirman bahwa manusia biasa tak bisa berlaku adil? Bila begitu, sudah gugurlah syarat utama mereka untuk memiliki lebih dari satu pasangan. Atau suami saya sudah merasa seperti Nabi? Sudah terlampau angkuh seperti ustadz-ustadz selebritis lain yang menganggap dirinya pantas dikultuskan?

Mungkin memang benar, suami saya, sama seperti stereotip para kritikus tentang ustadz selebritis. Tentang mereka yang menjual ayat-ayat Tuhan dengan mudahnya, sementara dalam kehidupan mereka sendiri tak mampu mereka menahan nafsu mereka sendiri. Saya pikir, seperti yang banyak orang pikir, suami saya berbeda. Suami saya tulus berdakwah dan tak ingin jadi terkenal. Tetapi waktu menuakan suami saya dan menuakan pula idealismenya, mungkin sudah terlalu renta idealisme yang dimilikinya hingga sekarang sudah sekarat menuju mati.

Pada suatu waktu, di sebuah pesantren yang terletak di sebuah kota daerah Jawa Barat, suami saya bertemu dengan perempuan itu. Lebih tua lima tahun dari saya. Ya, ia menikahi seseorang yang lebih tua dari istrinya. Tetapi perempuan itu, saya akui, ia lebih cantik daripada saya. Suami saya bilang, ia seorang janda. Anaknya dua orang. Tetapi lagi, saya tahu suami saya jatuh nafsu kepadanya. Bila ini hanya tentang membantu, mengapa ia tidak menikahi saja seseorang yang benar-benar renta, dan benar-benar tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya? Bukan seorang wanita yang segala fisiknya lebih indah daripada saya.

Saya jatuh. Saya jatuh tetapi saya masih sungguh percaya pada Tuhan, pada Allah. Saya semakin giat berdoa kepadaNya. Meminta dengan segala tangis dan segala pedih. Memohon setengah mati kepada suami. Tetapi hatinya sekeras batu. Ia mencintai wanita itu. Saya tidak tahu bahwa mahal sekali saya harus membayar untuk sebuah hal bernama pahala, yang wujudnya belum pernah saya lihat.

Wartawan-wartawan mulai mencium berita tersebut. Mereka menunggu kami di depan rumah, menunggu saya di depan restoran, tetapi saya terlalu malu dan terlalu pedih untuk berbicara. Saya marah, besar sekali api menyala di dalam hati, dan pucat sekali wajah saya yang selalu dialiri oleh air mata setiap hari, tetapi saya tak bisa berkutik. Ayah dan Ibu saya sangat marah, mereka datang pula ke rumah saya untuk menjemput saya. Tetapi saya bodoh. Saya tahu saya bodoh, tetapi saya tetap memilih untuk menetap saja, di sini. Menunggu suami saya yang tengah bersama istri keduanya.

Saya tak tahu apa yang disebut dengan adil. Boleh jadi suami saya membagi rata hari-harinya kepada kedua istrinya, tetapi ini tak bisa saya sebut dengan nama keadilan. Tak ada wanita yang berkenan membagi cintanya secara cuma-cuma. Saya jadi manusia rumahan. Sudah sebulan saya tidak melihat langit, melihat awan melihat pepohonan. Tak peduli saya dengan restoran saya, dengan kabar-kabar dari pekerja saya tentang restoran saya yang semakin ramai saja akibat simpati public terhadap saya. Saya rasa bila bunuh diri tak menyakitkan dan bila tak tertulis di kitab saya tentang pelaku bunuh diri yang sudah tak bisa membenahi dosanya lagi, saya sudah bunuh diri sejak kemarin. Walaupun saya rasa hal itu malahan akan membuat bahagia suami saya dan ayam tua itu. Ayam tua yang menjadi madu dari suami saya.

Setiap kali saya mengingat wajahnya, setiap kali saya menggumam namanya, api itu memanaskan segala darah dalam tubuh saya. Terlebih, semenjak saya tahu bahwa suami saya membuat sebuah butik untuk perempuan itu.


You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe