Ayam Bakar Madu (Bagian 3)

21.53



Lalu begitulah. Ini entah sudah berapa lama semenjak saya tak lagi merasa berbahagia dan suami saya saya bagikan dengan terpaksa kepada perempuan lain. Wartawan-wartawan mulai jengah menunggu di depan segala aset bangunan yang saya dan keluarga saya miliki, termasuk restoran kecil saya. Sebagai seorang wanita yang menyukai kegiatan dapur, saya rindu dengan restoran saya. Saya rindu memasak bersama para pekerja lain di sana. Saya rindu menyapa pelanggan dan mengucapkan terima kasih.

Saya tahu bahwa saya tak lagi punya muka untuk bertemu orang lain, tetapi entah kenapa saya sudah sangat muak berada di rumah. Saya ingin pergi ke restoran saya.

Untuk pertama kalinya, semenjak suami saya menikah lagi, saya memasak. Dua porsi Ayam Bakar Madu. Mencampur air jeruk, madu, bawang putih bubuk, saus tiram, cabai, garam, gula pasir, merica, saus tomat dalam satu wadah. Mengoleskannya pada ayam-ayam yang gemuk dan besar.

Memanggangnya dengan seksama. Saya menikmati asap-asap yang menerpa wajah saya, saya menikmati wangi ayam yang dipanggang di atas api panas-panas. Untuk sementara, ada plester yang mampu meredam rasa perih di dalam hati saya.

Tetapi betapa Tuhan mungkin ingin menyeimbangkan hidup saya. Seperti kebahagiaan yang di waktu lalu datang bertubi, pun juga kepedihan. Saya tak tahu di mana akal sehat dan perasaan suami saya, yang membawa perempuannya itu ke tempat saya, bersama dua anaknya yang berwajah menyebalkan. Saya tak tahu, apa ia tak punya malu dan tak ambil peduli dengan berpasang-pasang mata yang menatap ke arah mereka, ke arah saya, mata para pelanggan dan pekerja di restoran saya. Saya tak tahu bisa-bisanya ia menggunakan alasan keakraban untuk melakukan hal ini, pedih sekali hati saya. Belum lagi ditambah beberapa wartawan yang sudah menunggu di depan restoran saya. Saya ingin marah. Saya ingin menghancurkan segala hal di hadapan saya. Saya ingin menjadi raksasa lalu menginjak-injak ayam baru suami saya yang lancang dan kurang ajar. Saya ingin menelanjanginya lalu mencacahnya kecil-kecil. Saya ingin meremas suami saya hingga tulang-tulang di tubuhnya menjadi remah-remah. Saya ingin menghancurkan semua kamera yang dibawa oleh para wartawan itu, dan menjejalkannya ke mulut mereka. Saya ingin mengkiamatkan segala yang ada di hadapan saya.

Tetapi saya selalu tak mampu mengeluarkannya. Bahkan untuk berkata-kata kotor kepada suami saya pun, saya tak sanggup. Mungkin benar, bahwa jauh di dalam hati saya, saya percaya tentang surga yang dipersiapkan untuk para istri yang rela berkorban, dan bahwa saya sangat menginginkannya.
*

Namun malam ini, pada suatu tiba-tiba, ada sebuah hal menggelegak dalam diri saya. Saya merasa sangat segar, saya merasa ada sesuatu yang mengalir deras dalam hati saya. Saya kenang lagi kebersamaan kami di masa yang lalu. Saya kenang hari-hari kami yang indah dan berbahagia. Saya kenang lagi saat di mana suami saya, di sisi saya memegang erat tangan saya pada saat saya berjuang di ruang bersalin. Segalanya terputar begitu saja, seperti sebuah sinema dokumenter, dan tiba-tiba saja, saya merasa ingin tertawa. Tertawa atas segala penerimaan saya yang begitu berlebihan.

Saya rasa, saya kalah. Saya sudah kalah semenjak suami saya berubah, atau mungkin semenjak saya tak sadar bahwa bisa jadi suami saya akan berubah. Saya terlalu terbuai hingga tak sadar saya menjadi begitu lemah. Tetapi saya tak mau seterusnya mengalah. Saya manusia. Saya bukan tissu bekas sekali pakai. Saya bukan plastik pembungkus Ayam Bakar Madu. Saya adalah istri pertama suami saya. Saya adalah seorang wanita muda yang rela meninggalkan kariernya demi suaminya, demi keluarganya, demi mengurus rumah tangganya. Saya tidak mau dikalahkan oleh seorang wanita yang tak jelas asal-usulnya.

Lalu malam itu, saya teringat. Dua buah jerigen berisi bensin di dapur belakang. Masih dengan sisa tawa yang tadi berderai, saya beranjak dari kamar. Saya ambil dua buah jerigen itu dari sana, beserta sebuah pemantik yang warnanya biru transparan. Saya tersenyum, saya bayangkan satu menu besar yang saya buat malam ini.

Sementara itu, anak saya tengah tertidur bersama seorang asisten rumah tangga yang sudah lama bersama kami. Di dalam hati saya mengucap selamat tinggal sejenak, nanti Bunda kembali ketika malam sudah terlalu larut. Melihat wajahnya yang teduh, melihat rambutnya yang sebahu dan bergelombang, melihat kedua pipinya yang bergelambir, saya tak kuat. Segera saya angkat kaki dari sana.

Saya pacu mobil dengan kencang. Dengan kecepatan serupa yang disarankan oleh pengumuman di jalan bebas hambatan. Kebetulan sekali jalanan menuju tujuan saya hampir tak pernah padat merayap. Saya bahagia. Saya bahagia menganggap Allah, Tuhan saya masih mau memberi saya peluang untuk melakukan apa yang saya ingin lakukan. Saya bahagia.

Kebahagiaan itu surut sangat jauh, ketika saya sampai ke depan rumah ini. Rumah yang menjadi tempat tinggal baru suami saya dan ayamnya. Saya lemas, saya merasa kembali encer seperti es batu di dalam ruangan yang pengap. Tetapi itulah bukan, tujuan saya ke sini? Berbagai ayat dan kata-kata dakwah memenuhi pikiran saya. Tentang laknat Allah terhadap mereka yang menyakiti sesamanya. Tentang sepuluh dosa besar. Tentang perintah untuk bersabar. Tentang taman surga. Namun untuk apa lagi, saya mengorbankan seluruh hidup saya dan perasaan saya untuk sebuah hal yang belum pasti? Yang bahkan tak pernah ada gambarnya sekalipun? Saya tak mau kalah lagi. Saya tak mau melihat kebahagiaan mereka yang menyakiti saya.
Saya ingin api ini tak hanya membakar seluruh hati saya, setiap waktu. Setiap saya mengingat suami saya dan istri barunya.

Diam-diam, saya pergi ke bagian belakang yang tak dilindungi oleh pagar. Bodoh betul suami saya yang membelikan ayamnya sebuah rumah yang tak aman. Besar, tapi sunyi, jauh dari keramaian. Mudah terbakar, mudah saja dimasuki pencuri. Tetapi saya senang. Saya senang, artinya Tuhan sedang bersama rencana saya.

Dengan tergesa saya menumpahkan dua jerigen berisi bensin di sepanjang dinding rumah tersebut. Saya tahu betul, kamar mereka berada di bagian belakang. Saya tak tahu mengapa suami saya mau menikahi seorang wanita yang percaya feng shui, bahwa kamar tidur sebaiknya berada di selatan. Saya tak tahu mengapa ia mau menikahi perempuan musyrik semacam itu. Jijik saya mengingatnya. Rasa jijik itu membuat saya semakin bersemangat melakukan hal ini. Matilah perempuan musyrik itu. Matilah ayam tua itu. Matilah ia, bersama seorang lelaki pengkhianat.

Matilah ia, bersama nyala api yang sebentar lagi akan semakin membara. Yang di hadapan saya, warnanya kuning kemerahan. Berkilat ia seperti kedua mata saya. Seperti senyum saya. Orang bilang, cara paling mudah untuk membunuh adalah membakar. Tak mudah diketahui, tak mudah dicari buktinya.

Saya masih ingin menikmati nyala api itu. Tetapi walaupun ini tengah malam yang sangat sunyi, saya tak boleh lengah. Saya harus cepat-cepat pergi dari sana. Saya tak mau walaupun kedua orang munafik itu telah mati, tetapi mereka masih dapat membalaskan dendam pada saya, dan membuat saya masuk ke dalam bui. Saya mau pulang dan tidur nyenyak bersama anak saya.

Di sepanjang perjalanan pulang, Jakarta lenggang seperti hari lebaran. Saya mengenang saat-saat Hari Raya bersama suami saya, tetapi saya rasa hal-hal semacam itu akan tinggal jadi kenangan. Setelah ini saya akan bertaubat dengan taubat nasuha, saya akan pergi haji lagi, saya akan meminta ampun pada Allah. Ia Maha Pengampun. Saya pernah mendengar cerita tentang pembunuh yang diampuni. Saya pernah mendengar pengampunan Allah kepada Musa dalam Surat Al-Qashash, sebuah surat yang juga menjadi salah satu mas kawin saya, diukir di sebuah plat warna emas : Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permusuhannya).’ Musa berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sementara suami saya, ia akan menanggung dosa atas ketidakadilannya di akhirat. Sementara juga, besok, kedua anak dari madunya yang baru pulang dari acara camping sekolah, akan terkejut melihat rumahnya yang jadi hitam. Seperti arang untuk membakar Ayam Bakar.

Ketika saya tengah memasuki perumahan tempat saya tinggal, telepon saya berbunyi. Saya sedikit terkejut, hampir saya tak melihat gundukan di depan, tetapi cukup lega saya ketika melihat nama asisten rumah tangga saya tertera di sana. Saya mengangkatnya dengan tenang, seperti pada hari-hari biasa.

“Maaf, Ibu, Laili nangis, mencari Ibu..”, lalu saya dengar suara isak Laili, yang kemudian dilanjutkan dengan suaranya yang mungil dan menggemaskan.
“Bunda..Bunda pelgi ke mana? Kok Bunda enggak ajak Laili.. Hiks..”, saya selalu ingin merekam suaranya yang menenangkan. Saya mencintainya dan ingin segera memeluknya.
“Bunda sudah mau pulang kok Laili. Bunda enggak bakal ninggalin Laili kok. Bunda kan tadi cuma..”
“Cu…Cuma apa Bunda?”
“Bunda cuma lagi buat Ayam Bakar Madu, sayang. Ayamnya besar. Dua ekor. Pasti Laili senang, senang ya, Laili?”

Suara tawa anak saya membentuk perasaan lega di dalam hati.
*

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe