Aku dan Pebblo

21.47



 Bersediakah kamu membagi koin?



Sebetulnya aku bukan anak yang suka dengan permainan digital. Permainan digital membuatku kebingungan. Bagaimana bisa seorang manusia memiliki dua atau lebih dunia secara bersamaan? Atau menikmati dua-duanya dengan nilai rasa yang sama?

Maka dari itu, aku menghindari unduhan permainan digital di ponselku. Selain membuat banyak hal penting terlewatkan begitu saja seperti angin, permainan semacam itu membuat ponselku melambat, seperti manusia yang membawa tas pangl berat, lalu disuruh untuk jalan beberapa kilometer.

Tapi manusia suka menelan ucapannya sendiri semudah menelan camilan. Dan aku, hal itu terjadi setelah Pebblo muncul dan disiarkan di berbagai iklan dunia maya, juga televisi. Pebblo sekilas  terlihat  seperti permainan bodoh, dengan tokoh-tokoh astral setengah hewan yang hidup di sebuah dunia astral yang punya peradaban tak jelas.


Awalnya, aku sekadar mengunduh sebuah aplikasi pesan murah saja. Namun rupanya aplikasi tersebut menganjurkan aku untuk mengunduh permainan yang dibuat di perusahaan yang sama, ya, Pebblo, apabila aku ingin mendapatkan gratis paket data. Iming-iming itu lantas menghipnotisku saja, lagipula, di sudut mana dunia, ada orang yang tak suka dengan hal yang gratis, tidak bayar?

Begitulah awal perkenalanku dengan Pebblo. Terlebih untuk bisa secara sempurna mendapatkan paket data, aku harus masuk ke permainan Pebblo. Lalu begitu saja, pada pandangan pertama, aku punya rasa pada Pebblo

*

Tiada hari tanpa aku membuka Pebblo dan menanyakan kepada temanku maukah melawanku dalam mini-game yang terdapat di dalam Pebblo. Kalau aku di masa lalu bertemu aku yang telah menemukan Pebblo, mungkin ia akan mencerca habis-habisan. Tapi Pebblo adalah candu. Pebblo menawarkanku dunia yang baru, yang tidak membosankan seperti dunia nyataku. Lagipula, kalau aku sedang lelah, aku bisa keluar dari aplikasi itu. Lalu masuk lagi. Pun, Pebblo menawarkanku sebuah kompetisi hidup yang lebih transparan, yang lebih mudah untuk diikuti, tanpa intrik tanpa politik tanpa kebohongan ala kapitalis.

Maka aku jadi lebih kaya di Pebblo daripada di dunia nyata. Di dalam Pebblo, aku bekerja sebagai pemilik pabrim permen karet yang dapat mengeras dan dijadikan mainan. Memang tidak semenakjubkan Willy Wonka, tetapi aku bahagia. Aku sangat senang bisa berkreasi dengan bentuk apa saja dan membuat anak-anak bahagia. Berbeda dengan dunia nyata di mana aku harus bekerja untuk membahagiakan orang dewasa.

Aku jadi suka bertransaksi jual beli di Pebblo. Yang paling kusukaadalah transaksi jual beli dengan seseorang bernama Yoda. Yoda adalah pemilik teknologi tambang batuan mulia. Di Pebblo, dia sangat menarik dan cerdas, sehingga kusuka setiap transaksi dan pertemuan dengan dirinya. Memang aku tak terlwlu tahu siapa dan seperti apa dia di dunia nyata. Mungkin dia pria mapan. Atau mungkin dia remaja labil yang kehabisan waktu di warung internet. Aku tak peduli. Seperti aku yang tak peduli kalau lebih banyak kuhabiskan waktu di depan tablet, di dalam kamar terutama bila waktuku senggang. Kurang waktu berjalan-jalan

Namun pusat wisata dan perbelanjaan di Pebblo sangat cantik, gambarnya menawan, ramai orang. Aku tak lagi butuh karyawisata di dunia maya. Cukup menatap tabletku dan aku bisa pergi ke mana saja. Aku adalah orang paling bahagia yang pernah aku temui.

*
Semakin lama intensitasku di dunia nyata berkurang. Ada baiknya, banyak pula buruknya. Kabar baiknya, aku tak perlu lagi merogoh kocek dalam-dalam untuk sekadar bersantai di kedai kopi. Aku juga tak pernah membawa kemarahan atasanku hingga ke dalam hati, tidak seperti dulu ketika aku belum mengenal Pebblo. Pebblo adalah jalan keluarku dari pusaran dunia nyata yang tak membawaku pada apapun. Sekeras apapun aku berusaha di dunia nyata, aku tak punya modal dan aku kalah dengan mereka yang sedari dulu punya modal. Hidupku jalan di tempat, seperti ribuan manusia yang bangun pagi berangkat kerja lalu pulang. Tapi di Pebblo, aku, kami semua, bisa menjadi apa saja asal kami rajin berusaha. Pebblo melepaskanku dari konsumerisme, kapitalisme, chauvinisme, semua -isme dan aliran-aliran yang menenggelamkan kami dalam putaran nasib yang terlampau dalam.


Buruknya, mungkin kinerjaku berkurang, kawanku berkurang, makin sulit bagiku untuk punya kekasih, tak ada penghasilan tambahan, tak banyak interaksi dengan keluarga, minus mataku bertambah, aku semakin terisolasi, semacam itu. Tapi Pebblo menawarkan satu hal yang membuatku sadar kalau itu semua tak berarti apa-apa. Bahkan kini kupertanyakan, mana yang lebih nyata? Dunia nyata ataukah Pebblo? Bila dua-duanya tidak nyata, hanya sekadar cerita, baiknya kupilih Pebblo lebih dari segalanya. Atau bila Pebblo tak nyata, aku rela menjadi fiksi seumur hidupku.

Lagipula, Pebblo mempertemukanku dengan banyak teman baru, di dunia nyata. Walaupun interaksi kami, para penduduk Pebblo, berada di dalam sebuah grup pada dunia maya.

Sangat kusukai kawan-kawan baruku ini. Mereka memahami Pebblo seperti aku yang begitu mencintai Pebblo. Di saat ribuan orang di luar sana mengkritikku sebagai pecandu, para penduduk Pebblo menganggapku sebagai pengusaha unik. Sering bahkan mereka menawarkan jual beli denganku. Memperkayaku dengan pundi-pundi koin, membuatku bisa beli mobil baru, yang di dalam dunia nyata pun kudamba saja tak pernah bisa.


Sungguh, aku ingin sekali mengonversi tubuh nyataku menjadi keping-keping piksel, menyusupkannya ke dalam Pebblo. Jadi tak perlu kurisaukan lagi dunia nyataku.

Bersambung ke bagian dua

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe