Aku dan Pebblo (Bagian Dua)

21.51



Pebblo adalah surgaku yang maya, surgaku dalam kepingan piksel dan tumpukan warna-warna. Kuanggap begitu, dan kuharap selalu begitu. Aku pikir kiamat di dunia tak jadi masalah selama Pebblo dan aku dan segala milikku juga pabrik permen karetku masih ada di dalam sana.


Tapi Pebblo adalah simulasi dunia nyata. Seharusnya aku sadar itu dari awal.

Permasalahan dimulai dari hubungan bisnisku dengan Yoda yang semakin lekat saja. Dalam logika di dunia nyata, sebetulnya sulit mengorelasikan permen karet dengan tambang batu mulia. Tapi Pebblo mewujudkan mimpi siapa saja yang memiliki kemauan keras, dengan cara apa saja, termasuk bila hal tersebut kedengarannya dungu di dunia nyata. Aku menggunakan serbuk batuan mulia Yoda sebagai bahan tambahan permen karetku, sehingga permen karetku bisa mengeras dan terlihat indah, juga lebih mahal.

Aku tahu kalau Yoda adalah orang yang haus akan koin. Terlihat jelas sekali dari perbincangan kami setiap kali bertransaksi. Dia adalah tipikal orang yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan koin, meningkatkan taraf hidup di Pebblo, menyelesaikan setiap tantangan, dan mendapatkan kunci untuk naik level.

Tapi karena Pebblo adalah permainan, kupikir melakukan apa saja, selama bukan hacking dan sesuai peraturan, rasanya tidak masalah. Pebblo tidak memerlukan tanggung jawab moral. Karena peraturan tertulis adalah satu-satunya pedoman hukum dan segala perilaku di Pebblo. Maka dari itu, aku tak peduli dengan ambisi Yoda. Aku juga tak peduli kalau dia dianggap berdarah dingin oleh masyarakat Pebblo. Dan aku juga tak peduli kalau banyak orang bodoh, tak mahir bermain Pebblo, yang kalah dari orang-orang seperti Yoda dan juga aku.

Tapi yang kupedulikan adalah ketika banyak orang yang bertemu denganku dan mengucapkan kata-kata kasar, menunggu di depan pabrikku dengan wajah marah, dan mengajak bicara beberapa karyawan di dalam pabrikku. Dan yang semakin kupedulikan adalah ketika banyak orang yang mengirimkanku pesan lewat Pebblo Messenger, menanyakan padaku apakah mungkin aku dan Yoda berbuat curang.

Serta menanyakan apakah aku bisa membagi separuh koinku dengan cuma-cuma
*

Beberapa waktu terakhir di dunia nyata, aku agak kritis kalau membaca sesuatuyang berhibungan dengan monopoli dan rakusnya para pemodal untuk memperkaya diri. Ini ada hubungannya dengan gajiku yang tak kunjung naik, yang hanya beberapa milineter di atas upah minimum (bila upah dapat terukur dengan penggaris), padahal pekerjaanku bisa memanjang dari pukul sembilan hingga sembilan lagi. Maka dari itu kubenci sistem pengupahan, pengusaha yang menganggap karyawan tak ubahnya baut yang bisa digunakan sekenanya tanpa hafal muka, kubenci pula monopoli perusahaanku, yang tamak memperkaya dirinya dan jajaran direksi yang semakin menggemuk.

Daysleeper: Lavitra16 koin lo makin lama makin banyak. Bagi, dong. Gue kan udah lama kerja di tempat lo

Lavitra16: Kan gue bagi setiap tanggal 20?

Daysleeper: Itu nggak seberapa. Bagi rata, dong.

Lavitra16: Loh bagaimana? Kan peraturannya pekerja dibayar setiap tanggal 20?

Daysleeper: Apa susahnya sih, ngebagi koin sama rata, dasar pengusaha kapitalis lo ya. Kayak Freeport aja :p

*

Yoda: Selamat, kita memang kapitalis di Pebblo. Belum sadar?

Aku tidak mengenal siapa diriku. Mungkin aku adalah Vitra, pegawai keuangan separuh perjalanan hari di kota besar Indonesia, sering kesepian. Atau mungkin aku adalah pemilik pabrik permen karet yang kaya di kota Blome, dengan identitas Lavitra16, kawan erat Yoda penambang batu mulia. Aku tidak tahu siapa aku, aku yang mana? Aku ingin memilih, dan bila bisa, akan kupilih kehidupan di Pebblo, Yoda, dan segala pundi-pundi koinku yang semakin lama semakan banyak saja.


Tapi aku tidak bisa memilih. Setiap kali mataku beralih dari tablet, seketika terbangun pula aku dari sepaket kebahagiaan itu. Aku kembali pada ruang kamar sewaanku yang sempit, yang belum sempat kubersihkan berhari-hari, yang dindingnya penuh dengan kertas-kertas post-it berisi segala mimpi, segala target untuk bisa menjadi sukses dan keluar dari cengkeraman kapitalisme yang pekat, menjerat. Luas Pebblo hanya tujuh kali lima inchi. Luas Jakarta, kotaku hidup, enam ratus enam puluh dua kilometer persegi.


Aku terduduk lemas di tengah kamar. Ucapan selamat Yoda menggantung di benakku. Selamat, kita memang kapitalis. Aku mencoba untuk mematahkan ucapannya dan berkata bahwa kita tidak setamak pemilik modal di dunia ini, atau setidaknya di Jakarta Raya. Yoda, kita tidak pernah membunuh orang. Kita membagi koin sesuai porsi. Lalu dengan permen karet, aku membagi kebahagiaan dengan anak-anak, dan batuan muliamu membahagiakan banyak pemain wanita

"Apakah lalu jadi beda, Lavitra? Apakah itu membuat kita lantas jadi seorang filantropis? Kita kapitalis, Lavitra. Kita adalah petarung yang kapitalis di Pebblo. Kita berusaha memperkaya diri dari hari ke hari. Kecanduan koin. Lalu memperbanyaknya lagi dan lagi. Setiap hari. Apa bedanya dengan pemilik gedung-gedung tinggi itu? The big 10 of Forbes Indonesia? Apa bedanya, Lavitra?

Bedanya ya, ini cuma mainan. Take it easy, girl. Oh anyway, usia kita sama, kalau nggak salah? Can we just meet up and leave this Pebblotopia? Hahaha"

"It is just a game, ya Yoda :)? Aku mau bertemu, tapi aku di dunia nyata adalah pecundang, pegawai biasa yang sulit mencapai target, banal, tak punya pencapaian apa-apa, kecuali kalau Pebblo diperlombakan. Oh ya, aku juga menghilangkan jerawat di avatarku"

Tapi kemudian kuhapus rangkaian huruf itu seperti pula kuhapus Pebblo dari tabletku. Aku ingin minum kopi, dengan krim tinggi dan saus karamel.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe