Mengapa Katakan Tidak Pada Poligami?

13.51



Beberapa waktu lalu, Indonesia kembali dihebohkan dengan kemunculan video yang berisi tentang seorang perempuan bercadar, tengah mencurahkan isi hatinya lantaran suaminya berpoligami. Jelas saja, pro-kontra pun kembali menyeruak. Yang kontra, sudah pasti kaum perempuan. Dan yang pro, kebanyakan sih, laki-laki (yang sok alim tentunya).

Mengapa sok alim? Tentu saja. Pelaku poligami menggunakan agama sebagai tameng untuk membenarkan perilakunya. Padahal, ada hal-hal yang para pelaku poligami itu tidak pernah pikirkan. Sesuai dengan agama kah? Jelas tidak. Jelas beda jauh dengan kisah Nabi Muhammad SAW.

1. Menghindari zina? Yakin?
Banyak lelaki yang berpoligami dengan alasan "menghindari zina". Semudah itukah? Padahal kalau mereka memang betul-betul mempelajari Islam, mereka harusnya paham bagaimana cara mengelola nafsu. Dan jelas, bukan dengan cara menikah lagi dengan seseorang yang bagi mereka, secara seksual lebih menarik ketimbang istri mereka.

Sebetulnya, perilaku mereka tak lebih daripada cara untuk menyembunyikan nafsu binatang mereka, dengan tameng agama. Jelas beda jauh dengan Nabi Muhammad yang menikahi janda-janda tua yang tak secantik istrinya, untuk menafkahi dan melindungi mereka

2. Adil dari mana?
Banyak lelaki yang berpikir bahwa sekadar memberi nafkah lahir dan batin yang sama pada kedua istri, sudah bisa disebut adil. Padahal, mereka tidak pernah benar-benar adil. Biasanya, lelaki menikah lagi setelah dia mapan. Dan ketika dia belum mapan, segala kesusahan dan kesenangan dilewati bersama dengan istri pertama. Sementara itu, istri kedua hanya mendapatkan kesenangan saja. Yang seperti itu, apakah bisa disebut adil?

Kalaupun memang lelaki tidak pernah melewati fase kesusahan bersama istri pertama, dia tidak mungkin bisa adil seutuhnya. Tentu saja, tidak mungkin dia bisa memiliki porsi cinta yang sama terhadap istri-istrinya.


3. Ridho Istri
Banyak yang mengaku bahwa mereka mantap berpoligami ksrena telah diridhoi oleh istri. Padahal mana ada, istri yang rela dipoligami, apalagi karena alasan nafsu belaka. Dan bila ada setitik ketidakridhoan istri pada tindak poligami tersebut, maka, sebetulnya mereka tak boleh berpoligami.

Mungkin istri pertama bisa memberi izin lewat surat, tapi ada perbedaan besar antara ridho dan paksaan.

4. Tameng Agama
Semua pelaku poligami berkoar-koar bahwa agama memperbolehkan poligami, dengan menyebutkan ayat-ayat tertentu sebagai pembelaan diri.

Terlihat sangat relijius ya, mereka? Padahal mereka seharusnya membaca Surat An-Nisa. Di sana, disebutkan bahwa pria dapat menikahi hingga empat wanita. Namun, jika tak bisa adil, cukup nikahi satu saja. Mengenai adil, sudah dibahas di atas, dan tentu saja, tidak ada manusia yang bisa betul-betul adil.


Sumber Foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe