Logika Indonesia: Pemerkosa vs Koruptor

22:34

Kalian semua pasti masih ingat dengan kasus pembunuhan dan pemerkosaan seorang anak berusia 9 tahun di Kalideres. Yap, 9 tahun. Negara ini nggak cuma kebanyakan orang bodoh, tapi juga insane people. Orang gila rendahan. 

Media memang gencar memberitakan hal tersebut, seperti masyarakat yang gencar buat marah-marah. Tapi entahlah, saya melihat kok, marahnya masyarakat terhadap kasus ini, nggak sebesar marahnya masyarakat waktu denger berita tentang koruptor, ya? 

Oh ya. Jadi inget banget, kalau pernah ada orang yang berkomentar begini: "Pembunuh cuma bunuh satu orang, tapi koruptor membunuh ribuan orang". Well, kami nggak tahu apakah komentator itu sudah jual otak ke pasar bekas atau bagaimana. Yang jelas, dia nggak menghargai nyawa orang. Mau satu ataupun banyak, nyawa orang tetap berharga.

Dan menurut saya, pembunuh hampir selalu punya modus untuk membunuh korban. Sementara itu, koruptor tidak. Dia nggak pernah bermaksud untuk membunuh orang. Walaupun memang apa yang dia lakukan itu, punya dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya, banyak masyarakat Indonesia yang koar-koar hukuman mati buat koruptor, sementara itu kayaknya nggak banyak tuh, yang koar-koar tentang hukuman mati buat pemerkosa. Apalagi pemerkosa yang juga membunuh. Kalaupun ada, ya paling cuma segelintir. Hello, menurut saya sih, pemerkosa itu penjahat paling hina, yang pantas dikasih penderitaan seumur hidup, dan penyiksaan.

Dalam pemerkosaan, ada elemen relasi kuasa yang kuat dari pemerkosa terhadap korban. Relasi ini juga melibatkan tubuh, terutama kelamin. Bukannya tubuh dan kelamin itu hak asasi manusia paling utama ya? Betapa hinanya orang yang memaksa orang lain buat menggunakan tubuhnya, untuk hal yang orang tersebut tidak inginkan. Segala sebutan rendah buat manusia kayaknya nggak cukup untuk menggambarkan hal ini.

Terlebih, kalau korbannya di bawah umur. Mereka yang belum memahami betul tentang tubuh mereka, dan masih sangat sensitif terhadap rasa sakit. Anak kecil aja, dinakalin temennya aja, rasanya sudah sedih. Apalagi kalau tubuhnya dilecehkan. Pemerkosa itu, dalam kasus ini memanfaatkan ketidaktahuan dan keluguan sang anak. So, what did he/they do? Pertama, pemaksaan. Kedua, pelanggaran hak asasi. Ketiga, memanfaatkan ketidaktahuan. Keempat, menggunakan tubuh sebagai media.

Demi Tuhan, kalau saya jadi pemimpin, saya nggak akan langsung menjatuhkan hukuman mati untuk orang biadab semacam itu. Yang jelas, saya akan bikin dia menderita terlebih dahulu, dan bikin dia mati dalam penderitaannya itu. Terdengar nggak manusiawi? Ya, memang, ngapain juga jadi manusiawi sama seseorang yang udah nggak jadi makhluk hidup?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe