Kebanggaan Berbahasa di Luar Bahasa Satu, Bahasa Indonesia

16.52



Agak panjang memang judul kali ini saya tulis. Dan mungkin bagi beberapa orang, terkesan seperti memplesetkan Sumpah Pemuda, yang diperingati pada 28 Oktober ini. Namun tanpa perlu riset mendalam pun, sebetulnya banyak pemuda kita ysng mengaku bangga berbahasa lebih dari satu. Termasuk saya, sebetulnya. Kemampuan untuk berbahasa lebih dari satu memberikan sebuah kapital budaya sekaligus simbolik yang membuat kita terlihat intelek di hadapan orang lain.

Namun bahasa sebetulnya adalah jembatan untuk mempermudah proses komunikasi. Maka dari itu, kita belajar bahasa lain selain Bahasa Indonesia. Tentunya agar kita dapat menjalin hubungan tak hanya dengan Orang Indonesia, namun juga masyarakat dari negara lain.

Sayangnya, seringkali saya melihat beberapa orang Indonesia, yang fasih berbahasa Indonesia, mengobrol dengan bahasa asing, tidak hanya sebagai sisipan tapi sebagai bahasa utama. Di tempat umum. Sebetulnya itu hak mereka, sih. Namun bukankah "bahasa sebagai jembatan untuk berkomunikasi" jadi kehilangan maknanya saat kita, orang Indonesia asli, yang berbahasa ibu Bahasa Indonesia, berbicara bahasa asing dengan orang Indonesia asli lain, dengan bahasa ibu Bahasa Indonesia?

Mungkin kalau mereka sedang mempraktekkan bahasa lain untuk belajar, atau untuk tujuan memperbincangkan sesuatu agar tak diketahui orang lain, saya masih maklum. Saya pun juga sering seperti itu. Namun beberapa waktu lalu, ada satu momen yang menurut saya menggelikan. Jadi, saya menghadiri sebuah acara seminar, di mana Project Officer seminar tersebut adalah seseorang yang sudah berulang kali mengikui forum di luar negeri. Dan dia amat fasih berbahasa Inggris. Namun wajahnya, wajah Indonesia asli, dengan pengucapan Bahasa Indonesia yang lancar.

Tak lama kemudian, datanglah seorang presenter yang wajahnya sudah tak asing lagi. Dia terkenal cerdas dan sangat fasih berbahasa Inggris. Tapi bukan berarti sia tak bisa berbahasa Indonesia. Dan entah mengapa, dia dan Project Officer acara tersebut berdialog panjang dengan Bahasa Inggris. Padahal keduanya baru berkenalan di sana, dan sebetulnya komunikasi akan lebih lancar terjalin bila mereka menggunakan bahasa ibu mereka, Bahasa Indonesia.

Apakah saya terlampau "nyinyir", mempermasalahkan hal tersebut? Mungkin. Lagipula, sebelumnya saya sudah kesal terlebih dahulu karena presenter terkenal tersebut seolah diutamakan, dan diberi kesempatan untuk absen terlebih dahulu, padahal kami sama-sama peserta (posisi dia di sana bukan sebagai seseorang yang diundang). Tapi, sungguh menggelikan mendengar dua orang Indonesia, dengan heboh berbicara dalam Bahasa Inggris secara utuh. Baru berkenalan. Ya, kesannya seperti membuat nuansa bahwa "oh gue dan dia eksklusif, ngobrol aja pake Bahasa Inggris".

Padahal dipikir-pikir, negara seperti Prancis dan Jepang saja, memiliki banyak penduduk yang tak bisa berbahasa Inggris, dan meskipun itu bukan hal yang bisa dibanggakan, tetapi setidaknya, mereka tetap bangga dengan negara dan bahasanya. Bahkan pernah ada seorang kenalan, yang sedang berbelanja di sebuah toko di Prancis, bertanya begini pada penjual di sana "How much does it cost?". Dan kemudian dijawab oleh sang penjual dengan kalimat begini:
"Vous parlez anglais, vous sortez" (kalau kamu hanya bisa berbahasa Inggris, lebih baik pergi saja).

Hmm, mungkin memang tidak sopan, tapi kalau dibandingkan dengan beberapa di antara kita yang lebih bangga dengan bahasa negara lain, entahlah, rasanya lucu saja.

Sumber foto: Buzz Feed Life

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe