Investasi, Hal Asing di Indonesia?

22:34



Belakangan ini, investasi tak hanya menjangkau kalangan atas saja, tetapi juga kalangan menengah ke bawah, dengan produk investasi pemula seperti reksa dana dan pasar uang. Meskipun tidak menjanjikan keuntungan sebesar saham, tetapi resiko yang ditawarkan jauh lebih rendah ketimbang saham.

Sayangnya, tingkat investasi masyarakat Indonesia masih rendah. Bahkan, di kalangan pekerja pun, hanya 1% yang memilih untuk berinvestasi. Padahal tidak sedikit pekerja yang paham internet, dapat mengakses informasi secara maksimal, dan berpendidikan cukup. Lalu apa saja faktor yang membuat masyarakat Indonesia kurang meminati investasi?

1. Tidak berani mengambil resiko
Berbeda dengan menabung, ada dua pilihan yang akan kita temui bila berinvestasi: mendapat tambahan uang, atau kehilangan uang. Dan masyarakat kita cenderung suka main aman. Investasi dinilai berbahaya, dan membutuhkan proses berpikir yang lebih rumit ketimbang menabung.

Padahal, menabung tidak akan menambah uang Anda. Uang Anda hanya akan "beku", atau malah berkurang karena kebutuhan-kebutuhan mendadak

2. Kurangnya pengetahuan
Banyak orang di Indonesia yang menganggap bahwa investasi membutuhkan dana yang besar. Padahal, sekarang sudah ada investasi untuk pemula, seperti Pasar Uang dan Reksa Dana, dengan modal mulai dari Rp 100.000,00.

Untuk itu, bagi Anda yang ingin berinvestasi, tapi tak memiliki banyak modal, atau bagi Anda yang baru akan mempelajari investasi, Anda dapat mendatangi Bank-Bank yang menawarkan jasa reksa dana, atau ke lembaga resmi seperti Dana Reksa, sekadar mencari informasi, atau memulai investasi pertama Anda.

3. Kurang sabar
Investasi memang menjanjikan keuntungan menggiurkan, tentunya, dengan kesabaran. Masalahnya, banyak masyarakat Indonesia yang menginginkan hasil instan. Padahal, investasi dapat menghasilkan keuntungan yang besar, bila dilakukan dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Selain itu, kita juga malas untuk menganalisis investasi mana yang kira-kira nilainya akan baik, mana investasi yang kurang baik, atau mencari informasi tentang bagaimana cara berinvestasi. Maka tak heran bahwa banyak di antara kita yang terjebak tawaran passive income yang too good to be true, seperti MLM misalnya.

Sumber foto: wallpaperswide.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe