Bercerita Tanpa Banyak Bicara

17.43

Beberapa waktu lalu, koran Republika menerbitkan sesuatu yang unik: edisi kabut asap. Mengapa disebut unik? Saat media lain sibuk membahas siapa yang berperan di balik kabut asap, dan mengapa hal itu terjadi, Republika sekadar menyentil kejadian itu lewat koran yang cetakannya buram, seolah seperti kehabisan tinta. Disertai keterangan kecil di sudut kiri bawah yang berbunyi "Ketika ditutupi dengan asap, semua berita menjadi sulit untuk dibaca.” Dan bagi yang tidak memperhatikan tulisan tersebut, pastilah akan mengira bahwa edisi tersebut cetakannya tidak sempurna.

Sontak, hal itu menjadi perbincangan tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga maya. Topik itu pun menjadi viral. Saya, yang biasanya skeptis dengan berbagai kritik dan produk media lain pun, kini angkat jempol untuk Koran Republika edisi kabut asap.

Mengapa? Saya selalu suka dengan konsep "bercerita tanpa banyak bicara". Dan koran itu dengan cerdas menggambarkannya. Tidak perlu menggunakan gambar yang penuh sindiran berlebihan, yang alih-alih lucu, malah membuat kita kesal. Atau segala tendensi gamblang untuk menyalahkan pemerintah.

Yah, walaupun memang, pemerintahan yang sekarang sedang berjalan jelas bukan pemerintahan yang saya pilih saat Pemilu dulu, tetapi saya muak dengan kritik yang bentuknya banal. Yang berlagak cerdas dengan sederet kata-kata panjang, padahal tidak ada isinya sama sekali.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe