Tentang Kita dan Sejarah

09:01


Semalam, saya menonton sebuah acara diskusi yang dibuat untuk memperingati 30 September 2015. Tentu saja, diskusi tersebut sudah dapat ditebak akan seperti apa. Penuh dengan debatan sengit dan kutipan-kutipan yang mempertanyakan kejujuran sejarah. Pasalnya, segala hal yang berkaitan dengan PKI tak hanya rumit, tapi juga sensitif. Terlebih, Indonesia adalah negara berasas Ketuhanan. Komunis, yang berakar pada pemikiran "agama adalah candu (dalam konotasi buruk)", pastilah dianggap menciderai pemikiran tentang Yang Maha Esa.

Tapi luka itu bukan hanya milik mereka yang membenci partai tersebut. Luka itu, juga dirasakan oleh anak-anak, yang mau tidak mau dilahirkan dari ayah atau ibu yang seorang partisipan PKI. Salah satu kawan Ibu saya, yang bapaknya adalah orang PKI, tak sempat melihat Bapaknya, karena saat dia berusia 6 bulan, Bapaknya diasingkan ke Pulau Buru. Hal yang cukup untuk membuat luka.

Masalahnya, saya melihat banyak di antara kita yang melihat kejadian tersebut dalam konteks hitam putih. Tak apa-apa kalau kita sempat hidup di era tersebut. Yang saya sayangkan, banyak orang yang hanya mempelajari G30SPKI dari sejarah, dan membuat kesimpulan hitam-putih yang begitu menghakimi. Tak hanya menghakimi PKI, tapi juga pihak lain seperti TNI. Juga pemerintah.

Okelah, sejarah mencatat banyak hal. Tapi sejarah tetaplah cerita. Tak semua bukti sejarah menceritakan hal-hal yang benar. Banyak yang tidak kita ketahui pasti, tak sesuai kita pikirkan. Metode penelitian paling mutakhir pun tak dapat menghilangkan unsur rekaan dalam sejarah.

Saya merasa muak dengan mereka yang sok tahu. Baik yang meminta negara untuk minta maaf, ataupun yang menghakimi bahwa keturunan PKI pastilah masih membawa ideologi tersebut. Mereka toh, hanya tahu lewat perkiraan. Mengapa mereka begitu yakin seolah melihat segala kejadian G30SPKI dengan mata kepala sendiri? Lantas mempertanyakan apakah sejarah banyak berbohong, dan mengatakan dengan gamblang bahwa sejarah milik yang menang? Dari mana mereka bisa tahu bahwa sejarah berbohong?

Begitulah. Saya rasa sudah terlalu banyak manusia di negara ini yang tidak betul-betul tahu apa yang mereka bicarakan. Termasuk isu-isu sensitif. Mereka merasa bahwa sekadar ilmu dan kecerdasan yang mereka miliki dapat membuat sejarah mampu berbicara jujur dan lantang. Tapi sejarah tetaplah sejarah. Ia cerita yang dianggap nyata. Tapi bukankah cerita akan kehilangan orisinalitasnya bila diturunkan terus-menerus?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe