Shut Up Your Mouth

20.26



Frasa ini mungkin sering berlalu-lalang di benak orang-orang skeptis yang tinggal di Indonesia. Termasuk saya. Bukannya tidak nasionalis, tetapi memang begitu kenyatannya. Orang kita terlalu banyak bicara. Tetapi kebanyakan dari mereka asal bicara dan tidak punya prinsip.

Apalagi dengan adanya sosial media. Pembicaraan jadi mudah terarsip dan makin sekenanya. Di sosial media, orang-orang merasa punya alter ego yang bisa mewakili sisi terburuk mereka. Jadi ya jangan heran kalau banyak pembicaraan buruk berkeliaran di sosial media. Dan sejauh yang saya tahu, di Indonesia. Pengguna internet di Indonesia banyak. Tapi banyak pula yang naif lalu bicara sekenanya.

Bicara tentang apa saja? Kira-kira, mungkin tentang ini.

1. Tentang Politik
Masih ingat kan dengan jargon "salam dua jari" dan "akhirnya milih jokowi"? Saking enegnya dengan hal-hal semacam itu, saya sampai memblokir beberapa akun kawan saya. Juga menghindar dari beberapa teman kuliah dan kantor magang karena mereka kelewat menuhankan orang yang sekarang jadi presiden.

Soal presiden, jangan salah. Banyak orang Indonesia bisa tiba-tiba jadi pengamat politik kalau sudah membicarakan presiden. Seolah mereka tahu semua jejak rekam presiden. Tak hanya saat pemilu, tapi juga saat ini, ketika ekonomi sedang melemah. Banyak yang mengganti salam dua jari menjadi salam gigit jari. Dan lucunya, yang nyinyir seperti itu adalah mereka yang dulu mati-matian membela.

Tak hanya itu saja. Baru saja saat Kabareskrim bertukar posisi dengan Kepala BNN, banyak pihak yang sebelumnya menghujat Kabareskrim karena masalah KPK, beralih jadi mendukung. Hanya karena isu kalau dia dipindah karena bermaksud membongkar kasus kakap. Lucu sekali, labilnya betul-betul bisa disandingkan dengan labil asmaranya Anak Baru Gede.

2. Tentang Sosialita
Sosialita berada pada kelas sosial yang sulit dijangkau (oleh masyarakat menengah seperti kita). Tetapi jangan salah, banyak kalangan menengah yang (seolah) lekat dengan mereka. Entah dari mana mereka tahu skandal sosialita ini bersama sosialita itu, seperti apa permainan uang si konglomerat ini dan itu. Berapa hektar tanahnya di Singapura. Semacam itu.

Membicarakan skandal sosialita memang biasa. Yang tidak biasa adalah ketika banyak kalangan menengah yang begitu mendewakan sosialita dan menganggap mereka tidak pantas bersanding dengan manusia biasa. Saya ingat sekali saat banyak orang menghujat pacar baru RM, cucu seorang konglomerat Indonesia, hanya karena ia (sepertinya) tidak sekaya keluarga RM yang memang masuk 20 besar orang terkaya Indonesia. Padahal, pacar barunya itu juga dari kalangan berada, meski tidak masuk 20 besar.

Kalau dipikir, hal tersebut membuat kita jadi lebih sulit bersyukur. Karena, tolok ukur kaya mereka hanya diukur dari angka saja. Angka 10, 20 besar, dan rangking lainnya. Padahal, definisi kaya bukanlah sekadar menjadi tokoh yang terpampang di Forbes.


3. Tentang Agama
Ini sebetulnya tidak perlu dijelaskan. Kalau sudah menyangkut dosa orang, banyak masyarakat kita yang mendadak jadi uztadz. Entah memang ingin mengingatkan, atau malah senang karena bisa menghakimi. Well, sudah watak dasar memang kalau manusia gemar melihat kesalahan orang lain.

Tapi yang memuakkan adalah ketika mereka sok suci dengan serangkaian ayat dan dengan keras menyebutkan halal haram, di depan khalayak ramai pula. Padahal semua agama mengajarkan untuk tidak membuka aib orang. Apalagi dengan kedok agama.

4. Tentang Rakyat Kecil
Banyak orang yang suka membawa-bawa rakyat kecil saat berdebat. "Kasian rakyat kecil", begitulah yang sering mereka ucapkan. Padahal kenyataannya, mereka juga tak peduli-peduli amat dengan rakyat kecil. Mungkin juga zakat lupa dibayar. Tapi memang paling enak mengeksploitasi rakyat kecil dalam setiap permasalahan. Terutama masalah pemerintahan dan ekonomi.

Apalagi ketika dolar naik hingga kisaran 14.000 seperti saat ini. Makin sering saya mendengar rakyat kecil disebut-sebut. Yah, memang hanya disebut saja, karena dibantu ya mungkin tidak.

Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe