Human Beings Are Ruthless Animals

10.00


Indeed, we are animal! Tidak percaya? Tanyakan ahli biologi. Kita memang masuk dalam kingdom animalia. Tapi memang dengan kecerdasan tinggi.

Hanya saja, kita memang binatang paling buas. Yap, kita bisa bilang kalau buaya paling kejam, hyena paling sadis, dan kalajengking paling mematikan. Tapi soal buas, tidak ada yang mengalahkan keinginan kita. Binatang lain membunuh untuk makan, tapi kita membunuh untuk ego. Tidak sekadar membunuh, bahkan banyak hal yang lebih kejam daripada sekadar pembunuh.

Yang pertama, kelompok. Beberapa hewan, misalnya, seperti gajah dan meerkat, memang punya kelompok. Tapi banyak dari kita yang berkelompok bukan karena berasal dari habitat yang berdekatan. Namun karena warna kulit, kasta, dan sebagainya. Do you remember the case of Ahmed, an American-student whom his teacher accused him for being a terrorist, karena membawa jam buatannya sendiri. That's called racist. Mengapa, karena hanya karena dia keturunan Arab, maka banyak orang yang mengidentikkan dia dengan terorisme.

Kita orang yang paling menentang perbedaan. Tapi jauh dalam lubuk hati, kita menilai orang dari perbedaan. Betapa ironis, bukan?

Yang kedua, reputasi. Hewan, sekali lagi, membunuh karena lapar. Kita tidak hanya karena lapar, tapi juga reputasi. Banyak yang ingin menghancurkan dan membunuh sesama hanya untuk menjaga reputasi. Dan yang dibunuh bukan sekadar raga. Tapi ya, reputasi orang lain. Mengerikan, ketika sesuatu yang ingin kita hancurkan betul-betul tak kasat mata.

Yang ketiga, megalomania. Dalam banyak hal, kita menganggap kita paling sempurna. Memang itu betul. Kita jauh lebih cerdas ketimbang hewan lain. Ketimbang makhluk lain. Tapi bukan berarti kita meniadakan eksistensi mereka. Bahkan, dalam eksistensialisme ala Sartre, disebutkan bahwa hanya manusia yang mengada untuk dirinya. Sementara itu hewan tidak. Begitukah? Bagaimana bila makhluk lain bereksistensi dengan caranya sendiri?

Dan yang terakhir, virus. Bagi kalian yang pernah menonton The Matrix, pastilah tidak asing lagi dengan kata-kata dari Agen Smith: I'd like to share a revelation that I've had during my time here. It came to me when I tried to classify your species and I realized that you're not actually mammals. Every mammal on this planet instinctively develops a natural equilibrium with the surrounding environment but you humans do not. You move to an area and you multiply and multiply until every natural resource is consumed and the only way you can survive is to spread to another area. There is another organism on this planet that follows the same pattern. Do you know what it is? A virus. Human beings are a disease, a cancer of this planet. You're a plague and we (computers) are the cure.

Sementara hewan-hewan mencoba bersinergi dengan alam, kita sebetulnya cenderung memperbaharui, memodifikasi, yang beberapa di antaranya justru menyebabkan kerusakan. Sebetulnya tidak masalah. Karena tanpa adanya inovasi dari manusia, tidak akan ada penemuan-penemuan, dan Anda mungkin tidak akan membaca artikel ini. Tapi banyak inovasi yang kebablasan dan justru merusak. Kabar baiknya, mungkin alam bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Hanya saja, dia tidak mungkin bisa secara total menyembuhkan sakit yang terus-menerus menyerang, bukan?
Jadi, masih percaya kalau ada hewan yang lebih buas daripada manusia?

Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe